Anak-anak SMA Itu Sudah Mulai Ekspresikan Kritik Sastra Lewat Vlog

Akuratnews.com - Di tahun 1980an, Nelson Sulivan, seniman asal New York, merekam dirinya sendiri melalui kamera genggam. Ia bicara bebas, sesukanya saja. Sementara kamera merekam komentarnya itu ketika ia di galeri seni, di club malam, di pasar, ketika ia berjumpa dengan aneka jenis manusia.

Saat itu publik menilai, Nelson memang unik dan itu sekedar hobi pribadi.

Tapi kini, ketika handphone mampu menggantikan kamera genggam, dan semakin banyak citizen net yang merekam diri dalam video, kita kembali teringat Nelson Sulivan.

Nelson termasuk bapak dari tradisi baru yang kini sedang trendy: Vlog. Ini sebutan populer untuk Video log atau Video blog. Semakin banyak generasi milineal yang memilih mengikuti informasi apalagi hiburan dalam bentuk video, ketimbang foto atau teks.

Dalam video, keseluruhan personaliti seseorang tergambar. Tak hanya informasi, tapi di dalam video kita mendengar suara, melihat ekspresi, bahkan bahasa tubuh.

Data menunjukkan trend itu. Perlahan namun pasti video akan semakin mendominasi medium informasi dan ekspresi. Mark Zuckerberg menyatakannya. Lima tahun kedepan, akan lebih banyak informasi di facebook dalam bentuk video.

Youtube sebagai medium video semakin populer. Penonton Youtube menanjak setiap tahun dalam prosentase yang tinggi.

Ungkapan ini semakin populer di kalangan milineal: Ekspresilkanlah dengan Vlog. You are what You Vlog.

Vlog menjadi medium persis seperti yang Nelson Sulivan lakukan di tahun 80an. Komentator bicara menghadap kamera, menceritakan apa saja yang ia anggap penting. Personalitas komentator itu seketika tergambar dalam Vlog.

Informasi di atas yang saya ingat ketika menerima kiriman tak biasa. Sebanyak 25 Vlog anak- anak SMA, yang diseleksi dari 200 Vlog asal Aceh hingga Papua.

Anak- anak SMA itu mengekspresikan kritik sastra melalui Vlog. Menurut para juri dari Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, ini adalah lomba kritik sastra pertama di Indonesia yang menggunakan Vlog.

Asosiasi Guru ini kebetulan menggunakan empat buku puisi esai saya sebagai obyek kritik sastra. Pertama, buku berjudul Atas Nama Cinta. Ini kisah diskriminasi di Indonesia dalam drama cinta, berangkat dari kisah sebenarnya, baik diskriminasi etnik, paham agama, gender, hingga orientasi seksual.

Kedua, buku berjudul “Kutunggu di Setiap Kamisan.” Ini juga berangkat dari kisah sebenarnya: demo kamisan di seberang istana, yang berlangsung setiap hari kamis. Demo ini sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Namun saya fiksikan pula kisah cinta di dalamnya.

Ketiga, buku berjudul Roti untuk Hati. Ini tema paling berat. Ia berangkat dari 22 isu filsafat hidup, agama, hingga kritik sosial. Begitu banyak mitologi yang dikeramatkan menjadi suci.

Keempat, buku berjudul Jiwa Yang Berzikir. Buku ini saya buat selama 30 hari sahur, membaca 30 Juz AlQuran. Setiap satu Juz saya mengambil hikmah serta mutiara. Itu diurai dalam kisah sehari- hari.

Semua buku itu diekspresikan secara khas dalam format puisi esai: puisi dengan catatan kaki. Semua bercirikan historical fiction. Atau lebih tepatnya “true story- fiction.” Semua berangkat dari kisah nyata yang difiksikan.

Kisah nyata itu tercantum dalam catatan kaki. Sementara isi puisinya fiksi.

Saya menikmati menonton Vlog anak anak SMA dari aneka pulau itu terhadap salah satu dari empat buku di atas.

Saya lampirkan empat saja Vlog mereka, yang dipilih juri menjadi juara 1,2, 3 dan harapan.

Vlog Anak SMA Kritik Sastra Denny JA Juara 1 : https://youtu.be/3hsocFuAcUg

Vlog Anak SMA Kritik Sastra Denny JA Juara 2 : https://youtu.be/iGGOOC23uvA

Vlog Anak SMA Kritik Sastra Denny JA Juara 3 : https://youtu.be/uBlQzvKaXuU

Vlog Anak SMA Kritik Sastra Denny JA Juara Harapan : https://youtu.be/s5anVJjXMzg

Penulis: Denny JA

Baca Juga