Antara Kebijakan, Masalah dan Strategi Efektif Petani Tembakau

Ketua MTCC Ummagelang Retno Rusdjijati

Akuratnews.com -  Dilema petani tembakau yang seakan terombang ambing dengan keadaan akan kebijakan tembakau tentunya harus diurai dengan secermat-cermatnya. Saat cukai rokok dan tata perturannya menjadi sulit dirubah, petani seakan-akan menjadi alasan akan itu semua. Dari mulai ekonomi yang akan terganggu, hingga matapencarian petani yang dinilai akan hilang seiring peraturan industry tembakau yang lebih dikenal dengan rokok, terganggu.

Jika ingin melihat posisi petani dalam pengadaan tembakau, petani tembakau merupakan ujung tombak dalam tata niaga pertembakauan. Namun, pentingnya petani dalam posisinya, tidak serta merta didukung dengan hal positif.

Seperti yang diuraikan oleh Ketua MTCC Ummagelang Retno Rusdjijati, petani tembakau mempunyai posisi tawar rendah dalam mata rantai tata niaga tembakau. Begitu juga petani tembakau merupakan kelompok paling rentan (dari aspek Kesehatan, mengalami green sickness).

“ Faktor yang merugikan petani tembakau seperti halnya karakteristik tanaman tembakau. Yang mana tanaman ini bersifat sebagai tanaman semusim yang hanya tumbuh di musim kemarau. Begitu juga dari sisi pasar, yang mana untuk harga tembakau sifatnya oligopsoni yaitu harga tembakau ditentukan oleh industri rokok yang akhirnya petani mempunyai daya tawar rendah,” ungkap Retno dalam paparannya, 4 Juni 2021.

Dari sisi kebijkan, masih kata Retno, kerasnya usaha petani tembakau kurang mendapat dukungan pemerintah. Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kualitas dan produksi pertanian tembakau, namun Kementrian Perdagangan tidak melakukan pembatasan impor tembakau. Permintaan produk tembakau yang terus meningkat kemudian ditutup oleh impor.

“Jadi, permintaan tinggi tidak berkorelasi positif dengan nasib petani tembakau,” katanya.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga