Penderita Nyeri Tulang Belakang Satu Persen Dari Seluruh Penduduk Dunia, BESS Bisa Jadi Solusi

AKURATNEWS - Jangan sepelekan soal nyeri tulang belakang. Masalah ini juga bisa menurunkan kualitas hidup. Tidak sedikit yang kesulitan beraktivitas karena nyeri tulang belakang yang tidak tertangani dengan baik. Angka penderita nyeri tulang belakang ini menyentuh satu persen dari jumlah populasi manusia di dunia ini.

"Satu persen dari 7,8 miliar penduduk dunia, cukup banyak lho..," ujar dokter Spesialis Bedah Syaraf Klinik Utama Dr Indrajana, dr. Mustaqim Prasetya, SpBS saat Media Gathering di Klinik Utama DR Indrajana, Jakarta, Jumat (10/9).

Ia mengungkapkan, penyebab nyeri tulang belakang cukup banyak, antara lain ketegangan otot atau keseleo hingga ada masalah pada ruas tulang belakang yang salah satunya adalah penyakit degeneratif tulang belakang.

“Beberapa penyakit degeneratif yang bisa terjadi di ruas tulang belakanga adalah penyempitan rongga tulang belakang (stenosis spinal), hernia nukleus pulposus, osteoartritis, dan sendi facet yang menebal,” terang dr. Mustaqim Prasetya.

Dan mayoritas tindakan medis untuk mengatasi nyeri tulang belakang karena saraf kejepit atau Herniated Nucleus Pulposus (HNP) dilakukan dengan teknologi endoskopi Percutaneous Endoscopy Lumbar Decompression (PELD). Tapi belakangan ini ada teknologi terbaru yang dinamakan Biportal Endoscopic Spinal Surgery (BESS).

Lalu apakah teknologi BESS itu?

Dokter Danu Rolian, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf dari Klinik Nyeri Dr. Indrajana menjelaskan, BESS adalah teknologi dengan prosedur minimal invasif saat operasi bedah untuk mengatasi keluhan masalah di tulang belakang. Minimal invasif yang dimaksud, dokter tidak perlu banyak melukai bagian tubuh pasien dengan memasukan berbagai alat ke dalam tubuh. Seperti namanya biportal, yang berarti dua portal (pintu masuk). Satu untuk kamera dan yang satu lagi untuk alat atau probe.

Hasil teknologi ini sangat menguntungkan pasien, karena tingkat kesuksesan yang tinggi dan durasi prosedurnya jadi lebih singkat.

"Jadi, sederhananya BESS ini adalah bedah invasif minimal, bukan bedah terbuka. Portal pertama untuk ‘melihat’ dan portal kedua memudahkan dokter ‘bekerja’ mengatasi masalah yang ada di tulang belakang. Hal ini menguntungkan dokter dan pasien," jelas dr Danu.

Dokter yang kerap melakukan prosedur BESS ini, mengatakan teknik BESS ibarat adanya dua 'pintu' yang membuat lapangan dokter menjadi lebih luas dan dapat mengakses lokasi tulang belakang lebih leluasa dari berbagai sisi.

"Manfaat pada pasien, proses pemulihannya lebih cepat, dan masalah nyeri pada tulang belakang cepat teratasi," papar dr. Danu.

Selain itu, prosedur BESS juga seumpama metode penyempurnaan dari metode endoskopi yang hanya mengandalkan kamera dan memasukan alat ke tubuh untuk dilakukan pembedahan.

"Lewat teknologi ini juga, alat yang digunakan dalam metode endoskopi tetap bisa digunakan dalam prosedur dan sangat membantu, sehingga menyempurnakan metode endoskopi," imbuh dr. Danu.

Sebagai catatan, BESS tidak hanya tidak hanya memperbaiki kondisi bantalan tulang (diskus) tetapi juga dapat melakukan beberapa tindakan sekaligus, yakni:

  1. Dekompresi yaitu mengurangi atau melepaskan tekanan yang berlebihan, terutama
    pada kondisi saraf kejepit.
  2. Mengatasi taji tulang atau bone spur dan penebalan sendi facet.
  3. Memasang implan pada ruas tulang belakang.
  4. Dapat meredam perdarahan bila terjadi.
  5. Mengatasi penebalan jaringan yang kemungkinan menjepit saraf.
  6. BESS ini tak hanya dapat mengatasi hernia nukleus pulposus (HNP), tetapi juga dapat membantu mengatasi stenosis spinal, proses degeneratif tulang belakang, dan masalah lainnya yang berkaitan dengan ruas bantalan tulang belakang.

Adapun biaya prosedur BESS cukup terjangkau, menurut dr. Danu, biayanya berkisar antara Rp85 juta. Sayangnya, karena prosedur ini masih baru maka belum masuk ke dalam tanggungan pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan.

"Kami berharap karena keefektifan metode ini, bisa masuk dalam jaminan BPJS kesehatan," pungkas dr. Danu.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga