Asob Ahmed Rilis Novel Festival Kesunyian

AKURATNEWS.COM - Anda tidak harus menguasai satu atau

beberapa Teori Sastra Metode Kritik dan Penerapannya, untuk mendekati, membaca dan memahami novel Asob Ahmed. Tanpa bekal ilmu dasar kritik sastra itu, tetap boleh dan sangat dianjurkan malah, untuk membeli dan membaca novel setebal 511 halaman, dan terdiri dari 62 bab ini.

Novel terbitan Rekam Skena Publishing yang posisi editor, lay out, dan cover -nya digarap Ahmad Sobirin, atau Asob Ahmed sendiri itu menunjukkan betapa seriusnya si empunya nama ingin memperkenalkan novel ini ke publik ramai. Hanya Pemeriksa aksara-nya diserahkan kepada Wawan Arif Rahmat. Anak Sastra Undip yang sangat paham skena dunia penerbitan di Indonesia.

Di novel Cetakan pertama, Juli 2022, yang ditulis persona yang citranya terkait dengan even seperti Prambanan Jazz Festival, JogjaRockarta Festival, Batik Music Festival, Mocosik Festival, dan Borobudur Symphony, ini campuran bermacam-macam teori sastra ilmiah yang sering kali saling bertentangan, juga tidak harus kita gunakan sebagai bekal.

Bebas saja. Membaca tinggal membaca saja juga sangat tidak mengapa. Kaidah teori sastra yang baru mulai masuk ke Indonesia, seperti strukturalisme, sosiologi sastra, semiotika, estetika resepsi, dekonstruksi, dan kritik feminis tidak diperlukan dalam mengasup novel ini.

Sebab, di novel karya pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 13 Juni 1976 ini, tidak harus membekali diri dengan ilmu susastra untuk mendekati novel ini. Sehingga cerita ihwal berbagai latar pertunjukan dan konser di tempatnya bekerja, yaitu di Rajawali Indonesia Communication, promotor musik di Jogjakarta, mengalir tanpa beban.

Bahkan bisa menjadi semacam panduan, atau pintu masuk untuk memahami sejumlah persoalan dan dinamikanya saat Rajawali Indonesia Communication mengadakan sejumlah konsernya. Seperti saat ini sedang menggelar Prambanan Jazz Festival 2022, yang telah memasuki angka sewindu.

Jadi baca saja dulu, bahkan tanpa harus tahu teori semiotika sekalipun. Karena novel ini bahkan lebih suka berbicara ihwal senja, daripada sejumlah teori kritik sastra di atas.

Sebagaimana dituliskan Asob Ahmed; "Tidak ada senja di festival musik mana pun yang bisa menandingi senja yang mengiringi alunan komposisi nada yang dipentaskan di depan mahakarya candi Prambanan. Tidak ada sepasang kekasih yang akan
melewatkan momen romantis itu tanpa bergandengan tangan. Pun, tidak ada hati paling nestapa di dunia yang tidak diurapi penghiburan saat menyaksikan senja ajaib di Prambanan Music Festival".

Demikianlah Asob Ahmed menjelaskannya dengan sangat jernih sekali. Karena novel; "Ini hanya kisah sehari-hari biasa dari beberapa orang biasa yang terlibat dan bersinggungan dengan salah satu festival musik terbesar di Indonesia.

Kisah yang berjalan pelan selama tujuh hari mulai persiapan hingga pelaksanaan festival, dan berakhir dengan peristiwa yang akan mengubah jalan hidup semua tokohnya untuk selamanya.

Bermula dari beberapa anak kelas enam SD Negeri Kraton yang menggunakan gadget secara tidak bertanggung jawab, konflik cepat menular antar orang tua murid, keributan serius menjadi berlarut
larut, dan menyebabkan bencana yang tidak terduga.

Pada akhirnya, para orang tua yang seharusnya menikmati konser musisi-musisi terbaik dalam negeri dan beberapa musisi legendaris dunia di depan mahakrya candi Prambanan, justru terlibat pertengkaran sengit, hingga puncaknya menyebabkan seseorang nyaris mati. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab?".

Ya, ini novel sederhana, yang ditulis dengan tingkat ketekunan yang teruji, atau enam tahun. Sehingga menghasilkan karya yang sungguh sungguh. Bukan kaleng-kaleng. Sebagaimana cerita kehidupan di dalamnya. Persis yang dikatakan Asob Ahmed; "Kehidupan tentulah adil, seolah-olah mempunyai tangan-tangan rahasia yang bekerja tak kasat mata, membenarkan segala hal yang terasa salah dan ganjil". (Bb).

Penulis: Irish
Editor: Redaksi

Baca Juga