Bawa 107 Kg Sabu dan 114.699 Butir Ekstasi, Dua Kurir Ditembak BNN

Pontianak, Akuratnews.com - Penyelundupan narkoba jaringan internasional dengan jumlah besar digagalkan petugas gabungan di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimatan Barat (Kalbar). Dalam operasi itu, sedikitnya 107 Kg sabu dan 114.699 butir pil ekstasi diamankan.

Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol Suyatmo mengatakan, kedua jenis narkoba itu diamankan dari dua pelaku yang bertugas sebagai kurir. Identitas mereka yakni Hendri alias Muhamad Idris (39) dan Arnoldus Topan alias Ignasius Petrus Loli (40). Keduanya berasal dari Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

“Mereka dilumpuhkan dengan tembakan di bagian kaki karena berusaha melawan petugas. Baik saat akan ditangkap maupun ketika dibawa ke Pontianak,” ujar Suyatmo saat jumpa pers di Kantor BNNP Kalbar, Selasa (19/3/2019).

Dia menjelaskan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi BNN Kota Singkawang tentang adanya rencana peredaran gelap narkoba dalam jumlah besar dari orang luar Kalbar. Informasi itu langsung ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan pengembangan di lapangan.

Tim gabungan selanjutnya melakukan penyergapan di Jalan Raya Sei Duri, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, Kamis (14/3/2019). Petugas menghentikan mobil Innova silver dengan nomor polisi B 1121 SRK yang dikemudikan tersangka Idris dalam perjalanan ke Pontianak, kemudian dilakukan penggeledahan.

Hasilnya ditemukan 123 bungkus narkoba, yakni 100 bungkus jenis sabu seberat 107 kg dan 23 bungkus pil ekstasi atau sejumlah 114.699 butir.

"Pengakuan mereka, sudah tiga kali mengantarkan barang. Narkoba itu diselundupkan melalui jalur laut dari Batam. Modus tersangka melakukan transaksi barang haram dengan jual beli putus, serta menggunakan identitas palsu,” ujarnya.

Selain dua jenis narkoba dalam jumlah banyak tersebut, petugas juga mengamankan dua unit mobil, satu unit ponsel, beberapa SIM dan KTP asli tapi palsu untuk memudahkan tersangka dalam melakukan aktivitas ilegal tersebut.

Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, dengan terungkapnya kasus transaksi sabu dan ekstasi dalam jumlah besar tersebut, maka memang benar jika Kalbar termasuk daerah rawan. Baik sebagai daerah transit maupun sasaran peredaran narkoba.

"Kami berharap semua pihak peduli terhadap keamanan lingkungannya masing-masing dalam mengawasi dan mencegah agar daerahnya tidak dijadikan sasaran peredaran barang haram," kata Didi.

Menurutnya, ada sekitar 1,2 juta lebih masyarakat yang terselamatkan dengan digagalkannya transaksi tersebut. Yakni dengan asumsi satu gram sabu dapat digunakan delapan orang, maka kalau sebanyak 107 kilogram bisa digunakan oleh sekitar 856 ribu jiwa, kemudian untuk ekstasi satu butir bisa digunakan tiga orang atau sekitar 344 ribu jiwa masyarakat yang dapat diselamatkan.

"Kalau kedua barang haram itu sempat beredar, maka bisa diasumsikan satu Kota Pontianak akan hancur oleh narkotika sehingga mari terus kita gelorakan kepekaan agar dapat mencegah masuknya narkotika di Kalbar," ujar Didi. (Red)

Penulis:

Baca Juga