Beranda Opini Indonesia Bukan Bangsa Kerdil

Indonesia Bukan Bangsa Kerdil

161
0
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Akuratnews.com – Politik itu seni, salah satunya mempengaruhi pemilih. Tujuannya untuk merebut kekuasaan. Parpol sekedar jadi alat untuk mencapai tujuan. Caranya dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan agitasi. Agitasi itu hasutan, disampaikan secara berapi-api. Tapi agitasi model apapun, tidak bisa dilakukan dengan cara “berbohong”. Berbohong akan sebuah eksistensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbohong bukan sesuatu yang menggairahkan (Erotic) dalam dunia politik dan demokrasi, tapi berbohong dengan mengorbankan sebuah esensi demokrasi yang lebih besar. Jika kebohongan model itu disebut pencabulan (Obscenity). Melancarkan agitasi tanpa visi yang terukur, tanpa berfikir masa depan sebuah tatanan, sebagai sisi lain dalam dinamika kehidupan manusia beradab. Antara erotik dan obscenity memiliki perbedaan.

Erotik (gairah) hal lumrah dalam dunia politik, menggairahkan pendukung, pemilih atau simpatisan dengan pesan-pesan politik, slogan. Dalam spektrum lain, dunia film misalnya, erotik biasanya terkontaminasi dalam thema-thema semisal; tragedi, komedi, satiris, absurd. Atau dalam bentuk ekspresi seni lain, seperti terlihat dalam karya Vatsayana (Kama Sutra), Alexander Pushkin (Gabrilliard), George Bataille (Story of the Eye), Mark Twain (1601), atau Marquis de Sade (Justine, or the Misfortunes of Virtue), menggairah bagi penonton. Erotik adalah salah satu unsur estetik dalam politik.

Tapi jika itu pencabulan politik, maka maknanya menjadi beda. Pencabulan berhubungan dengan insting purba yang dieksploitasi untuk kepuasan hewani, nir-refleksi, dan sama sekali tidak politis apalagi artistik. Berbohong, sama dengan menelanjangi diri atas bawah, karena adegan model ini hanya menampakkan sisi lain yang terbuka, merusak imajinasi, tatanan, sistem maupun peradaban.

Pencabulan dalam pandangan agama-agama difahami sebagai perbuatan dosa, maka pencabulan dalam dunia politik, kita sebut mewariskan dosa sejarah, telah mencemari sebuah tata nilai, peradaban yang tengah diperjuangkan.

Obscenity, oleh Plato disebut serba telanjang dan tidak memberi pemahaman yang melampaui pengalaman. Olehnya, orang-orang selalu menghindari pencabulan itu agar tidak terlihat di ruang publik. Pencabulan itu membunuh, merusak dan menistakan kehidupan, berbeda dengan erotik yang mengairahkan kehidupan (spirit of life). Pencabulan adalah perilaku aib yang mengubur peradaban. Olehnya, pencabulan politik adalah hal merusak dan menjadi aib untuk publik, dilarang untuk ditokohkan disepanjang abad.

Negeri ini selalu mengeluarkan lahar panas, kepanikan dan ketegangan. Negeri ini selalu membuat anak-anak negeri yang ia lahirkan begitu panik. Ini peperangan politis dan psikologis, hati-hati dengan segala bentuk operasi dengan mengubah wajah. Operasi dengan mengorganisasi sebuah satuan tugas khusus untuk menyerang secara politis dan psikologis, realitas itu sedang melanda negeri ini.

Dari pengalaman negeri Kuba, bagaimana dinas rahasia itu beroperasi dengan mengubah wajah mereka yang sesungguhnya. Helms, yang dipercaya oleh dinas rahasia itu menimbang satu gagasan propaganda yang manis, gagasan itu berupa sebuah trik propaganda: seorang agen Kuba kemudian dilatih dan akan muncul di pantai Istambul, mengaku sebagai tahanan politik yang baru saja melompat dari kapal Soviet. Dia akan mengatakan bahwa Castro sedang memperbudak ribuan warganya dan mengirimkan mereka ke Siberia.

