Munaslub ASITA 1971

Artha Hanif : Mengembalikan Asosiasi Sesuai Marwahnya

AKURATNEWS, Tangerang - Bertempat di Ballroom Hotel Atria, Tangerang Banten, Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang diikuti 169 anggota secara offline dan online pada Senin (26/10/2020). Dalam pemilihan yang berlangsung secara demokratis, Direktur Utama Penyelenggara Haji dan Umroh Thayiba Tora, Artha Hanif terpilih sebagai Ketua Umum dengan mengantongi suara mayoritas diatas calon lainnya, I Putu Winastra (Karang Bali Asih Tur), Ophan Lamara (Travelasia Wisata Indonesia) dan Ben Sukma Harahap (Eka Sukma Wisata).

Artha Hanif yang mengakui senang bekerja dan berorganisasi sejak 1999. Kini aktif di sejumlah asosiasi termasuk sebagai Sekjen Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri). Partisipasi dalam Munaslub ini sebagai upaya mendukung asosiasi yang tengah dilanda polemik dualisme. Tidak memiliki ambisi sebagai Ketua Umum, Artha Hanif mengaku menerima amanah dari rekan-rekannya untuk memimpin asosiasi ini melewati masa-masa yang sulit seperti saat ini.

Ia mengakui bahwa kondisi Asita dalam masa cobaan yang berat, baik secara internal dan eksternal. Secara internal, ada polemik yang kini tengah menjalani proses hukum, baik secara perdata dan pidana. Sementara secara eksternal, wabah Covid-19 ini menjadi tantangan besar bagi pelaku industri pariwisata, termasuk biro penyelenggara wisata (BPW). Artha Hanif, mengakui akan menjalankan asosiasi dari nol dan bertekad memastikan asosiasi akan melakukan pembenahan secara internal agar siap menghadapi tantangan kedepannya.

Dijelaskan olehnya bahwa munculnya Munaslub saat ini merupakan buah dari proses yang terjadi didalam ASITA. Permasalahan yang ada bahkan kini sudah memasuki ranah dan proses hukum. Oleh sebab itu, mengantisipasi proses yang bisa berjalan lama sementara disisi lain ada tuntutan agar asosiasi ini harus tetap ada maka diperlukan reorganisasi. Sesuai anggaran rumah tangga, dilakukanlah Munaslub ini. Bagi Artha Hanif, kegiatan ini menjadi modal dan iktiar bagi ASITA untuk bisa terus memberikan ruang yang besar bagi anggotanya dalam berusaha sebagaimana mestinya ditengah wabah yang telah membuat industri ini harus menghadapi sejumlah penutupan.

Sebagai langkah awal paska terpilihnya dia sebagai ketua umum, Artha Hanif menyatakan akan melakukan sejumlah pembenahan internal organisasi. Menurutnya, ini akan menjadi perhatian utama  dimana ia mentargetkan asosiasi bisa sesuai dengan aturan yang ada.

Artha Hanif juga menegaskan bahwa sebagai Ketua Umum ia akan berusaha memperkenalkan ASITA baik secara internal dan eksternal kepada sejumlah pemangku kepentingan. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa ASITA yang dipimpinnya merupakan Asosiasi yang selama ini telah dikenal public dan berdiri sejak 1971.

Selain itu, Ia juga akan memastikan bahwa program kegiatan Asita adalah program yang benar-benar mendukung secara langsung pada pengembangan sektor pariwisata Indonesia. Baik secara nasional (Inbound) ataupun internasional (Exbound). Sinergitas dan kolaborasi anggota dari Aceh hingga Papua, sebagai bentuk pemberdayaan dan pengembangan usaha dimasa kini.

Secara khusus, Artha Hanif akan menyampaikan kepada Kementrian Pariwsiata terkait alokasi dana untuk sektor pariwisata. Menurutnya selama ini dana tersebut telah dikucurkan dari anggaran pemerintah dalam jumlah yang banyak, namun sayangnya hanya sedikit sekali yang diperuntukkan bagi Biro Perjalanan Wisata. Oleh sebab itu, Artha Hanif berharap anggaran sektor pariwisata tersebut bisa diberikan lebih pantas kepada para BPW secara proporsional, khususnya ditengah masa sulit ini.

Menyikapi dualisme yang terjadi saat ini, Artha Hanif meyakini bahwa pada akhirnya semua akan kembali menjadi pilihan masing-masing biro perjalanan wisata itu sendiri. Baik BPW yang sudah menjadi anggota atau yang belum, mereka memiliki pilihan asosiasi mana yang akan mereka yakini. Bagi dia, yang pasti adalah para pengurus asosiasi akan bekerja keras untuk melaksanakan kewajiban bagi para anggotanya.

Terkait dengan sengketa hukum yang tengah berlangsung, Atha Hanif menyatakan bahwa ASITA telah “dirampok” ditengah jalan. Oleh sebab itu asosiasi harus siap untuk memberikan perlindungan bagi para anggotanya dalam menjalani usaha dan berorganisasi kedepannya.

Artha Hanif berharap penyelesaian masalah hukum ini, dapat diselesaikan secara konstitusional dan bukan inkonstitusional. Semenjak proses hukum dijalankan baik secara perdata dan pidana, ia merasa optimis bahwa ASITA 1971 akan memenangkan langkah hukum yang tengah berlangsung. Kita yakin bahwa dilakukan saat ini dapat mengembalikan ASITA kepada kita,

Prose hukum pidana sedang berlangsung, dimana telah memasuki tahapan penyidikan untuk bisa menentukan tersangkanya. Sementara dalam gugatan perdata akan dilakukan panggilan pengadilan pada pihak tergugat, dalam hal ini adalah Rusmiati dkk., pada tanggal 9 November nanti.

Selama masa pandemi yang membuat sejumlah pembatasan dalam 8 bulan terakhir, dikatakan oleh Artha Hanif bahwa banyak anggota ASITA yang mengalami kerugian akibat tanggungan beban. Setidaknya setiap anggota selama ini telah menanggung beban usaha 100 jutaan. Jumlah anggota ASITA sendiri sekitar 4000 anggota. Mau tidak mau, mereka harus bisa melihat masalah ini secara positif dan bersama-sama melakukan kolaborasi untuk membuka sektor pariwisata yang ada, pungkasnya. (HQM)

Penulis: Luqman Hqeem
Photographer:Luqman Hqeem

Baca Juga