oleh

DPR Minta Pemerintah Cari Strategi Baru Dalam Mengatasi Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Jakarta, Akuratnews.com – Pemerintah diminta untuk mencari solusi atau strategi baru dalam mengatasi melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Sebab, pelemahan Rupiah saat ini tidak bisa dilakukan dengan cara hal yang biasa.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Achmad Hafiz Thohir, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (04/07/18). Menurutnya, perekonomian Indonesia akan semakin sulit jika Pemerintah menanggapinya dengan cara biasa.

“Seharusnya menteri-menteri perekonomian RI tidak boleh menyikapi penguatan Dolar kali ini hanya dengan aksi yang biasa-biasa saja. Harus ada action plan yang diluar dari biasa-biasa saja,” kata Hafiz.

Meski Bank Indonesia (BI) sudah sesuai on the track, kata Hafiz, hal itu tidak cukup untuk membenahi dan memperkuat perekonomian di tanah air.

“Akan tetapi upaya BI saja belumlah cukup. Karena upaya-upaya tersebut harus langsung disertai dengan kebijakan pemerintah berikutnya , yang pro kepada penguatan nilai tukar Rupiah baik dari sisi Makro maupun pada sektor Mikro,” katanya.

Menurutnya, Secara makro ekonomi pemerintah belum berhasil mengatasi defisit selama 3,5 tahun terakhir. Hal itu terlihat dari current account yang selalundefisit.

Sementara itu sektor mikro ekonomi, pelaku bisnis dan jasa industri belum juga menunjukkan daya saing yan menguat. “Di samping itu, ekspor masih lemah, Industri manufaktur juga masih lemah. Justru banyak industri tutup bahkan pindah negara,” terangnya.

Hafiz menambahkan, komponen ekspor memiliki kandungan impor melebihi dari 50 persen sehingga setiap ekspor maka kita otomatis melakukan impor 50 persen pula sebagai bahan baku produk export tersebut. Sehingga belanja dollar menjadi tinggi.

Dari sisi kepercayaan luar negeri yang sudah baik, kata Hafiz, justru belum berjalan efektif. Sebab, sampai kini modal yang masuk sebagai PMA ataupun pada Portofolio belum sukses menambah capital untuk mesupport pembiayaan pembangunan pada beberapa sektor sehingga APBN jadi terasa berat karena harus ikut membiayai infrastruktur.

“Kebijakan seperti ini tentu akan menguatkan Dolar (alias melemahkan nilai tukar rupiah) sepanjang arus modal belum bisa berkontribusi pada gerakan menumbuhkan ekonomi RI,” ucap Hafiz.

Selain itu, pemerintah menggenjot produk ekspor sebagai upaya menutup defisit neraca perdagangan.

“Selanjutnya, data saing harus diperkuat dan diperbaiki. Insentif kepada sektor usaha yang pro pada export, mencarikan solusi untuk memperkuat industri manufaktur. Hal lain yang harus dilakukan adalah mengevaluasi kebijakan devisa bebas dan terakhir harus kuat dan solid koordinasi antar kementerian khususnya bidang ekonomi,” tegasnya. (Red)

Komentar

News Feed