oleh

Vino Menangisi Prabowo

(Kegelisahan Anak Muda Milenial Indonesia)

Opini, Akuratnews.com – Vino mengirimiku pesan WA panjang sekali. Sebelumnya ia kirim berita tentang kehadirian Prabowo di Banyumas yang dirilis oleh suaramerdeka.com yang berjudul “Tangisan Rakyat Kebumen Mantapkan Langkah Prabowo untuk Nyapres”.

Narasi pada berita itu cukup menggetarkan. Sama dengan yang dirasakan Vino, bahkan ia mengaku menangis saat membacanya. Vino lahir di Cilacap Banyumas awal 90-an. Dibantu dengan pengetahuannya yang luas, Vino dapat merasakan suasana kebatinan masyarakat disana. Vino yang saya tau memang tipe anak muda milenial yang melek politik.

Berita itu menulis;

Bagi Prabowo, kota Kebumen senantiasa ada dalam nuraninya, karena ayahanda tercinta yang juga terkenal sebagai Begawan Ekonomi Indonesia, Prof Sumitro Djojohadikusuma lahir di Kebumen, pada tahun 1917.

Sebelum Prabowo naik panggung, anggota DPR RI dari Partai Gerindra Dapil Kebumen, Darori Wonodipuro memberikan sambutan dan menyapa rakyat. Darori juga malaporkan bahwa di daerah Jawa Tengah, Kebumen merupakan daerah yang paling miskin di Jawa Tengah. Mendengar laporan Darori, Prabowo tertunduk kelu dan saat naik panggung dengan nada emosional, dia mengatakan, sebagai putra kelahiran Kebumen, sangat sedih mendengar laporan anggota DPR tersebut.

“Saya ingatkan kepada anggota-anggota dewan Gerindra janganlah kalian hidup berfoya-foya masih banyak rakyat kita yang miskin, masih banyak rakyat kita yang hidupnya susah! Ini perjuangan Prabowo dan Gerindra. Di Negara yang merdeka tidak boleh lagi ada kemiskinan,” tegas Prabowo.

Ia mengingatkan tujuan dari partainya. Pancasila itu bukan mantra , kita harus melaksanaannya, implementasikan pancasila dalam kehidupan kita. Pancasila itu utuh 1 sampai 5 harus diimplementasikan, di sila kelima itu tertulis Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Indonesia,” sambung Prabowo berapi -api.

Tangisan rakyat mulai pecah saat Prabowo meminta restu nntuk nyapres. “Saya meminta restu rakyat Kebumen, saya akan maju pada pemilihan presiden 2019 yang akan datang,”..belum selesai bicara, rakyat pun menyambut dengan pekikan “Prabowo Presiden! ..Prabowo Presiden !”

“Jika Allah SWT meridhoi dan rakyat mendukung Insyallah saya berjuang sekuat tenaga saya untuk mengembalikan kekayaan yg dimiliki rakyat Indonesia, tapi sekarang ada di luar negeri,” lanjut Prabowo yang disambut suka cita penuh rasa haru rakyat Kebumen.

Turun dari Pangung rakyat berebut ingin bersalaman, dan bercucuran air mata bahagia bertemu Prabowo, yang diharap menjadi Presiden, sehingga bisa membawa kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Itu yang membuat Vino menangis. Kemudian ia bertutur dengan menyala-nyala;

“Sangat menyentuh. Prabowo meminta restu untuk mendapatkan mandat dari rakyat Banyumas sebagai rakyat leluhurnya.” Kata Vino.

“Cara Prabowo melawan rezim ini mirip cara orang Banyumas melawan penindasan kala itu. Dengan bahasa yang terbuka dan blak blakan adalah antitesa dari jokowi yg hobi pakai simbol simbol, ini cara melawan yang sangat khas Banyumas.”

“Kultur Banyumas adalah antitesis dari beberapa kultur masyarakat kita yang selalu menyembunyikan sikap aslinya, kultur Banyumas yang terbuka, egaliter dan selalu melawan penindasan berbeda dengan kultur feodal dan penuh “bahasa simbol”.” Lanjut Vino.

Sampi sini aku menyela chating Vino. “Kalau begitu, bagus kalau Prabowo deklarasi di Banyumas?” Kataku.

“Sepakat!” Sahutnya cepat.
“Tan Malaka dulu mendeklarasikan Persatuan Perjuangan tahun 1946 dimana Persatuan Perjuangan mengkritik cara pemerintah RI yang waktu itu berkedudukan di Yogyakarta, karena pemerintah RI berunding dengan maling yang masuk ke rumah sendiri, bukannya mengusirnya: kata Tan Malaka waktu itu.”

“Dan coba tebak siapa diantara mereka yang hadir di Deklarasi Persatuan Perjuangan di Purwokerto 1946 itu? Jenderal Sudirman. Jenderal Sudirman hadir mendukung dan menjadi pembicara pada Deklarasi Persatuan Perjuangan karena merasakan suasana batin yang sama dengan Tan Malaka.” Vino tak berhenti ketik pesan panjang lebar.

“Dan jenderal Sudirman pun orang Banyumas Bang.” Katanya.

Hatiku bergetar menyaksikan betapa luas pengetahuan anak muda ini.

“Kalau prabowo mau deklarasi di Banyumas harus ditarik ke peristiwa deklarasi Persatuan Perjuangan di Purwokerto Banyumas tahun 1946 itu agar getaran sejarahnya terasa kuat.” Tandasnya

“Prabowo yang melawan petahana, yakni Jokowi, dimana Jokowi ini kerap memilih berunding dengan maling yang merampok rumahnya sendiri. Sebagai orang Banyumas Prabowo melaksanakan kewajiban kulturalnya sebagai orang Banyumas dan kewajiban moralnya sebagai patriot merah putih.” Tandasnya lagi.

“Sebenarnya secara sejarah peristiwa deklarasi Persatuan Perjuangan di Purwokerto itu berlangsung antara tanggal 3-5 Januari 1946 , maka jika Prabowo mau deklarasi Persatuan Perjuangan jaman now masih ada waktu buat nyusun konsep yang tepat, sehingga romantik dan emosional.” Ulasnya.

“Saya membayangkan Pak Prabowo berbicara antara tanggal 3-5 Januari di tempat-tempat yang secara historis sangat berkesan dengan tradisi Banyumas itu. Prinsipnya kita harus kirim pesan bahwa ini adalah sebuah perlawanan atas sikap para komprador bangsa ini yang selalu lemah dengan penindasan bangsa asing.” Tutupnya.

Malam semakin larut. Pukul 23.41 hatiku menjadi gelisah dengan semangat Vino anak muda milenial Indonesia ini. Ia yang gelisah memberikan secercah semangat untuk bangsa ini untuk berubah.

Vino bukan anak muda biasa. Bayangkan, ia menangisi Prabowo dan bangsa ini.

Penulis Oleh; Gusmiyadi_Goben
Aktivis Indonesia Bergerak

Komentar

News Feed