Rencana itu kemudian dikenal dengan ”The Dripping Cuban”. Trik propaganda politis, sabotase, tindakan perang ekonomi sampai pada rencana menggunakan sejenis obat yang jika ditaruh kedalam makanan akan membuat setiap orang bertingkah laku sangat tidak rasional sehingga memunculkan dimuka umum bisa membawa dampak sangat merusak baginya.

Dalam berbagai rapat, Jendral Andrew Goodpaster selalu memberi peringatan atas pesan Presiden ”Persoalan serius adalah kebocoran dan keamanan, setiap orang harus siap untuk bersumpah untuk mendengar hal itu. Tangan kita jangan sampai terlihat dalam apa saja yang dilakukan”. Sesuai dengan anggaran dasar Dinas Rahasia, semua aksi rahasia memerlukan kerahasiaan yang sangat aman sehingga tidak ada bukti yang melibatkan Presiden. Namun sang Jendral itu ingin meyakinkan bahwa agen rahasia itu telah melakukan yang terbaik agar yang satu ini tetap menjadi rahasia (Winner/2002).

Untuk negeri ini, sebaiknya “jangan”, karena tidak mendidik sejarah bangsa, jika ingin mempertahankan citra positif, menyembunyikan kesalahan yang diperbuat, menggulingkan orang yang tidak sepaham dengan kita, masih ada jalan lain yang lebih manis.

Situasi negeri ini, oleh sebagian pihaknya menyebutnya perang dingin, dan sebagiannya lagi menduga negeri ini dalam keadaan bahaya. Yang berhak menyampaikan negeri ini dalam keadaan bahaya adalah Penguasa. Jika negeri sudah terancam bahaya maka dalil penindasan menjadi benar. Jika penindasan berjalan, maka harkat dan martabat manusia akan dipandang lebih rendah dari kambing. Masa lalu bangsa ini telah menggariskan demikian. Jangan mengulangi masa lalu yang salah.

Bangunlah negeri ini dengan cinta. Cinta membuat segalanya menjadi sejuk, tanpa teror, tanpa pengkhianatan. Saat ini kita berharap, kita tidak bisa mempertahankan sifat tidak mendidik kepada warga bangsa dengan mengorbankan sejarah bangsa yang besar ini. Kita berharap, diarus bawahpun kebencian bisa lepas, dan kemudian hilang, tenggelam. Kita berharap, rendah diri, hindar dari aroma dendam yang berujung pada penindasan. Mengelolah negeri yang besar ini tidak sama dengan mengelolah sebuah kebun binatang. Masih banyak cara merebut kekuasaan politik dengan jalan santun, tanpa harus membunuh lawan dengan sadis, tanpa membuat arus bawah harus perang, tanpa melahirkan dendam pada anak bangsa.

Olehnya setiap pernyataan politik dari para elit harus lebih visioner. Tidak asal agitasi / hasutan, setiap pernyataan politik perlu ada muatan untuk kepentingan bangsa ini. Pernyataan politisi Nasdem, Viktor Laiskodat yang menjadi viral saat ini difahami sebagai bahagian dari propaganda politik.

Tapi dalam agitasi Viktor Laiskodat, difahami untuk membunuh lawan politik Nasdem dalam hajatan politik lokal, pemilihan Gubernur NTT di 2018 yakni Beny K Harman dari Demokrat, dll yang tengah beranjak naik dipasar politik, tapi pernyataan itu sama sekali tidak menguntungkan Indonesia dan demokrasi.

Harapan kita, sebagai politisi sebaiknya memahami politik. Politik itu luas dan mendalam. Jika seorang politisi tidak memahami politik, maka ia sekedar aksesoris. Dari serangkaian agitasi politik dari politisi Viktor Laiskodat, kesan begitu kabur, tidak ada muatan untuk Indonesia untuk lebih baik.

Saya bangga dengan pak Jokowi, Presiden kita. Menjadi sebuah icon menarik, perbenturan ide dan kekuasaan saat ini. Kita tentu berpesan kepada Pak Jokowi agar jangan mengulangi dosa masa lalu, jangan menanam sejarah yang salah buat negeri ini, dosa harus membuat kita semakin dewasa, bukan semakin kerdil dihadapan anak negeri sendiri dan bangsa lain, Indonesia bukan bangsa kerdil.

Penulis Oleh: Akhmad Bumi

alterntif text

LEAVE A REPLY