AMMS: “Ada Apa di Balik Jurassic Park?”

Kemudian, ekosida adalah proses penghancuran ekosistem serta terancamnya spesies-spesies keanekargaman hayati tertentu akibat intervensi kebijakan dan proses pembangunan. Ekosida ini adalah krisis sosio-ekologis yang mengarah kepada kerusakan permanen ekosistem dan kepunahan satwa dan flora-fauna tertentu. Dalam kawasan TN Komodo, ekosida ini terjadi dengan ekspansi bangunan-bangunan resort dan fasilitas pendukung bisnis pariwisata di wilayah darat dan laut yang merupakan ruang hidup Komodo dan kergaman hayati lainnya. Kendati semua investasi itu dilabel ekowisata, tidak ada jaminan ilmiah maupun politik apapun yang memastikan bahwa intervensi investasi tidak akan mengarah ke ekosida.

Senada dengan Lois, Direktur utama WALHI NTT Umbu Wulang Tannamahu Paranggi kepada Akuratnews.com menyebutkan beberapa dampak buruk dari pembangunan Jurassic Park diataranya;

"Pertama, akan mengubah lanskap habitat Komodo terutama industri pariwisata skala besar kalau jadi beroperasi. Kedua, dapat mengakibatkan ekosistem Komodo terganggu dan berdampak terhadap kehidupan Komodo. Ketiga, makin menurunkan upaya konservasi dibandingkan pariwisata.
Keempat, kebudayaan bahari masyarakat Komodo akan semakin ditinggalkan karena fokus menjadi pelaku wisata." Jelas Umbu Wulang.

Direktur WALHI NTT tersebut juga menyatakan bahwa terdapat indikasi pelonggaran atau tidak diperketat ijin lingkungan di kawasan taman Nasional Komodo yang merupakan tempat habitat asli Komodo.

" Untuk pelanggaran, kami mendapatkan indikasi pelanggi berdasarkan UU no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, misalnya pasal 21 poin e yakni " mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur
atau sarang satwa yang dillindungi." Penekanannya di frasa merusak dan memusnahkan, sarang satwa" Pungkas Dirut WALHI tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Emanuel Konfildus, anggota DPRD Propinsi NTT periode 2019-2020, sebagai mana yang dikutip dalam pers rilis AMMS, mengungkapkan bahwa "dalam pembangunan pariwisata harus memperhatikan tiga unsur utama dalam pembangunan yaitu Martabat, Identitas dan Ekonomi". Katanya.

Ia juga menyoroti soal minimnya komunikasi publik yang menyebapkan simpang siur berita terkait pembangunan TNK. Ia menyatakan perlu adanya keterlibatan publik dalam perencanaan pembangunan TNK.

Sementara itu; Urbanus Sius, Kepala SPTN Wilayah III Pulau Padar, Taman Nasional Komodo sebagaimana yang dikutip dari pers rilis AMMS menyatakan bahwa "yang dilakukan di Loh Buaya, Pulau Padar dan Taman Nasional Komodo adalah penataan sarana dan prasarana. Penataan tersebut tetap mematihi kaidah konservasi." Jelasnya.

Ia juga menjelaskan prisip pembangunan Jurassic Park tersebut bahwa memperhatikan lima prinsip dalam pengelolaan taman nasioal yaitu: "berbasis regulasi (regulation based), berbasis keilmuan (scientific based), berbasis bukti, sejarah dan petunjuk (evidence based), berbasis pengalaman (experience based) dan prisiap kehati-hatian (precountionary principle)." Jelas Urbanus.

Selanjutnya 1 2 3

Baca Juga