oleh

Jaringan ’98 Desak KPK Proses Sejumlah Nama Terkait Korupsi e-KTP

Jakarta, Akuratnews.com – Jaringan ’98 meminta Komisi Pemberantasan Korupsi segera melakukan proses hukum kepada sejumlah nama yang disebut-sebut terlibat dalam mega korupsi e-KTP.

“Data info yang berkembang sudah jelas kok. Banyak elit nasional lainnya yang diduga terlibat dalam e-KTP tapi hingga sekarang masih santai lenggang kangkung saja,” kata Juru bicara Jaringan ’98, Ricky Tamba melalui pesan elektronik kepada media, Jumat (25/05/2018).

Ricky kemudian menyebut beberapa nama yang dimaksud. Di antara nama-nama itu kini tengah berkontestasi dalam perhelatan Pemilukada 2018.

“Contohnya saja Ganjar Pranowo yang sangat percaya diri sebagai Cagub Jateng. Belum lagi Melchias Mekeng yang anggota DPR RI dan Olly Dondokambey yang kini Gubernur Sulut. Ada apa dengan KPK?” tegas Ricky.

Ricky melanjutkan, lambatnya proses hukum terhadap nama-nama tersebut bisa berakibat pada buruknya citra KPK di mata publik. KPK, menurut Ricky, terkesan berhenti pada mantan Ketua DPR, Setya Novanto dalam penanganan kasus mega korupsi e-KTP.

“Bila tidak, maka kecurigaan publik kian kental bahwa KPK hanya alat pencitraan seakan pemberantasan korupsi di rezim sekarang ini sangat berhasil,” kata Ricky.

Sebagai pengingat, nama kader PDIP, Ganjar Pranowo, disebut oleh terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto, telah menerima aliran dana terkait korupsi e-KTP. Teranyar, Setya menyampaikan itu di muka persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis (22/05/2018).

“Pada suatu hari saya ketemu Chairuman, saya tanya betul tidak ada penerimaan dari Andi. Waktu itu ngomong baru diselesaikan US$ 200. Dia bilang ada untuk Ganjar,” kata Setya.

Mantan Ketua DPR itu juga mengungkapkan ada aliran dana ke pimpinan Badan Anggaran DPR yakni Melchias Mekeng, Tamsil Linrung dan Olly Dondokambey, masing-masing sebesar U$ 500 ribu.

Tak berhenti di nama-nama itu, aliran dana korupsi e-KTP juga disebut Setya mengalir ke politikus PDIP Puan Maharani dan Pranomo Anung. Setya mengatakan hal tersebut disampaikan Made Oka Masagung ketika ia berkunjung ke rumahnya.

“Itu untuk Puan Maharani U$ 500 ribu dan Pramono Anung U$ 500 ribu,” kata Setya. (Mdz)

Komentar

News Feed