Opini

Anak Daring, Ortu Darting?

Akuratnews.com - Sejak diumumkan pertama kali kasus covid-19 di negeri ini yaitu awal Maret 2020, hingga saat ini sudah empat bulan kurang lebih rakyat banyak melakukan aktifitas di rumah. Bagi yang bekerja sebagian ada kebijakan WFH dan sebagian lain bekerja seperti biasa ke kantor atau pabrik. Dengan kebijakan Social Distancing, menggunakan masker, rajin cuci tangan dan sebagainya. Bahkan saat ini ada yang mengikuti rapid test dan swab test karena kasus semakin meningkat. Hal ini bagian dari upaya pencegahan dan mitigasi covid-19.

Selain itu, aktifitas belajar anak-anak dipindah ke rumah. Hal ini menjadi ujian tersendiri bagi anak dan para orang tua. Satu bulan pertama adaptasi luar biasa, dua bahkan empat bulan saat ini ada yang semakin terbiasa. Namun, ada juga yang semakin stres dengan kondisi ini. Tanggung jawab mendidik anak, pekerjaan rumah tangga, belum lagi jika anaknya banyak ditambah aktifitas lain memicu emosi bergejolak terutama para ibu.

Lalu bagaimana seharusnya bagi para orang tua terutama ibu menyikapi kondisi ini? Hal utama adalah, kondisikan hati untuk menerima keadaan ini semata karena Allah. Bahwa kondisi ini adalah bagian dari kehendak-Nya. Pandemi yang melanda negeri ini tak mungkin terjadi tanpa izin-Nya, artinya ada pelajaran yang sedang Allah beri bagi hamba-Nya. Apakah semakin taat dan mendekat pada-Nya atau malah semakin menjauh? Ikhlas dan rida menerima takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya.

Jika rasa ridha dan ikhlas ini sudah tertanam dalam hati, paling tidak terus mencoba agar tertanam dalam hati. Akan membawa pengaruh dan energi positif dalam fikiran selama mendampingi anak belajar di rumah. Masalah selanjutnya adalah teknis anak belajar di rumah. Memang, guru memiliki kelebihan ketika mengajar di sekolah. Maka harus ada kerja sama atau sinergi antara orang tua dan guru agar materi bisa tersampaikan dengan baik dan tujuan pembelajaran bisa diraih.
Lalu, apakah salah bagi sebagian orang tua terutama para ibu stres atau darting (darah tinggi) selama mendampingi anak belajar daring di rumah saat pandemi? Tentu hal yang sangat manusiawi, namun jika berlarut-larut tak diselesaikan akan menjadi penyakit bagi para orang tua terutama ibu. Sementara jika para orang tua sakit, maka proses belajar di rumah akan terganggu. Maka harus segera dicarikan solusinya dalam teknis belajar mendampingi anak di rumah. Dari timing, jika seorang ibu ada waktu setelah selesai pekerjaan rumah atau pekerjaan di kantor untuk mendampingi anak belajar di rumah maka pergunakan waktu tersebut dengan sebaik mungkin dan komunikasikan dengan anak dan gurunya.

Dari sisi mood anak, terutama bagi anak yang adaptasi baru masuk sekolah SD misalnya. Bertanya dan komunikasikan dengan anak kapan bisa belajar dengan nyaman dan santai. Walau tetap ada target waktu pengumpulan laporan pembelajaran pada gurunya setiap harinya. Dari sisi konten materi pembelajaran jika menemukan kesulitan, juga dikomunikasikan dengan gurunya anak-anak. Tidak dipendam dan dihadapi seorang diri sehingga bisa menjadi bom waktu.

Dibutuhkan kesabaran ekstra jika dalam mendampingi proses belajar anak di rumah selama daring menemukan banyak kendala atau kesulitan. Misal, sinyal, jaringan, listrik tiba-tiba mati, kuota, mempelajari aplikasi baru atau masih asing misalnya zoom, HP atau leptop sebagai sarana belajar tiba-tiba hang, dan kesulitan anak dalam mencerna materi. Kembali pada poin di atas, mencoba ridha dan ikhlas dengan kondisi ini sehingga energi positif tetap terjaga.

Selanjutnya, jangan lupa terus berdoa agar pandemi ini segera berakhir. Diberi kemudahan selama mendampingi proses belajar daring anak. Tujuan pembelajaran bisa tercapai, anak menjalani dengan baik dan enjoy. Orang tua terutama ibu tidak darting atau stres selama pandemi mendampingi anak daring. Firman-Nya: "Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya." (Q.S.al-Fajr [89]: 27-28). Allahu A'lam Bi Ash Shawab

*Penulis adalah Member Revowriter dan WCWH

Baca Juga