Akibat Ponsel, Rutan Cilodong Depok Bisa Gagal Raih Predikat WBK

Sejumlah larangan tertera di pintu masuk ruang blok tahanan di Rutan Cilodong, Depok
Sejumlah larangan tertera di pintu masuk ruang blok tahanan di Rutan Cilodong, Depok

AKURATNEWS.COM- Akibat penggunaan ponsel yang dilakukan seorang Warga binaannya, Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Cilodong, Depok bisa gagal wujudkan target kinerja untuk mampu meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

Sorotan publik soal warga binaan yang masih bisa miliki ponsel dalam Rutan jadi fenomena yang bertolak belakang pada salah satu poin pembangunan Zona Integritas (ZI) yakni, penguatan pengamanan

Sementara, ZI merupakan landasan meraih predikat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB) terkait penyelenggaraan fungsi pelayanan.

"Pelanggaran penggunaan telepon selular (ponsel) di dalam Rutan memang merupakan kategori poin yang memberatkan", ujar Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Cilodong, Depok Nu'man Fauzi mewakili Karutan Anton, Senin,(7/6).

Kendati demikian, sejauh ini pihak Rutan telah secara intens lakukan sidak blok tahanan sebagai langkah pencegahan penggunaan benda terlarang di dalam Rutan.

"Sidak kami lakukan secara acak pada blok tahanan. Waktu sidak dilakukan dua kali dalam satu minggu. Kedepan, sidak akan lebih intens", kata Fauzi.

Dia tak menepis jika keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada juga masih timpang dengan jumlah warga binaan Rutan Cilodong yang kini berjumlah 1500 orang.

Untuk kategori angka ideal, kata Fauzi, satu personil keamanan berbanding tiga warga binaan. Sementara, kondisi saat ini satu blok tahanan diisi sekitar 400 - 500 warga binaan.

"Sejauh ini, dalam satu regu penjagaan ditiap blok tahanan kami hanya tempatkan 11 personil jaga dari total personil pengamanan sebanyak 46 orang", ucap Fauzi kepada Akuratnews.com di Rutan Cilodong.

Fauzi mengatakan, pihaknya selalu mengusulkan adanya penambahan pegawai lantaran saat ini total pegawai Rutan Cilodong hanya berjumlah 102 orang.

"Tiap tahun kami selalu diusulkan penambahan SDM Rutan dan untuk tahun ini ada penambahan 12 pegawai CPNS", katanya.

Terkait warga binaan Rutan Cilodong, Depok yang kedapatan memiliki barang atau benda yang dilarang seperti ponsel, sajam, narkoba dan lainya, pihak Rutan mengaku tak akan mentolelirnya.

"Kami tidak ada pembiaran bagi warga binaan yang kedapatan miliki barang-barang yang dilarang tersebut. Sejumlah sanksi pasti diberlakukan jika terjadi pelanggaran tersebut", jelas Fauzi.

Dia mencontohkan kejadian yang dilakukan Syahril P Marbun narapidana perkara pencabulan anak yang kedapatan miliki ponsel akibatnya kini telah dijatuhi sanksi atas perbuatanya yakni, dimasukan ruang isolasi.

"Sanksinya yang bersangkutan (Syahril P Marbun) kini telah kami pindahkan di ruang isolasi selama 2x6 hari dan dicatat dalam register F. Termasuk tidak mendapatkan remisi, asimilasi, cuti bersyarat, dan ketentuan lainnya", ungkap Fauzi.

Dari kejadian itu, Kepala Satuan Pengamanan yang baru sekitar lima bulan menjabat di Rutan Depok ini mengaku akan lebih meningkatkan pengetatan penjagaan termasuk menambah jadwal rutin sidak ditiap blok tahanan.

Diketahui, dari hasil sidak yang dilakukan secara acak di blok tahanan, petugas Rutan berhasil menyita sejumlah barang seperti, senjata rakitan, sendok dan kawat.

Kemudian juga didapati beberapa ponsel termasuk instalasi listriknya. Untuk hasil sidak paling banyak ditemukan yaitu jenis senjata rakitan. Sedang untuk alat kmnikasi kebanyakan didapat dari Napi sebelumnya.

Sementara itu, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 6 Tahun 2013, tentang Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara telah dijelaskan Napi dilarang memiliki, membawa dan atau menggunakan alat elektronik, seperti laptop atau komputer, kamera, telepon genggam, pager, dan alat perekam, maupun alat lainnya.

Napi yang melanggar ketentuan itu dapat dijatuhi sanksi tidak mendapatkan remisi, asimilasi, cuti bersyarat, dan ketentuan lainnya.

Penulis:

Baca Juga