Opini

Basa Basi Sistem Sekuler Menyelesaikan Masalah Perempuan

Akuratnews.com - Tahun ini untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September. Perayaan tersebut juga sebagai bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan. (Kumparan.com)

Mengingat saat ini tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama. Angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak.

Kesenjangan upah ini memberikan dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi Covid-19.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah, menegaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No. 100 tentang Kesetaraan Upah pada 1958, lebih dari 60 tahun lalu. Pentngnya kesetaraan upah bagi pekerja laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan bernilai sama tidak mengalami perubahan

Ida menyatakan, dengan mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja saat ini, kementerian bersama dengan semua mitra sosial dan organisasi internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja.

"Ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi, dan bukan berdasarkan gender,” ujar Menteri Ida.

Namun tepatkan ide kesetaraan upah ini? mengingat secara kodrat saja laki-laki dan perempuan sudah memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing sesuai dengan perannya masing-masing. Munculnya ide kesetaraan upah sendiri timbul setelah ide kesetaraan gender tak mampu menyelsaikan masalah perempuan, lantas mampukah ini menyelsaikan masalah? atau hanya sekedar basa-basi sistem sekuler yang tak mampu mengakhiri masalah tanpa masalah.

Sesungguhnya perempuan sendiri membutuhkah solusi riil dan mampu mengembalikan fitrahnya sebagai perempuan yang terlahir mulia, dan itu hanya akan didapati ketika solusi yang ditawarkan adalah solusi Islam bukan yang lainnya. Sebab hanya dalam sistem Islam yakni Khilafah perempuan itu dimuliakan. Kendati bekerja adalah mubah (boleh) bagi kaum perempuan namun bekerja apalagi menjadi tulang punggung keluarga bukanlah kewajiban perempuan didalam Islam.

Telah jelas berbagai solusi yang ditawarkan kapitalisme sekuler ternyata tak mampu menuntaskan problematika perempuan. Sebaliknya menjadi biang kehancuran masa depan perempuan dan generasi, solusi yang ditawarkan kapitalisme di satu sisi telah berhasil menarik perempuan berkiprah seluas-luasnya di ranah publik, sebagai penggerak perekonomian negara. Alhasil kerusakan tatanan keluarga dan masyarakat semakin parah.

Jauh berbeda, dalam pandangan Islam perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama, dalam menjalankan perintah Allah dan larangannya. Begitu pula akan kewajiban berdakwah. Sebagaimana firman Allah Swt : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS an-Nahl [16]: 97)

Sebagaimana laki-laki, hak-hak perempuan juga terjamin dalam Islam. Segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak perempuan. Misal, di dalam Islam laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu, beribadah, dan berdakwah. Hanya saja, Islam telah menetapkan fitrah yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang menjadikan di antara keduanya memiliki peran utama yang berbeda. Misal, fitrah perempuan yang dikaruniai rahim oleh Allah SWT, menjadikan memang secara fitrah, wanita lah yang berkompeten untuk melakukan aktivitas pengasuhan untuk anak mereka. Bagi laki-laki Allah SWT menciptakannyai dengan fisik yang kuat, maka mereka yang mendapatkan taklif untuk wajib bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Dan kewajiban ini pun difasilitasi oleh negara, di mana negara menjamin setiap laki-laki untuk bisa bekerja dan menjamin nafkah untuk keluarganya.

Islam menjamin perempuan di ruang publik dengan totalitas, karena Islam mewajibkan wanita menutup aurat. Meskipun fitrah perempuan di rumah menjadi pengasuh anak-anak mereka, bukan berarti Islam melarang mereka untuk beraktivitas di luar rumah. Bahkan, bisa jadi ada peran mereka yang sangat dibutuhkan di masyarakat, misal profesi perempuan sebagai dokter kandungan atau bidan, bahkan yang lebih utama adalah peran perempuan di dunia pendidikan dan sebagainya. Tentunya keberadaan mereka di ruang publik di sistem kapitalis sekarang tidak mendapatkan perlindungan dan penghormatan sebagaimana ketika mereka berperan di dalam sistem Islam. Maka, bisa dipastikan wanita dimuliakan secara sempurna hanya dengan sistem Islam. Wallahu a’lam bi showab

Baca Juga