Beranda Nasional Politik Usai Resmi Nyatakan Siap Jalankan Mandat Partai Sebagai Capres, Prabowo Dinilai Hadapi...

Usai Resmi Nyatakan Siap Jalankan Mandat Partai Sebagai Capres, Prabowo Dinilai Hadapi Dilema

104
0
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Akuratnews.com – Sejumlah pengamat menilai Prabowo tengah dihadapkan kepada dilema usai resmi menyatakan siap menjalankan mandat kader sebagai capres melawan Joko Widodo dalam Pemilu 2019.

Selain perlu memastikan berkoalisi dengan partai apa saja, dia tidak mudah memilih cawapres yang mampu meningkatkan elektabilitasnya.

“Elektabilitas sembilan nama yang ditawarkan PKS, misalnya, sangat rendah. Jadi, Prabowo harus jeli menentukan pendampingnya nanti,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno,┬áKamis (12/04/18).

alterntif text

Sembilan nama itu, yakni Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Fungsionaris PKS M Anis Matta, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, anggota DPR Tifatul Sembiring, anggota DPR Al Muzammil Yusuf MS, dan anggota DPR Mardani Ali Sera.

Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Alimudin mengatakan, politik bersifat dinamis menjelang pendaftaran capres-cawapares pada Agustus 2018.

PKS masih menyerap aspirasi sambil melakukan komunikasi politik, termasuk menerima Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN) yang mengusung Gatot Nurmantyo sebagai capres.

“Aspirasi atau masukan kami terima dan akan kami kalkulasi karena tidak ada yang tidak mungkin dalam politik,” ujarnya.

Menurut Suhud, sebelumnya PKS menyodorkan sembilan nama kepada Gerindra maupun parpol lain sebagai capres dan cawapres. Dari sembilan nama itu kini mengerucut menjadi tiga nama. Namun, dia enggan menyebutkan siapa saja ketiga nama itu.

Politikus Gerindra Muhammad Syafii mengklaim, koalisi dengan PKS masih solid. Interaksi politik kedua parpol sudah masuk level intensif dan tidak bisa dikatakan cair lagi.

Namun, pembicaraan soal pendamping Prabowo belum jadi bahasan kedua parpol. Dia percaya kepada koalisi walaupun manuver politik dilakukan sejumlah pihak terhadap PKS.

“Kalau ada upaya parpol atau pihak-pihak yang mendekati PKS, itu bebas dilakukan dan sah saja,” katanya.

Menurut dia, kriteria cawapres yang diinginkan Gerindra maupun Prabowo, dipastikan dari kalangan sipil.

Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menilai, Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan sebenarnya bisa mendongkrak elektabilitas Prabowo karena memiliki basis massa yang cukup besar, terutama dari kalangan Islam.

“Namun, kedua nama tersebut juga memiliki kelemahan yang sama yaitu sama-sama tidak memiliki dukungan partai politik,” katanya.

Kans Gatot jadi cawapres Prabowo pun kecil mengingat RSPN tegas menyatakan mantan Panglima TNI itu diusung sebagai capres. “Kami murni menginginkan Pak Gatot sebagai RI 1,” ujar Ketua Umum RSPN Rama Yumatha.

Pengamat politik Populi Center Usep S Ahyar berpendapat, ambisi Gatot menjadi capres menghadapi tiga persoalan berat. Lobi-lobi terhadap parpol harus dengan usaha keras, sementara elektabilitas juga harus terus ditingkatkan.

“Melobi PKS tak akan cukup karena suara tergolong kecil (6,79 persen). Lalu, RSPN kan menutup peluang berkoalisi dengan pemerintah yang setidaknya memiliki 60 persen suara. Sedangkan ke Gerindra untuk mendapatkan tiket sulit karena Gerindra sudah mengusung Prabowo sebagai capres,” tutur dia.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga sudah tegas menyatakan dukungan kepada Joko Widodo sebagai capres.

“Jika ditolak mendampingi Jokowi dan merapat ke Prabowo, itu sekadar pelarian. Namun, saya kira, Cak Imin rasional dan itu jelas dia katakan untuk tetap mendukung petahana,” kata Usep.

Bagaimana dengan PAN yang selama ini selalu beriringan dengan PKS untuk menopang Prabowo, juga masih jadi bahan pertanyaan, mengingat Ketua Umum Zulkifli Hasan dengan diplomatis mengatakan, “Nanti setelah pilkada selesai.” (Red)

LEAVE A REPLY