Apresiasi Anak Haji Bokir untuk Pemprov DKI dan Cerita Perjuangan H Bokir Besarkan Kesenian Betawi

Apresiasi Anak Haji Bokir untuk Pemprov DKI dan Cerita Perjuangan H Bokir Besarkan Kesenian Betawi
Apresiasi Anak Haji Bokir untuk Pemprov DKI dan Cerita Perjuangan H Bokir Besarkan Kesenian Betawi

AKURATNEWS - Pemberian nama Jalan Haji Bokir bin Dji'un dan Jalan Mpok Nori oleh Pemprov DKI Jakarta di wilayah Jakarta Timur, diapresiasi keluarga besar seniman Betawi Haji Bokir.

Salah satu putra almarhum Haji Bokir, Sabar mengatakan, pihaknya merasa sangat bersyukur dan menerima penghormatan yang diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam pengabadian nama seniman Betawi sebagai nama jalan.

"Ya Allhamdulillah ya, kami sekeluarga menerima penghormatan ini, Haji Bokir sudah bukan punya keluarganya lagi tapi ini beliau milik masyarakat Betawi yang konsisten melestarikan kesenian Betawi," ujarnya saat berbincang-bincang dengan AKURATNEWS, Senin, 20 Juni 2022.

Diceritakan Sabar, perjuangan Haji Bokir dalam melestarikan kesenian topeng Betawi yang didalamnya meliputi unsur seni tari, musik dan peran.

Memang tidak semudah membalik telapak tangan, bahkan dikatakan sangat pahit karena hanya mengandalkan hidup dari kesenian dan belum didukung oleh kemajuan Infrastuktur kala itu.

"Meskipun saya gak ngalamin-ngalamin banget, karena kita juga belum tua-tua amat, tapi tau bagaimana perjalananya dari kampung ke kampung buat gedein kesenian, yah pait dah jaman dulu mah, gak ada lampu, jalan rusak dan sebagainya sampai persoalan honor," ucapnya.

Namun menurutnya, hal itu bukan sebuah halangan untuk Haji Bokir dalam membesarkan topeng Betawi sejak masa kolonial, sedari usia 13 tahun.

Hampir seluruh hidupnya dipersembahkan untuk kesenian topeng dan lenong Betawi. Pada mulanya ia sebagai pemain kendang dan rebab.

Kemudian ia mendirikan dan memimpin kelompok topeng Betawi Setia Warga sejak tahun 1960-an hingga akhir hayatnya.

Sejumlah anak didiknya seperti, Haji Malih, Nasir, Mandra, Mpok Nori, Tonah, Bodong dan Madih bisa sukses bersama dari group topeng setia warga tersebut yang sering tampil di TVRI pada tahun 1970-an hingga bermain film layar lebar.

"Ya disitu memang anak didiknya semua, termasuk Baba Haji Mandra semuanya punya group juga pada akhirnya dan jadi artis," kata Sabar.

Selain itu, bukan hanya para personilnya saja yang berhasil menembus industri perfilman, perjuangan Haji Bokir lewat group topeng Setia Warga juga masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Karena Topeng Setia Warga merilis beberapa album studio dan live. Diantaranya berjudul, Kumpul Kebo, Gubuk Derita, Bokir Jadi Bujang, Mabok lagi dan Pintar-Pintar Bodoh.

Menurutnya, semua dialog dalam kaset tersebut direkam secara natural tanpa naskah.

"Namun tidak keluar dari benang merahnya, ada cerita ada pakem, dan semua para pemain ini tektok,"

Ia menuturkan, hampir semua dialog atau lelucon dalam kaset tersebut sangat dikenang dan 'mengena' pada masyarakat Betawi.

Seperti lelucon 'Jakarta Melar' atau Jakarta Fair, Perawan Ngabisin, Bunting Hamil, Dasi Balang, Kentut Kendor, kisah burung bango dan burung tilil.

"Ya banyak lagi lawakannya, itu kalau di sebut lelucon itu orang Betawi pasti tau itu Haji Bokir, Topeng Setia Warga," imbuhnya.

Akhir cerita Sabar menyampaikan, disamping apresiasinya kepada Pemprov DKI Jakarta, pihaknya juga berharap adanya kebangkitan dan kecintaan dari masyarakat Betawi sendiri terhadap seni budaya Betawi yang masih terus eksis hingga hari ini.

"Lebih mencintai lagi Budaya kita, kalau kita yang menekuni seni udah melestarikan mengembangkan ya sudah begitu, tapi kita lebih mencintai lagi, jangan misalnya mau pesta, udah kita mah biasa aja gak usah pake palang pintu, di gedung aja ga usah pake gambang kromong, enggak begitu tuh, karena kalau cinta sama budaya ya dipake budayanya,kan budaya itu ga biasa," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Pemprov DKI Jakarta mengabadikan nama seniman Betawi sebagai nama jalan di wilayah Jakarta Timur.

Jalan Haji Bokir bin Dji'un menggantikan nama Jalan Raya Pondok Gede dan Jalan Mpok Nori kini menggantikan Jalan Raya Bambu Apus, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung.

Tidak hanya Mpok Nori dan Haji Bokir, mendiang pejuang Haji Darip, Entong Gendut, dan Rama Ratu Jaya juga dijadikan nama jalan.

Penetapan nama jalan tersebut berdasarkan Keputusan Gubernur (Kepgub) DKI Jakarta Nomor 28 tahun 1999 tentang Pedoman Penetapan Nama Jalan, Taman, dan Bangunan itu diatur bahwa penamaan jalan dalam rangka penataan dan memberikan identitas.***

Penulis: Kemal Maulana
Editor: Ahyar

Baca Juga