oleh

Adzan Seperti Juga Dengan Lonceng Gereja Yang Bersifat Publik Bukan Private

Opini, Akuratnews.com – Dalam artikel Fannes (2012) berjudul : “Sounds in Changing Context The Muslim Call to Prayer in Vienna” Fannes menilai : “Azan sebagai CULTURAL SOUNDS, sama dengan lonceng gereja di Wina.Karena itu suara azan memiliki kehormatan dan harus dilindungi”.

Azan juga miliki konteks sosial religius. Riset Schafer (2003) menyebut dengan istilah :
SOUNDSCAPE , dimana saat mendengar suara lonceng gereja, bahkan dengan mata tertutup, kita segera tau secara sosial ada saudara kita dari umat Kristiani di sana. Seharusnya dengan suara saja sudah cukup alasan bikin kita bersaudara dalam perbedaan.

Oleh sebab itu, menurut :
■ Bender (2006),
■ Howes (2006), dan
■ Thomas (1996)
yang menyampaikan bahwa :
AZAN seperti juga dengan LONCENG GEREJA yang bersifat PUBLIK bukan PRIVATE

Menurut AGus Salim Harimurti Kodri,P.Hd menyampaikan sebagai berikut :

Azan itu adalah panggilan kepada orang-orang beriman untuk mendirikan salat berjama’ah di awal waktu keutamaannya sebagai amal soleh.

Walaupun secara individu mendirikan salat pun dapat didirikan secara terpisah di tempat yg berbeda-beda dan di setiap jengkal bumi Allah swt itu adalah tempat orang beriman bersujud.

Jadi suara azan itu memiliki sifat amar ma’ruf nahi munkar dan ini suatu perilaku (budaya/culture) yg terhormat, “benar dan baik di sisi Allah swt bagi setiap manusia yg berkehendak tegaknya kebenaran dan kebaikan” (karena hanya setan yang tidak menghendaki tegaknya kebenaran dan kebaikan bagi umat manusia).

Oleh karenanya, suara azan itu UNIQUE dan berkelas di tempat umum (ruang publik). Sehingga, suara azan itu akan membangkitkan rasa persaudaraan yg kuat bagi sesama muslim ummah dan membangkitkan dan menumbuhkan toleransi kehidupan umat-umat agama lainnya (inilah yg akan membangkitkan rasa persatuan sesama umat manusia termasuk yg tidak beragama sekalipun).

Rasa persatuan itu teraktualisasikan dalam bentuk pola interaksi sosial kehidupan masyarakat yang saling hormat menghormati dan saling melindungi untuk kepentingan hidup bersama di wilayahnya masing-masing.

Disitulah hukum harus dibangun dalam menjaga dan menpertahankan kehidupan massyarakat yg berbeda-beda tsb (majemuk). Hidup rukun, saling pangertian dan saling menghargai yang dipenuhi dengan rasa kasih sayang serta saling hormat menghormati dalam menjaga persatuan dan keutuhan masyarakat.

Penulis Oleh: Ir. Hj. Nurul Candrasari, M.Si
DEWAN PENDIRI KAUKUS PEREMPUAN POLITIK INDONESIA

Komentar

News Feed