oleh

Polisi Tetapkan Enam Tersangka Sebagai Produsen Miras Oplosan

Jakarta, Akuratnews.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya telah menetapkan enam orang yang disangka sebagai pengoplos minuman keras (miras). Dua orang lagi masuk daftar buron.

Kasus miras oplosan terjadi di Depok dan Bekasi, Jawa Barat, juga di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Polisi menangkap satu tersangka di Jaksel: RS dan tiga tersangka di Jaktim: BOT, DW, dan ZL. Sementara di Bekasi sebanyak dua tersangka: D dan UG. Dua orang yang masih buron: M (Bekasi) dan UR (Jaktim).

Data kepolisian menyebutkan, jumlah korban tewas yang menenggak miras opolosan sebanyak 33 orang terdiri atas tujuh orang di Bekasi, delapan orang di Depok, delapan di Jaktim, dan 10 orang di Jaktim.

Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Indarto mengatakan, tujuh korban tewas (RW, AR, RB, AN, BA, AD, dan SP) terbagi dalam dua kelompok. Satu dari tujuh korban tewas tersebut seorang perempuan (AN). Mereka berusia kisaran 20-25 tahun.

Kelompok RW, AR, dan RB berpesta miras oplosan di Jalan Gang H Rahim Nomor 206, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondokgede. Mereka bersama tiga rekannya yang saat ini masih kritis dan dirawat di rumah sakit.

Sementara itu, kelompok AN, BA, AD, dan SP mabuk-mabukan di depan Kantor Kecamatan Bekasi Selatan, Jalan Pulo Ribung, Kelurahan Pekayonjaya, Bekasi Selatan.

“Kedua kelompok itu berpesta miras oplosan berbarengan waktunya pada Minggu (1/4) pukul 18.00 WIB. Namun, satu per satu mulai masuk rumah sakit sejak Senin (2/4),” kata Indarto, Kamis (05/04/18).

Indarto menuturkan, berdasarkan tim medis RS Hermina Galaxy dan RS Anna Pekayon, para korban tewas mengalami kerusakan organ tubuh pada jaringan pernapasan dan hati. Sementara itu, untuk autopsi seluruh jasad korban dilakukan di RS Polri Kramatjati.

Sementara itu, Kapolres Metro Jaksel Kombes Indra Jafar mengatakan, tersangka RS, pemilik toko jamu, telah berjualan miras oplosan selama dua tahun terakhir.

“Pengakuan tersangka selama dua tahun berjualan miras oplosan tidak ada masalah,” kata Indra. RS menjual miras oplosan dari berbagai rasa buah-buahan dan dikemas dalam plastik dengan harga Rp15.000 hingga Rp20.000 per plastik.

Menurut RS, miras oplosan itu terdiri atas minuman beralkohol, minuman soda, minuman berenergi, dan ginseng.

Polres Metro Jakarta Selatan telah menyerahkan sampel cairan miras tersebut kepada ahli toksilogi Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.

Sementara itu, Kapolres Metro Jaktim Kombes Yoyon Tony Surya Putra menuturkan, selain fokus memburu produsen yang masih buron, aparat juga merazia toko kecil yang menjual ramuan miras oplosan.

Menanggapi kasus miras oplosan itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno meminta kepada RT/RW untuk aktif memantau peredaran miras oplosan.

Peredaran miras oplosan jelas melanggar ketentuan perundang-undangan. “Ini merupakan lampu merah buat kita karena korban jiwa itu tidak boleh ditoleransi sama sekali,” kata Wagub.

Adapun Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyatakan akan menggandeng Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bekasi untuk menjaring miras di 12 kecamatan

Kepala Unit Pelayanan Teknis Dinas Pengawas Obat dan Makanan Dinkes Kota Bekasi Anshori mengaku prihatin dengan generasi muda yang tewas karena miras oplosan.

“Miras ini sudah masuk pada tataran remaja. Untuk itu, dibutuhkan bimbingan teknis kepada anak-anak remaja di tingkat SMA,” ujar dia. (Wan)

Komentar

News Feed