oleh

Riuh Gaji BPIP, Siapa Jebak Siapa?

Jakarta, Akuratnews.com – Bambang S. Haryo menyebut, gaji pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) merupakan jebakan untuk para pejabat BPIP itu sendiri.

“Sama dengan menjebak. Menjebak Bapak dan Ibu yang menjadi Pimpinan di BPIP itu. Mereka mungkin nggak tahu kalau gajinya segitu,” kata Bambang di melalui sambungan telepon, Jumat (1/06/2018).

Bambang meyakini, para pejabat BPIP tidak mengetahui sebelumnya jika akan digaji demikian besar. Beberapa di antaranya mungkin tidak butuh dengan gaji tersebut.

“Bahkan bagi Bu Mega ya, 112 juta itu nggak ada artinya,” kata politisi Gerindra itu.

BPIP sendiri, mulanya adalah UKP PIP yang dibentuk Presiden Jokowi pada 7 Juni 2017. Kemudian, Jokowi merubah UKP PIP menjadi BPIP pada 28 Februari 2018. Hingga tahap ini, para pejabat BPIB dikabarkan tak tahu jika mereka akan memiliki hak gaji. Baru pada 23 Mei 2018 lalu, Presiden Jokowi meneken Perpres No. 42 Thn 2018 yang menetapkan besaran gaji para personil BPIP dengan nilai tertinggi bagi Ketua Dewan Pengarah sebesar Rp 112.548.000,- disusul Anggota Pengarah sebesar Rp 100.811.000,-.

Besaran gaji itupun menjadi polemik di kalangan publik. Tercatat, sejumlah politisi barisan oposisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga Ombudsman, mendesak pemerintah untuk segera bertindak meredam suasana dan menjawab sentimen sosial publik.

Di tengah polemik, dua nama pejabat BPIP yakni Megawati Soekarno Putri dan Mahfud MD menjadi pusat pemberitaan media massa.

Tak terima namanya sering disebut-sebut Mahfud pun ambil tindakan. Mahfud, lantas mengkomparasi gaji BPIP yang jadi polemik dengan gaji DPR yang disebutnya tak kalah tinggi.

“Kalau saya jawab satu per satu, itu lama. Diblokir satu per satu itu seperti membunuh nyamuk satu per satu, maka saya ambil sarang nyamuknya di mana, tembakkan saja ke situ,” kata Mahfud usai upacara peringatan hari lahir Pancasila di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (1/6/2018) lalu.

Sementara Megawati, tampak begitu tenang. Terlihat, dari retensi tanggapan Megawati di media massa yang boleh dibilang tak terbaca meski namanya jadi primadona.

Lain Mega-lain pendukungnya, tak terima “Sang Bunda” kian dicibir. Para pejuang PDIP pun merangsek kantor surat kabar Radar Bogor. Radar Bogor, menjadi pusat perhatian karena beritanya yang berjudul “Ongkang-Ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta” telah mengusik hati para pendukung moncong putih.

Buntutnya, berbagai elemen pun bereaksi–menganggap tindakan massa yang mengatasnamakan PDIP itu sebagai tindakan persekusi terhadap pers selaku pejuang demokrasi.

Hampir tiba di penghujung sesi riuhnya gaji BPIP yang tinggi, putra “Sang Ibu” seluruh kader PDIP Muhammad Prananda Prabowo, muncul dengan surat terbuka, meminta para kader Banteng untuk “tenang”.

Jadi, pada sesi ini, siapapun yang “menjebak” dan yang “terjebak” tidak mencapai hasil kerja apapun untuk masyarakat selain mengisi top of mind publik jelang Pileg-Pilpres 2019. Karena toh, gaji BPIP belum berubah, pun demikian dengan gaji anggota dewan. (MDz)

Komentar

News Feed