oleh

Garuda Indonesia Merugi Ratusan Miliar, CBA Kritisi Peran Kementerian BUMN

Jakarta, Akuratnews.com – Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menilai pentingnya optimasi pengawasan dari kementerian BUMN terhadap tata kelola Garuda Indonesia.

“Ya pengawasan-dalam hal ini kementerian BUMN, Bu Rini. Ya harus lebih diperketat,” kata Jajang kepada Akuratnews.com, Jumat (11/05/2018).

Jajang memaparkan, perusahaan maskapai penerbangan milik negara itu ditaksir mengalami kerugian hingga 2 triliun rupiah pada akhir tahun 2017 dan USD 67.572.839 atau setara dengan Rp 878.446.907.000 pada akhir Maret 2018.

Penyebabnya, Jajang menduga, adalah ketidakmampuan jajaran direksi dalam mengelola Garuda Indonesia sehingga perusaahaan nasional itu mengalami penurunan angka penumpang dari tahun ke tahun.

Data CBA menyebutkan, dalam kurun waktu 2014 – 2015 pertumbuhan penumpang Garuda Indonesia menurun ke angka 3.821.750 orang dari 4.174.038 orang pada periode 2013 – 2014. Tren penurunan angka penumpang ini terus berlanjut ke periode 2015 – 2016, dimana garuda hanya meraup angka 2.038.820 orang penumpang.

“Mungkin bisa dievaluasi lagi untuk bagaimana yang mengisi jabatan jabatan direksi itu ya memang orang tepat-yang kredibel,” kata Jajang.

Lagi pula, menurut Jajang, gaji seorang direksi Garuda Indonesia sebesar 1,7 miliar rupiah yang dibayarkan oleh negara menurut data tahun 2016, tidak sepadan dengan potret kerugian Garuda saat ini.

“Di BUMN itu kan memang gaji (pendapatan direksi-red) itu sesuai kinerja ya, kemudian ada tunjangan-tunjangan. Sah-sah aja tapi ya tak elok lah, masa saat merugi gini kok gajinya tinggi,” ujar Jajang.

Lebih lanjut, Jajang berharap pemerintah segera melakukan evaluasi serius agar Garuda Indonesia tak melanjutkan tren terjun payungnya.

“Ya kita sih pengennya, Garuda Indonesia itu bangkitlah. Jangan kalah sama maskapai-maskapai lain,” tutup Jajang. (Mdz)

Komentar

News Feed