AMMS: “Ada Apa di Balik Jurassic Park?”

"Jelas dalam keputusan Dirjen perlindungan hutan dan konservasi alam nomor 65/Kpts/DJ-5/2001. Tentang zonasi Taman Nasional Komodo. Tidak boleh ada aktivitas manusia" Tutur Lois.

Lanjutnya, "Pada 2012, lewat Keputusan Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. SK.21/IV-SET/2012 tentang Zonasi Taman Nasional Komodo, ketetapan tersebut diotak-atik oleh pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) mengkonversi 303,9 hektar dari pulau itu menjadi zona pemanfaatan wisata darat. Supaya misi itu tercapai, pemerintah membuka selebar-lebarnya keran sewasta, salah satunya melalui peraturan mentri (permen) Lingkungan hidup dan kehutanan No. P.48/Menhut/II/2010 tentang izin pengusahaan pariwisata alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman WIsata Alam." Papar Lois.

Menurut Lois, dampak dari pembangunan Jurassic Park yaitu melahirkan dua ancaman besar yaitu pemiskinan sistemik dan ekosida.

"Efek dari pembangunan jurassic park adalah melahirkan dua ancaman besar yaitu pemiskinan sistemik dan ekosida." Pungkas Lois.

Menurutnya, Pemiskinan sistemik adalah sebuah proses di mana orang-orang lokal kehilangan kepemilikan, akses, dan manfaat dari sumber daya alam mereka, bukan karena kurangnya pembangunan, tetapi justru karena dan melalui proses-proses pembangunan itu sendiri. Sementara korporasi mengeruk sumber daya demi investasi, warga lokal menjadi kelompok yang kehilangan tanah, air, dan laut, menjadi kelas pekerja (buruh harian atau bulanan) dam pemasok produk-produk lokal yang mendukung industri pariwisata. Kehilangan kepemilikan, akses, dan manfaat sumber daya lewat proses pembangunan itu menyebabkan mereka miskin oleh sistem.

Selanjutnya 1 2 3

Baca Juga