Beranda Daerah Budayawan dan Seniman Malang Turut Prihatin dengan Kondisi Balai Wartawan

Budayawan dan Seniman Malang Turut Prihatin dengan Kondisi Balai Wartawan

147
0
BERBAGI
alterntif text

Malang raya, akuratnews.com – Budayawan turut ambil bagian dalam renungan di depan gedung balai wartawan yang di selenggarakan oleh AMATI. Minggu (27/8)

Budayawan asal Malang KhiJati, yang pernah merasakan suka dan duka menjadi seorang jurnalis dan seniman pelawak mengatakan bahwa wartawan sangat penting peranannya terhadap kemajuan bangsa.

“Untuk karir seseorang pun wartawan punya andil besar, hal itu di buktikan dari pengalaman hidup say sendiri saat ‘ngamen’ menjadi pelawak,” ungkap Kh Jati sambil mengenang masa lalunya.

Menurutnya, tanpa peran media tidak mungkin mungkin ia dan keempat temannya yang tergabung dalam ‘Kuarted S’ (salah satu group pelawak asal Kota Malang) bisa melenggang sampai Jakarta.

Ia juga menuturkan peran wartawan pada jaman perjuangan juga sangat berpengaruh.

“Dulu Bung Karno dalam memperjuangkan negara Indonesia banyak sekali karya tulisnya yang di publikasikan oleh wartawan melalui radio dan koran, yang digunakan sebagai alat untuk memberikan semangat kepada rakyat untuk berjuang sehingga akhirnya tercapai kemerdekaan,” tuturnya

“Saat ini seharusnya sebagai generasi muda khususnya wartawan tetap membawa semangat perjuangan untuk membangun bangsa.” imbuhnya

Sebelum ditutup dengan do’a Sony salah satu seniman sastra yang berasal dari Kota Malang yang juga turut peduli dengan kondisi Balai Wartawan tersebut membacakan puisi yang berjudul “Ping Pong”.

“Ping pong sendiri memiliki makna mendalam mulai kondisi hukum, pendidikan, budaya sampai birokrasi yang terkesan ruwet dan carut marut mulai dari pusat sampai daerah.” paparnya

Kita lihat saat ini masyarakat saat mengurus KTP saja di persulit di “ping-pong” kesana kemari maksudnya di suruh ngurus kesana kemari tidak efektif.

Pengusaha ingin mendirikan usaha baru mengurus ijin harus membayar pungli kesana kemari.

“Sedangkan di negara maju seperti Jepang dan Australia dimana pengusaha di berikan kebebasan untuk tidak membayar pajak baru setelah satu tahun usaha dia diwajibkan membayar,” tuturnya.

“Itulah mental “ping-pong” yang dimiliki bangsa Birokrasi Bangsa Indonesia saat ini,” kata Sony.

Ia berharap agar kasus balai wartawan ini cepat selesai dan dapat difungsikan kembali sebagai mana mestinya.
(Rmn)

alterntif text

LEAVE A REPLY