Beranda Olahraga Teerasil Dangda, Striker Thailand Itu Justru Jadi Kutukan Buat Timnya

Teerasil Dangda, Striker Thailand Itu Justru Jadi Kutukan Buat Timnya

75
0
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Akuratnews.com – Teerasil Dangda selalu jadi momok menakutkan buat tim manapun yang jadi lawannya. Khusus di ajang Piala AFF, striker milik klub Muangthong United itu tercatat sebagai penyerang tersubur dengan koleksi enam gol, tiga gol lebih banyak dari striker andalan Indonesia, Boaz Solossa.

Namun, ternyata kesuburan striker Thailand itu justru jadi kutukan buat timnya. Mencetak gol di laga final bukan yang pertama bagi Teerasil. Pada final Piala AFF 2008, striker 28 tahun itu juga berhasil membobol gawang Vietnam dengan dengan sundulan kepalanya.

Namun, gol tersebut jadi sia-sia belaka karena Vietnam mampu menyamakan kedudukan berkat gol Le Cong Vinh pada masa injury time. Thailand akhirnya gagal juara karena kalah agregat 2-3 dari Vietnam yang saat itu mencetak sejarah karena pertama kali menjuarai ajang Piala AFF.

Saat itu, Teerasil yang tampil kali pertama di Piala AFF berhasil meraih sepatu emas bersama Agu Casmir dan Budi Sudarsono dengan torehan 4 gol.

Dua tahun kemudian performa Teerasil jeblok, seiring buruknya penampilan Thailand di ajang ini yang sudah tersingkir sejak babak penyisihan grup. Tak ada gol yang bisa dicetak Teerasil di Piala AFF 2010.

Dia baru kembali bangkit dan menjadi top scorer pada Piala AFF 2012 dengan torehan 5 gol. Namun, kutukan belum lepas dari Teerasil. Ia kembali gagal mengawinkan gelar pribadinya dengan gelar juara tim. Saat itu, Thailand gagal menjadi juara setelah kalah 3-2 secara agregat dari Singapura.

Pada Piala AFF 2014, Teerasil untuk kali ketiga tak bisa mencicipi gelar, meskipun Thailand menjadi juara. Dia harus absen pada ajang tersebut karena tidak mendapatkan izin dari klubnya saat itu, Almeria. Itu artinya, setiap kali Teerasil tampil di Piala AFF, Thailand selalu gagal meraih gelar juara.

Selain kutukan tersebut, tren bahwa tim yang memenangi final pertama bakal menjadi juara, menjadi pertanda positif bagi Indonesia. Sejak 2004, final Piala AFF menggunakan format kandang dan tandang. Hasil positif selalu mengikuti pemenang final pertama.

Tim yang memenangi final pertama pada akhirnya selalu menjadi juara turnamen. Semoga tahun ini keberuntungan juga berpihak kepada Timnas Indonesia. (Muji)

alterntif text

LEAVE A REPLY