Bung Omang: Ekonomi Melambat, Pertahankan Daya Beli, Siapkan Lapangan Kerja

Malang, Akuratnews.com - Kelas Belajar Mahasiswa Ekonomi Universitas Negeri Malang menggelar giat berkonsep dialog interaktif Mahasiswa yang dihadiri oleh Dosen dan Peneliti Senior Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha, Dr. Timbul Hanomang Simanjuntak SE MA alias Bung Omang.

Acara yang Mengangkat tema Nasionalisme Ekonomi ini dibuka langsung oleh Kepala Jurusan Ekonomi Universitas Negeri Malang Dr. Imam Muklis SE Msi yang memberikan abstraksi tentang kondisi ekonomi nasional Indonesia.

"Saat ini, untuk konsumsi rumah tangga (Konsumsi RT) mendominasi pertumbuhan ekonomi berkisar 57 persen dari Pendapatan Domistik Bruto (PDB), disusul investasi swasta 32 persen, belanja pemerintah 9 persen dan ekspor impor kurang lebih 2 persen." kata Dr. Timbul Hanomang Simanjuntak SE MA dalam paparannya yang digelar di Cafe Pustaka, Malang, Jawa Timur, Rabu (30/10/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Bung Omang, kondisi global ekonomi yang melambat akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China berdampak langsung ke ekpor Indonesia yang terus melemah atau defisit perdagangan.

Dampaknya, menurut Omang, Investasi asing yang masuk pun menurun karena investor akan mencari negara yang dinilai lebih efisien.

Oleh sebab itu, menurut Omang, dalam upaya mempertahankan lajunya pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5%, maka faktor dominan konsumsi RT dan Investasi dalam negeri (investasi DN) harus dipertahankan dan dipacu untuk ditingkatkan dalam upaya antisipasi melemahnya investasi asing dan ekspor.

"Dalam upaya menopang Konsumsi RT yang tinggi, maka daya beli perlu dipertahankan dengan cara, meningkatkan peran UMKM, Ekonomi kreatif, mempertahankan harga-harga tidak naik, seperti BBM, BPJS, dsb," kata Omang.

"Disamping daya beli, penyediaan lapangan kerja juga harus disiapkan." imbuhnya.

Menurut dia, keadaan ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan melemahnya pertumbuhan dunia menyusul perang dagang AS dan China perlu disikapi dengan kewaspadaan sebagai momentum untuk mempersiapkan strategi baru ekonomi Indonesia melalui jalan Trisakti.

"Dalam jangka panjang, untuk memperkuat fondasi perekonomian nasional, maka perlu penguatan investasi DN dan memanfaatkan pasar DN yang besar, yakni 265 juta rakyat yang selama ini menjadi pangsa pasar impor." katanya.

Menurutnya, pemerataan ekonomi lebih diutamakan dalam upaya tercapainya keadilan ekonomi rakyat sebagaimana tujuan kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam UU Dasar 1945 Pasal 33.

Bung Omang menjelaskan, ada beberapa hal yang diperlukan, yakni:

Pertama, mobilasi investasi DN sebagai kompensasi atas ketergantungan Indonesia pada modal asing dalam upaya mendorong ekonomi nasional. Upaya ini dapat ditempuh dengan dua cara, (1) meningkatkan tax ratio dari 10 persen menjadi 15 persen sehingga penerimaan pajak akan berlipat ganda. (2) dilakukan dengan cara membangun legitimasi dan power pemerintah, di satu sisi dan kepercayaan masyarakat disisi yang lain, sebagai solusi mengatasi adanya 'gap' yang besar yang melekat pada dua kepentingan yang berbeda antara wajib pajak dan pemerintah.

Kedua, Fokus pada pengembangkan produksi DN melalui (1) ekonomi kreatif dan UMKM berbasis digital, (2) membangun usaha koperasi rakyat tidak saja koperasi simpan pinjam, tetapi koperasi dalam berbagai aspek misal koperasi usaha produksi, koperasi tani, dsb, (3) membangun BUMN yang produktif dan bernilai tambah ekonomi dengan pemanfaatan sumber daya DN, (4) memperkokoh SDM yang berkarakter kuat dan memiliki kompetensi kerja.

Ketiga, dengan pengembangan ekonomi melalui pemanfaatan modal DN dan tenaga kerja (SDM) domestik yang berkualitas berbasiskan pada penguatan produksi DN diyakini mampu mengembangan ekonomi nasional dengan titik berat pada pemerataan pendapatan sekaligus meningkatkan pendapatan nasional. (*)

Baca Juga