Alfarisi Thalib Ungkap Tiga Faktor Kemelut Golkar Menjelang Munas

Alfarisi Thalib Direktur IPS. (Baju Batik) (Foto Hugeng Widodo/Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Polemik Partai Golkar menjelang Musyawarah Nasional (Munas) menjadi perhatian publik akhir-akhir ini. Dalam diskusi yang digelar Indonesia Political Studies (IPS), diungkap apa yang menjadi kendala dalam partai beringin sehingga terjadi kemelut.

Alfarisi Thalib, Direktur Eksekutif IPS mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan dan analisis IPS, didapat kesimpulan bahwa diantara ketiga partai tua, Golkar, PDI Perjuangan dan PPP hanya Golkar yang memberikan pendidikan politik yang dinilai IPS sebagai pendidikan politik radikal untuk menguasai kepemimpinan bangsa Indonesia.

"Namun praktis dari ketiga partai besar itu, hanya Golkar yang memberikan pendidikan politik yang dinilai IPS radikal," ujar Alfarisi Thalib dalam diskusi IPS bertajuk "Kemelut Golkar Jelang Munas" yang digelar di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019).

Menurut Alfarisi, tradisi demokrasi di Indonesia sebagian besar di pengaruhi oleh dinamika politik dari partai Golkar sehingga lahir pemimpin pemimpin bangsa Indonesia dari tubuh Golkar.

"Namun dinamika demokrasi itu tidak menutup peluang hadirnya persoalan di tubuh golkar, terutama dinamika konflik menjelang munas. Tapi lagi-lagi, sebesar apapun konflik yang terjadi di dalam tubuh partai Golkar, tidak kehabisan ide untuk maju dalam demokrasi di Indonesia. Golkar juga tidak kehabisan stok pemimpin politik di Indonesia." terangnya.

Sehingga dengan adanya dinamika konflik tersebut, kata Alfarisi, bagi elit partai di Golkar yang tidak ingin ada dinamika konflik seperti itu, maka artinya dia tidak paham, apa itu demokrasi.

"Bagi elit partai yang menghambat dinamika itu terjadi, justru dia buta huruf terhadap partai Golkar atau bisa jadi, dia tidak mengerti tentang partai Golkar." kata dia.

Sementara itu terkait dengan kapan dilaksanakan Munas Golkar, menurut Alfarisi, sampai saat ini belum ada kepastian yang dihasilkan dalam keputusan rapat pleno Golkar. Alfarisi berharap dapat dilaksanakan pada tahun 2019 ini, namun begitu, belum ada tanda-tanda Munas akan dilakukan dalam waktu dekat.

Lantas apa yang menjadi faktor kemelut di tubuh internal partai Golkar yang menjadi bagian dari momentum Munas?

Alfarisi mengatakan, Pertama terkait dengan tata kelola partainya (Pengelolaan partai), sebab, sejak 2014 sampai sekarang, partai Golkar terus menerus silih berganti, muncullah dualisme kepemimpinan. Setelah dualisme itu mereda, muncul lagi isme-isme yang lain.

"Kedua, selain pengelolaan partai, ada lagi persoalan komunikasi bagi elit-elit partai terhadap kader kader partai secara struktural, fungsional di dalam tubuh partai politik, baik dari lingkaran politik maupun dari pimpinan pusat ke pimpinan daerah." kata dia.

Sebenarnya partai Golkar itu relatif sangat komunikatif, relatif sangat akomodatif dari sisi komunikasi, baik dari tingkat pusat, maupun ke tingkat daerah. Relatif dari sisi komunikatif itulah yang membuat situasi teduh terhadap proses poltik dalam partai Golkar.

Lalu kenapa diinamika itu mengarah pada konflik?

Menurut Alfarisi, bisa jadi karena proses elit partai mengalami kemandegan atau mengalami kesumbatan atau diistilahkan mengalami stagnasi atau mungkin bisa jadi tidak ada komunikasi sehingga struktur partai di daerah bagaikan gunung es.

"Di publik tidak kelihatan marahnya, tapi kalau kita masuk ke dalam, terlihat lah mereka saling baku hantam. itulah persoalan komunikasi." tandas Ketum IPS.

Ketiga, persoalan leadership dalam partai, sangat menentukan. Menurut Alfarisi, Jika di Negara Barat, leadership itu merupakan simbol dari partai politik sehingga mampu bertahan.

"Sehingga kalau elit partai tidak mampu memberikan edukasi yang baik secara politik pada kader, maka relatif partai politik tersebut mengalami ejukalasi kepemimpinan politik. Sehingga relatif partai tersebut, meskipun partai besar, maka dia dianggap partai partaian, dianggap besar dari situasi politik, namun dalam proses lobby-loby politik, dia (partai tersebut) tidak dianggap lagi dalam perpolitikan nasional.

Sementara itu, Ray Rangkuti, Pakar politik sekaligus Direktur Lingkar Madani Indonesia, menyoroti langsung pertarungan politik antara Bambang Soesatyo versus Airlangga Hartarto.

Menurut Ray, pertama, dua orang calon pemimpin Golkar dalam Munas mempunyai basis dan kharisma sendiri-sendiri. Jika dilihat dalam permainan, kedua calon ketua umum Golkar itu,  yang satu terlihat (lebih banyak bermain) keluar dari partai dan satu lagi lebih banyak di dalam.

"Kalau Bamsoet, lebih banyak membangun kekuatan dari luar. Mungkin kekuatan itu untuk dibawa masuk ke dalam. Saya kira dalam dua hari ini, momentum  untuk mengamati gerakan mahasiswa itu menjadi momentum bagi Bamsoet memperoleh simpati. Sehingga Bamsoet lah yang disorot dalam aksi mahasiswa tersebut." ujar Ray.

Menurut dia, tentu ada tanggung jawab moral bagi Bamsoet, tapi disaat yang sama dia juga tengah mendapat citra sebagai calon Ketum Golkar dan ini berbeda dengan Airlangga, yang terlihat lebih fokus melakukan konsolidasi kekuatan ke dalam. Kendati tidak bisa dianggap lemah, namun untuk saat ini kans Bamsoet mendapat citra, terlihat jauh lebih baik jika dilihat dari kacamata publik ketimbang Airlangga. (*)

Penulis:
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga