oleh

Frekuensi Letusan Gunung Agung Menurun Drastis

Jakarta, Akuratnews.com – Setelah hampir 24 jam aktivitas vulkanik Gunung Agung mengalami peningkatan letusan, frekuensi letusan menurun drastis. Demikian hasil pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kepala Badan Geologi ESDM Rudy Suhendar mengatakan erupsi pertama terjadi pada Rabu (27/6) pukul 22.00 Wita yang membuka rekahan di dasar kawah menjadi lebih besar. Rekahan tersebut menjadi jalan terjadinya erupsi berkelanjutan hingga pukul Kamis (28/6) pukul 12.00 Wita. Namun, sejak Jumat (29/6) pukul 01.00 Wita, frekuensi erupsi Gunung Agung sudah menurun drastis

“Frekuensi dan amplitudo letusan Gunung Agung telah menurun drastis. Masyarakat diminta untuk tetap tenang karena letusan embusan yang terjadi tidak serta merta meningkatkan status Gunung Agung tersebut,” kata Rudy di Jakarta, Jumat (29/6).

Rudi menuturkan intensitas emisi abu teramati mengalami penurunan ditunjukkan dengan warna asap yang teramati dominan berwarna putih. Penurunan intensitas emisi abu mengindikasikan bahwa sistem telah terbuka. Embusan asap putih yang masih teramati saat ini berasal dari aktivitas efusi lava.

Dia mengungkapkan fenomena emisi gas dan abu yang terjadi secara menerus dari kemarin hingga saat ini merupakan bagian dari erupsi yang terjadi secara efusif, berupa aliran lava segar ke dalam kawah (pertumbuhan kubah lava). Laju penambahan volume lava belum dapat diketahui dan masih menunggu informasi dari citra satelit.

“Berdasarkan analisis data secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini aktivitas Gunung Agung masih berada dalam level 3 (Siaga),” ujarnya.

Rudi meminta masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas di zona perkiraan bahaya di seluruh area di dalam radius empat kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Masyarakat/wisatawan di sekitar Gunung Agung juga diimbau senantiasa menyiapkan masker pelindung untuk mengindari potensi ancaman bahaya abu vulkanik bagi kesehatan.

Rudi juga meminta masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar yang dapat terjadi, terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

“Masyarakat agar tetap tenang, tetapi tetap menjaga kesiapsiagaan karena aktivitas Gunung Agung belum kembali normal,” ujarnya.

Badan Geologi melalu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan terus memonitor aktivitas Gunung Agung untuk mengevaluasi potensi ancaman bahaya erupsi antar waktu. Jika terjadi perubahan yang signifikan maka status aktivitas Gunung Agung atau pun rekomendasinya dapat dievaluasi kembali.

Komentar

News Feed