Beranda Nasional Ekonomi Optimasi Lahan Rawa di Sembilan Provinsi Mampu Kurangi Pengangguran

Optimasi Lahan Rawa di Sembilan Provinsi Mampu Kurangi Pengangguran

41
0
BERBAGI
alterntif text

Kalimantan Selatan, Akuratnews.com – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mencanangkan optimasi satu juta hektare lahan rawa lebak dan pasang-surut di sembilan provinsi.

Di antaranya, Riau, Kalimantan Tenggara, Sumatera Selatan, Kalsel, Jambi, Papua, serta Kalimantan Tengah.

Untuk Kalimantan Selatan, optimasi lahan seluas 67 ribu hektare. Ia, optimis, kebijakan optimasi lahan rawa lebak serta pasang-surut akan mensejahterakan masyarakat Kalimantan.

alterntif text

Permasalahannya adalah selama ini tak maksimal diberdayakan sebagai lahan produktif dan sumber pendapatan.

“Enggak ada alasan orang Kalimantan miskin dan menganggur. Kami datang untuk membunuh kemiskinan dan pengangguran itu,” ujar Menteri Amran di sela-sela meninjau lokasi optimasi lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Mandas Tana, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis (05/04/18).

Di tempat yang sama Kementan menyerahkan bantuan 40 unit eskavator berbobot 20 ton, dimana setiap alat berat seharga Rp 2 miliar.

Ia juga akan mendistribusikan mesin pompa berdaya 200 hektare, selain pupuk dan benih. Sedangkan kebutuhan lain, dibebankan ke Pemerintah Provinsi Kalsel dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

Adapun biaya optimasi lahan rawa lebak berkisar Rp3 juta per hektare dan Rp4 juta per hektare untuk pasang-surut.

“Ini strategi hemat anggaran. Dulu anggaran Rp16 juta – Rp20 juta per hektare,” terang Amran.

Sebelum optimasi lahan rawa lebak dan pasang-surut, Kementan mencanangkan cetak sawah melalui tanah menganggur untuk menggenjot luas tambah tanam (LTT). Biayanya sekira Rp16 juta per hektare.

Amran menaksir, optimasi rawa bakal menghasilkan Rp60triliun. Perhitungannya, indeks pertanaman mencapai tiga kali dalam setahun (IP-3) pada satu juta hektare lahan tersebut.

Menteri Amran optimis, produktivitasnya mencapai 6-7 ton per hektare. Ini, merujuk proyek percontohan di Ogan Ilir, Sumsel, di mana produktivitas mula-mula 2-3 ton per hektare menjadi 7 ton per hektare saat musim tanam ketiga.

Di sisi lain, optimasi lahan rawa ini juga bertujuan menjaga kedaulatan pangan hingga 100 tahun ke depan. “Kita harus siapkan makanannya dari sekarang. Kita enggak boleh main-main di sektor pangan,” tegasnya.

LEAVE A REPLY