oleh

Keputusan Jokowi Bolehkan WNA Duduki Jabatan Strategis di BUMN, Dinilai Kebijakan yang Salah

Jakarta, Akuratnews.com – Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengungkap masalah imigran gelap dan tenaga kerja asing (TKA), yang banyak masuk ke tanah air. Ichsanudin menilai hal itu jelas keputusan salah.

Pasalnya, disaat negara-negara lain tengah sibuk melakukan pengetatan untuk melindungi kesejahteraan warganya, seperti Inggris dengan brexitnya serta Amerika dengan proteksionisme, Indonesia sebaliknya.

Bahkan terbaru Presiden Jokowi memperbolehkan warga negara asing duduki jabatan strategis di BUMN.

Situasi impor TKA saat ini, menurut Ichsanudin, gejalanya mirip dengan situasi di Amerika tahun 2004 silam.

Di mana George Walker Bush yang merupakan sosok incumbent kala itu berhasil memenangkan pemilihan presiden dengan menggaet para imigran melalui kebijakan pemberian kredit murah rumahan.

“Kita lihat dalam perspektif ekonomi. Saya mengambil contoh paling menarik adalah ketika perbandingan nyata di Amerika, George Walker Bush waktu kampanye 2004, ia memberdayakan imigran dengan kredit murah rumahan. Saya ulangi lagi, Bush ketika melawan John Kerry, ia memenangkan pemilihan dengan cara memberikan kredit murah rumahan,” katanya lagi.

Menurut Ichsanuddin, Trump pada intinya ingin melakukan proteksionisme. Yakni melakukan perlindungan terhadap kesejahteraan warganya di dalam negeri Amerika sendiri.

“Ini juga saya tanyakan ke Sri Mulyani. Ketika saya berdiskusi di PTIK dengan Sri Mulyani dan Agus Martowardojo (bankir yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Bank BI), apakah kebijakan Donald Trump dengan proteksionismenya itu adalah kebijakan deglobalisasi atau globalisasi?” tuturnya.

Ditegaskannya, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Srikat (AS) disebabkan adanya kebijakan yang salah.

Hal itu dikatakan Ichsanuddin dalam diskusi yang digelar KAHMI Jaya, di Sekretariat Bersama (Sekber) The Kemuning, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018). Menurutnya ada kebijakan pembangunan infrastruktur tidak tepat.

“Nilai dolar AS bisa seperti saat ini karena kebijakan yang salah oleh menteri Jokowi. Mereka asal melakukan pembangunan infrastruktur, padahal bisa saja pembangunan itu tidak tepat,” kata Ichsanuddin.

Rencana cair pinjaman dari bank dunia pada bulan ini dianggap belum dapat mengatasi semua persoalan.
Kata dia, pinjaman tersebut bahkan lebih menjadikan negara semakin terpuruk. Saat ini menurutnya pinjaman luar negeri sudah mencapai Rp5041 triliun.

“Kita jangan main-main soal dolar. Presiden Jokowi harus membenarkan surplus. Rencana pinjaman bank dunia dalam waktu dekat 300 juta USD bukan jaminan. Bahkan pinjaman itu bisa menjadikan Indonesia makin hancur. Indonesia dikasih darah tapi tidak menolong,” ujarnya.

Saat ini dikatakan Ichsanuddin, hutang luar negeri mencapai Rp5941 miliar.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Gerindra DKI Mohamad Taufik menilai rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak lain gambaran mundurnya pemerintahan dalam ekonomi nasional.

Kata Taufik dalam diskusi, kejadian ini menggambarkan adanya ketidakpercayaan asing pada pemerintah.

“Dolar sampai menguat terus berpengaruh pada masyarakat. Saya kira persoalan faktanya bahwa rupiah sudah melemah. Padahal sudah pakai ilmu interpensi,” tegas Taufik.

“Nah inikan menunjukan adanya ketidakpercayaan asing pada pemerintah,” sambung Taufik. (Dhy)

Komentar

News Feed