Beranda Daerah Gas Melon Langka Warga Tanjungsari Bogor Masak Pakai Kayu Bakar

Gas Melon Langka Warga Tanjungsari Bogor Masak Pakai Kayu Bakar

97
0
BERBAGI
alterntif text

Tanjung Sari, Akuratnews.com – Kelangkaan elpiji (LPG) 3 kilogram atau gas melon belakangan ini, membuat warga di wilayah Sinarsari, Kecamatan Tanjung sari, Kab Bogor mulai kembali beralih mempergunakan kayu bakar. Mereka mengandalkan kayu bakar untuk keperluan memasak setiap harinya.

Di antara warga yang beralih mempergunakan kayu bakar sebagai pengganti LPG yakni Sukarsih warga Rt 05/RW 03 Sinarsari. Kompor gas miliknya sudah 2 bulan terakhir ini tidak digunakan. Untuk memasak, dia membuat dua tungku sederhana yang dibuat dari susunan bata merah.

“Sudah 2bulan ini saya pakai kayu bakar. LPG 3 kilogram langka, sulit ditemukan.dan harganya mahal, saya gak sanggup belinya, apalagi di wilayah yang cukup jauh dari jalan besar, kelangkaan semakin parah,” Ungkapnya kepada Akuratnews.com (24/12/16).

Pemakaian kayu bakar, katanya, lebih irit dibandingkan memakai gas. Alasannya karena di wilayah Tànjung sari persediaan kayu bakar masih melimpah. Hanya saja, lanjut Rastini, memasak di tungku kayu bakar, membutuhkan waktu lebih lama, dibandingkan memergunakan gas, pakai kayu reponya jika kondisi hujan kayunya lembab.

“Sebenarnya lebih cepat memasak dengan gas. Akan tetapi karena tidak ada barangnya (gas) ya kembali lagi pakai kayu bakar,” ujarnya. Tidak hanya dirinya, tetangga lain yang selama ini mengadalkan memasak dengan gas, juga beralih memakai kayu bakar.

Dia mengatakan di warung atau pengecer, harga gas 3 kilogram berkisar Rp 25.000. semakin jauh dari agen, harganya semakin mahal dan sulit didapat, kelangkaan gas hampir setiap hari.

“Sudah mahal sulit dicari akhirnya saya memilih kayu bakar,bukan cuma saya hampir semua tetangga beralih ke kayu bakar.

Lebih lanjut dia menambahkan apabila nantinya gas 3 kilogram tidak ada dan diganti dengan ukuran 5 kilogram, warga yang beralih memergunakan kayu bakar akan semakin banyak. Alasannya bagi warga harga gas 5 kilogram lebih mahal dibandingkan yang ukuran 3 kilogram.

“Kalau di desa, harga gas 3 kilogam saat ini memang masih bisa dibeli masyarakat itupun terpaksa. Yang ukuran 5 kilogram harganya pasti jauh lebih mahal, akan banyak warga yang tidak mampu beli,” ujarnya.

Terpisah Dede, penjual eceran gas 3 kilogram, mengungkapkan langkanya gas melon sudah berlangsung hampir 2 bulan. kelangkaan itu. disusul dengan beredarnya isu, gas 3 kilogram ditarik dan akan diganti dengan gas ukuran 5 kilogram.

“Beredar isu gas 3 kilogam langka, karena akan diganti yang 5 kilogram. Saya sendiri juga tidak bisa memastikan beredarnya isu tersebut. Kalau memang diganti, banyak warga yang tidak mampu, karena harganya jauh lebih mahal,” ujarnya. (Toro)

alterntif text

LEAVE A REPLY