oleh

2019, Rupiah Masih Akan Tertekan

Jakarta, Akuratnews – Ketidakpastian ekonomi global dimasa mendatang, akan menjadi tantangan tersendiri bagi Rupiah. Mata uang Garuda ini ditahun yang akan datang diperkirakan masih akan berada dikisaran Rp. 15.000.


Meski saat ini menguat disekitar Rp. 14.500an, namun potensi tekanan Dolar AS belum hilang. Rencana kenaikan suku bunga AS pada minggu depan, menjadi sinyal kuat turunnya nilai Rupiah diakhir tahun. Belum lagi, ditambah dengan kondisi perekonomian negeri Paman Sam, serta sentimen geopolitik yang terjadi di sejumlah negara, salah satunya adalah Eropa.


Secara garis besat, kondisi nilai tukar rupiah di tahun depan masih berpotensi berada di atas level Rp 15.000 per dolar. Penguatan rupiah bisa menembus level Rp 14.000/US$. Sementara pelemahannya bisa kembali ke 15.500 per dolar.


Selaian kenaikans suku bunga AS, terbatasnya likuiditas, dan masih bertenggernya CAD di sisi atas akan menyebabkan tetap tingginya volatilitas di pasar aset. Kisaran rupiah akan berada di rentang Rp 14.200- Rp 15.200 per dolar.

Pada semester pertama tahun depan, rupiah masih dalam tekanan. Pasar masih akan volatile. Mengingat CAD secara struktural di kuartal I-2019 masih akan melebar, tapi menyempit di kuartal selanjutnya. Rupiah masih akan di atas Rp 14.500 – Rp 15.000.


Sementara Perang Dagang AS – China, juga akan memperlemah Rupiah. Dari kondisi ekonomi global, dampak perang dagang ini membuat harga komoditas lemah, investasi portfolionya terutama FDI cenderung turun.


Faltor eksternal lain adalah dampak kebijakan ECB, yang mulai memperketat kebijakan moneternya. Carry trade investor global oleh kenaikan bunga The Fed dan pengetatan kebijakan moneter dari ECB dan BoJ memberikan tekanan Rupaih.


Selain itu, fluktuasi di pasar keuangan domestik yang dipicu oleh perkembangan trade war, perlambatan ekonomi China, lalu perkembangan geopolitik global. Sementara dari dalam negeri, dipicu oleh aksi investor global yang wait and see untuk berinvestasi di tahun politik, serta posisi CAD yang masih defisit.

Fluktuasi harga minyak mentah, dan kebutuhan valas tahun depan lebih besar dari tahun ini. Meski ditargetkan turun, tapi melihat kebutuhan belanja anggaran yang besar kelihatannya pemerintah tetap agresif tingkatkan penerbitan SBN, Isu Brexit, dan politik di Timur Tengah. (LH)

Loading...

Komentar

News Feed