Opini

Alternatif Solusi Impor

Akuratnews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor sayur- sayuran sepanjang tahun 2019 meningkat dari tahun 2018, menjadi 770 juta dollar AS atau setara Rp 11,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.700 per dollar AS).

Merespon hal tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian ( Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan, angka tersebut didominasi oleh komoditas sayur-sayuran yang pasokannya memang masih perlu dibantu oleh impor, seperti bawang putih dan kentang industri.(KOMPAS.com, 25/5/'20)

Sangat miris, karena impor ini justru masih tetap dilakukan ketika masa pandemi belum usai. Dimana seharusnya negara masih menutup akses keluar-masuk negara lain demi mencegah penyebaran virus korona yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia.

Melakukan impor bukanlah kesalahan jika memang produk tersebut benar-benar penting dan dibutuhkan masyarakat. Juga karena pasokan dalam negeri tak mencukupi. Namun, bukan berarti solusi dari permalahan tersebut hanya impor. Seolah impor merupakan satu-satunya solusi.

Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, impor bukanlah solusi terbaik. Karena sangat rentan untuk dapat mempermudah penularan dan penyebaran virus korona dari negara lain masuk ke negara ini.

Permasalahan impor dan pandemi merupakan permasalahan yang saling berkaitan. Pun termasuk dalam solusi yang harus diambil. Negara ini adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Sudah seharusnya menjadikan sejarah Islam sebagai pelajaran, kemudian menjadikan Islam sebagai solusi dari setiap permasalahan.

Dalam Islam ada salah satu cara jitu yang dapat diambil sebagai solusi untuk meningkatkan produksi pangan. Sehingga tidak akan melulu melakukan impor karena ketersediaan bahan pangan tersebut sudah terpenuhi. Solusi ini dapat menjadi alternatif selain bergantung pada impor.

Sayyidah Aisyah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: "Siapa yang memakmurkan tanah yang tidak dimiliki oleh siapapun maka dia lebih berhak (atas tanah tersebut)". (HR al-Bukhari).

Karena itu siapa saja baik Muslim atau kafir dzimmi yang menghidupkan (tanah mati), apapun bentuk aktivitas menghidupkan itu, maka ia telah memiliki tanah mati tersebut. Dengan demikian aktivitas menghidupkan itu menjadi sebab kepemilikan atas tanah mati itu.

Tanah mati adalah tanah yang tidak tampak padanya telah berlangsung kepemilikan seseorang. Jadi tidak tampak di situ bekas sesuatu berupa pagar, taman, bangunan atau semacam itu. Tidak ada pemilik tanah itu dan tidak ada yang memanfaatkannya. Inilah tanah mati. Selain yang demikian bukan merupakan tanah mati meskipun tidak dimiliki oleh siapapun dan tidak dimanfaatkan oleh seseorang pun.

Tanah mati harus dimakmurkan (dipagari, ditanami atau didirikan bangunan di atasnya) dan tidak boleh ditelantarkan. Jika ditelantarkan tiga tahun berturut-turut maka tidak ada hak pemilikan lagi atas tanah tersebut bagi pemiliknya itu. Kepemilikan atasnya telah hilang atau lepas dari pemilik sebelumnya. Khalifah/imam akan mengambil tanah itu dan membagikan tanah tersebut kepada rakyat menurut ijtihad dan pendapatnya.

Pengambilan hak milik untuk mengolah tanah mati tersebut juga dilandasi oleh iman dan takwa akibat telah terwujud suasana keimanan dari tatanan masyarakat Islami. Sehingga, hal itu dilakukan benar-benar untuk memanfaatkan tanah tersebut agar hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain dapat mencukupi kebutuhan ketersediaan bahan pangan dan terbebas dari ketergantungan pada impor, hal itu juga dapat membuka lapangan pekerjaan. Masyarakat yang menganggur, bisa diarahkan untuk bercocok tanam memanfaatkan tanah mati tersebut. Dengan itu, swasembada pangan akan lebih mudah diwujudkan.

Oleh karena itu, sangat diharapkan para pemimpin negeri ini mau menoleh pada aturan Islam yang komprehensif. Menjadikan aturan ekonomi Islam sebagai alternatif solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Karena aturan Islam berasal dari Allah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Sehingga Allah pun yang lebih tahu aturan yang sesuai bagi makhluk yang diciptakan. Wallahu a'lam!

Baca Juga