Sengketa Pembelian Excavator

Arwan Koty Adukan PT. Indotruck Utama ke BPSK, Tuntut Refund

Wilibrodus Ardi Mau, Tim Kuasa Hukum Arwan Koty. (Foto: Hugeng Widodo/Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Perselisihan atau Sengketa pembelian excavator antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama kembali disidangkan di gedung Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Prov. DKI Jakarta.

Arwan Koty mengajukan permohonan penyelesaian sengketa konsumen ke BPSK lantaran menilai PT. indotruck Utama belum ada niat untuk menyelesaikan tanggung jawabnya menyerahkan 1 unit Excavator Volvo EC 210 total seharga Rp. 1,265 miliar yang sudah dibayar lunas Arwan Koty .

Tim Kuasa Hukum Arwan Koty Wilibrodus Ardi mengatakan, terhadap pembelian barang Excavator, Arwan Koty, hingga kasus ini dilimpahkan ke BPSK belum juga diserahterimakan kepada Arwan Koty.

"Terhadap pembelian barang Excavator, Arwan Koty, kita mintanya refund karena barang itu sampai persoalan ini kita limpahkan ke BPSK, belum diserahterimakan." Terang Wilibrodus kepada redaksi Akuratnews.com seusai sidang di Gedung BPSK, Jakarta, Senin (1/7/2019).

Menurut Wili, Arwan Koty belum menerima 1 unit Excavator Volvo EC210 berikut dokumen-dokumennya. Padahal excavator sudah dibayar lunas. Oleh karena itu salah satu permohonannya adalah refund atau meminta pengembalian dana yang sudah dibayarkan.

"Kalau memang ada ilustrasi bahwa sudah ada pengiriman dan segala macam, kita malah mempertanyakan, dasar dokumen apa pengiriman tersebut? Atau dibikin simple, sederhana, kalau begitu kasih kita dokumen, sehingga kita yakin bahwa barang itu telah terkirim," Kata Wili.

"Karena itu tidak ada, saya pikir.. tidak ada salahnya yaa... dari pihak kami, Pak Arwan Koty, meminta ke BPSK supaya pihak Indotruck itu mau lah berbesar hati mengembalikan uang tersebut. 1 unit harga Rp. 1,265 miliar," Tambahnya.

Wili mengatakan, sebetulnya ada 2 unit excavator yang dibeli keluarga Arwan Koty, dimana satu dibeli Arwan Koty dan satu lagi dibeli oleh Alvin, anak dari Arwan Koty, namun dalam sidang di BPSK, hanya satu saja yang diajukan.

Sementara terkait sidang pemeriksaan yang digelar hari ini, di Majelis sidang BPSK, menurut Wili, sudah seharusnya pihak termohon (PT. indotruck Utama) menghadirkan bukti-bukti valid, namun yang disampaikan pihak termohon (diduga) hanya seperti cerita.

Seharusnya Indotruck menghadirkan bukti-bukti, macam-macam, tapi bukti yang dihadirkan... yaa seperti cerita yang mengatakan sudah ada pengiriman (melalui) forwader, forwadernya adalah saudara Soleh, atas perintah lisan, terus sudah sampai ke port Nabire, diserahkan juga kepada pihak agency, itu pun atas arahan lisan.

"Nah jadi pihak custemer ini, nggak jelas. Artinya dokumennya mana? Kita nggak tau," Papar Wili.

Kalaupun ada tafsiran-tafsiran, menurut dia, itu hanya hasil penyelidikan dari pihak Indotruck yang mengirimkan orang-orangnya.

"Susilo dan Soleh diutus supaya melakukan investigasi disana sampai di Nabire, dari situlah diperoleh keterangan-keterangan. Potongan dari keterangan itulah yang disimpulkan oleh mereka telah terjadi serah terima barang. Misalnya ada keterangan telah diterima Antonius, terus katanya barang ini telah dipakai rekanannya Bu Vini atau rekanannya pak Arwan Koty, tapi hari ini belum jelas benang (merahnya) mana? Dokumennya mana? Buktinya mana?" Kata Wili.

"Nih majelis juga tadi nanya kepada forwader pak Soleh. Dokumennya apa? anda kirim barang ambil dari pihak Yact-nya Indotruck, dokumennya apa? Nggak ada..! Kan timbul pertanyaan, kejanggalannya begini, Indotruck menerangkan bahwa ada S.O.P, kalau ngambil barang itu ada S.O.P, segala macam, tetapi karena ada pembelian langsung dari pak Arwan Koty, maka mereka melakukan kebijakan."

"Pertanyannya, kebijakannya datang dari siapa? Terus kebijakan ini menguntungkan siapa? Atau kebijakan ini urgensinya apa? Karena orang beli ini bukan beli mobil, 200 juta - 300 juta loh, ini 1,265 miliar, Uang besar sekali, terus penyerahan barang tanpa disertai dokumen-dokumen." Terangnya.

"Ya hari ini ada masalah. Karena begitu konsumen mengklaim barang itu belum diterima, dia (PT. indotruck Utama) kelabakan, tidak mampu menunjukan dokumen." Tandasnya.,

Sidang berikut adalah pembuktian dari termohon sebagaimana diminta oleh Majelis BPSK, ada dokumen-dokumen bukti pengiriman barang, dan lain sebagainya untuk menunjukan secara jelas dokumentasi saat penyerahan barang unit ke Forwader atau dari Forwader ke Agency di port Nabire.

"Yang kami tekankan, konsumen itu sangat dirugikan, untuk pembelian barang yang begitu besar, kok bisa serah terima barang yang menurut saya terlalu di bawah tangan. Tidak ada dokumen yang sangat resmi." Kata Willy.

Dalam persidangan, PT. Indotruck Utama mengaku telah menyerahkan Excavator itu kepada pihak Arwan Koty melalui Forwader yang diakui oleh pihak PT Indotruck Utama sebagai forwader yang ditunjuk oleh Arwan Koty. Forwader itu kemudian berdalih telah menyerahkan Excavator ke agency di Papua. Namun PT. Indotruck Utama, maupun saksi forwader, belum dapat membuktikan adanya dokumen kelengkapan atau dokumen penunjang pengiriman Excavator dari Yact di PT. Indotruck Utama hingga ke Nabire. Terlebih menurut keterangan forwader, Excavator tersebut dikirim melalui Kapal Laut.

Majelis sidang BPSK kemudian meminta PT. indotruck Utama menunjukan dokumen-dokumen dimaksud pada persidangan berikutnya yang akan digelar minggu depan.

Sementara itu, pihak PT. indotruck Utama, selaku Pelaku Usaha atau termohon tidak sempat dikonfirmasi redaksi karena langsung beranjak pergi setelah sidang selesai. Hingga berita ini dirilis, berita ini belum terkonfirmasi.

Penulis:
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga