oleh

Prabowo Bingung, SBY Berhitung, Kejutan Bakal Terjadi di Pilpres 2019?

Jakarta, Akuratnews.com – Jika politik itu adalah seni sebagaimana yang sering didengungkan para pengamat, maka sangat mungkin apa yang akan terjadi pada pendaftaran capres-cawapres adalah sebuah kejutan.

Artinya, ada kemungkinan terjadi kejutan karena kejutan juga sebuah kemungkinan.

Bagaimana tidak, hingga kini publik masih dibebani teka-teki siapa berpasangan dengan siapa untuk didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) oleh partai pengusung untuk Pilpres 2019.

Tidak ada yang pasti dari kubu Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal siapa yang akan menjadi calon wakil presiden (cawapres). Apalagi, di kubu Prabowo Subianto.

Bahkan, tidak ada yang bisa memastikan juga apakah Prabowo memang maju, sebagaimana juga halnya siapa yang akan menjadi cawapresnya untuk menantang Jokowi.

Pertemuan demi pertemuan ketua umum parpol sudah dilakukan. Demikian juga di antara para sekjen parpol pengusung Jokowi maupun pengusung Prabowo.

Mungkinkah Gatot – AHY

Akan tetapi pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memicu spekulasi munculnya pasangan Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Apalagi, kedua parpol sudah memenuhi syarat untuk mengusung pasangan capres-cawapres.

Pasalnya, gabungan kursi Gerindra (73 kursi) dan Demokrat (61 kursi) di DPR mencapai 134 kursi. Jumlah itu telah jauh melebihi syarat minimal 112 kursi.

Lalu, di mana kemungkinan kejutannya?

Ada sejumlah isu dari kalangan dunia media sosial yang cukup masuk akal kalau mengamati dinamika tersebut.

Salah satunya adalah satu kemungkinan bahwa majunya Gatot Nurmantyo yang berpasangan dengan AHY.

Alasannya, isu pasangan muda untuk Pilpres 2019 terus dikumandangkan sebagian politisi Partai Demokrat dan sejumlah parpol lainnya.

Tentu mudah ditebak anak muda yang dimaksud termasuk AHY sendiri.

Selain AHY, ada nama lain seperti gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam bursa capres-cawapres.

Maklum, popularitas kedua nama tersebut terangkat sejak Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

Logistik AHY

Kalau pola berpikirnya Prabowo dianggap sebagai ‘tokoh tua’ tentu cukup masuk akal kalau pasangan Gatot-AHY didorong untuk maju melawan Jokowi.

SBY bisa memberikan tekanan itu kepada Prabowo, karena Gerindra sedang dalam posisi ‘kering logistik’ untuk Pilpres nanti.

Kabarnya, untuk urusan logistik, Partai Demokrat tidak keberatan.

Dari sisi Partai Gerindra, kalau Prabowo tertarik dengan tawaran Demokrat, maka Prabowo cukup menjadi ‘king maker’.

Pertanyaannya: “Apakah Gatot Nurmantyo bisa maju sebagai capres?” Apalagi, waktunya mepet.

Ini juga sebuah kemungkinan kejutan. Artinya, Prabowo harus menghitung mana kerugian paling besar sebelum mengambil keputusan.

Prabowo harus memaksakan diri untuk ‘nyapres’demi menyelamatkan Gerindra.

Dan jika Demokrat tetap tidak setuju, maka Gerindra akan berpasangan dengan PKS, sehingga kemungkinan besar Prabowo-Salim Segaf Aljufri (PKS) akan berpasangan.

Hanya saja, apa benar hal itu bisa terjadi karena faktor logistik juga menjadi penting dalam setiap pilpres?

Pada sisi lain, Demokrat tidak mungkin hanya berpasangan dengan PKS karena gabungan suara kedua partai di DPR hanya 101 kursi atau kurang 11 kursi dari angka minimal 122 kursi.

PAN mau tidak mau tentu akan realistis saja mengingat kekuatannya sulit untuk berdampingan dengan Demokrat, karena sudah ada AHY yang menang usia dari Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, kalau memang jargon kampanye nanti pilih pasangan muda.

Akan tetapi, pilihan PAN untuk bergabung ke Jokowi akan berat karena ada faktor pendiri partai, Amien Rais yang akan berhadapan dengan Megawati Soekarnoputri sebagai penentu utama di kubu Jokowi.

Tentu, hal ini tidak perlu dikupas lebih jauh, karena publik sudah paham.

Komentar

News Feed