Anggota DPR Sebut PT Indosurya Inti Finance Perampok

Anggota DPR RI fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Effendi Sianipar dan Tuty Suryani saat pertemuan.

Jakarta. Akuratnews - Warga masyarakat yang mengadukan nasibnya karena ditipu oleh PT indosurya Inti Finance terkait pinjaman kredit akhirnya diterima anggota Komisi IV DPR RI fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Effendi Sianipar di gedung DPR-RI Senayan.

Setelah mendengarkan keluhan yang diderita seorang nenek berusia 80 tahun bernama Tuty Suryani, Effendi Sianipar meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan fungsi pengawasannya dan menyelidiki PT Indosurya Inti Finance.

Desakan tersebut disampaikannya karena besar dugaan, Lembaga keuangan non-bank (finance) itu melakukan praktik perampokan berkedok jasa pembiayaan.

"Besar dugaan perampokan terhadap masyarakat, karena pada akhirnya menzalimi debiturnya," kata Effendi Sianipar di Jakarta. Sabtu (21/11/2020).

Efendi juga meminta aparat Kepolisian dan Kejaksaan Republik Indonesia untuk mengawasi jalannya proses perkara dalam menegakkan keadilan.

"Saya akan mendorong aduan dan aspirasi ini sampai ke Komisi III DPR RI untuk dapat memanggil pihak terkait kasus ini," ungkapnya.

Selain itu, Effendi juga meminta Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) V Jakarta untuk meninjau ulang dan membatalkan proses lelang atas objek jaminan dalam perkara tersebut.

"Ini sesuai dengan amanat perundang-undangan yang berlaku," tegasnya.

Sebelumnya, dengan menggunakan kursi roda, seorang wanita Tuty Suryani didampingi anaknya mendatangi Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) DPR RI, Komplek Parlemen Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Jumat (20/11/2020). Kehadiran Tuty untuk menuntut keadilan atas permasalahan yang menimpa dirinya.

Tuty menceritakan bahwa dirinya yang merupakan debitur PT Indosurya Inti Finance (IIF) itu mengaku merugi puluhan miliar rupiah hingga harus kehilangan Hotel Surya Baru kesayangannya.

Ini bermula ketika dirinya hendak merenovasi hotel yang berlokasi di Gambir, Jakarta Pusat pada Juli 2017 lalu, ketika itu, Tuty bersama putrinya, Tien Budiman memberikan jaminan atas dua sertifikat tanah Hak Guna Bangunan (HGB) Hotel Surya Baru sebagai agunan perjanjian kredit dengan PT Indosurya Inti Finance.

“Pengajuan kredit ini kami lakukan untuk merenovasi dan peningkatan fasilitas hotel,” kata Tuty.

Pengajuan pinjaman kredit akhirnya diterima PT indosurya Inti Finance dengan total pinjaman senilai Rp 12,2 miliar.

Namun, realisasi pinjaman yang diterima Tuty hanya sebesar Rp 8,1 miliar.

"Total potongan sekitar Rp 4,1 miliar lebih,” kenangnya sedih.

Lantaran pinjaman diterima hanya sebesar Rp 8,1 miliar, rencana renovasi hotel akhirnya gagal dan Hotel Surya Baru yang dibangunnya sejak puluhan tahun terpaksa harus berhenti beroperasi.

Kendati hotel tidak beroperasi, Tuty dan putrinya tetap memenuhi kewajiban pembayaran hutang sejak bulan Februari 2018 sampai dengan April 2019, keduanya telah melakukan pembayaran cicilan sebesar Rp 4,4 miliar.

Dijelaskan putrinya, Tien Budiman, pada periode bulan Mei 2019 hingga November 2019, keduanya kesulitan membayar angsuran yang mencapai sebesar Rp 293.337.913 per bulan.

"Sekitar Oktober dan November 2019, kami coba melunasi pinjamannya, tapi kreditur tidak memberikan perincian utang," ujar Tien.

Selanjutnya, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tepatnya pada 5 Desember 2019, PT. Indosurya menjual hak tagihnya (cessie) kepada Ade Ernawati, yang identitas dan alamatnya tidak jelas.

Ade Ernawati kemudian diketahui mengajukan lelang atas objek jaminan, yakni Hotel Surya Baru dengan harga Rp 21,8 miliar.

Namun, apabila mengacu pada Laporan Kantor Jasa Penilai Publik Andreas Parlidungan Siregar No. 00190/3.0068-00/PI 12/0373/0XI/2020 tanggal 16 November 2020, Nilai obyek lelang mencapai Rp 83,3 miliar.

"Kami merasa tertipu, hotel kami dilelang sepihak kepada seseorang yang tidak jelas identitasnya," kata Tien sedih. (Akuratnews)

Penulis:

Baca Juga