Rupiah Tetap Tersungkur Di Level 14.237

Bayang Bayang Resesi AS, Menghantui Ekonomi Nasinal

Rupiah
Rupiah

Jakarta, Akuratnews.com – Rupiah konsisten berkinerja terburuk di kawasan regional dalam perdagangan mata uang hari Kamis (28/03). Dibuka melemah 0,18% pada perdagangan di pasar spot ke level Rp 14.215/dolar AS, bahkan rupiah sempat melemah hingga 0,46% ke level Rp 14.255/dolar AS. Pada penutupan perdagangan, rupiah melemah 0,33% ke level Rp 14.237/dolar AS.

Sejumlah mata uang negara Asia bergerak ragamnya. Tanpa memasukkan Rupiah sebanyak 5 mata uang lainnya membukukan depresiasi melawan dolar AS, sementara 5 lainnya membukukan apresiasi. Tarik-menarik antara sentimen positif dan negatif membuat mata uang negara-negara Asia kesulitan menentukan arah.

Sementara dalam perdagangan di Bursa Efek Jakarta, para investor asing membukukan beli bersih senilai Rp 306,2 miiar yang seharusnya bisa mendorong penguatan rupiah. Sayang, sentimen negatif berupa bayang-bayang resesi di AS membuat dolar AS selaku safe haven dipandang lebih seksi ketimbang rupiah.

Kini, pelaku pasar justru kian yakin bahwa AS akan masuk ke dalam jurang resesi. Hal tersebut dapat dilihat dari imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 3 bulan yang semakin meninggalkan tenor 10 tahun. Pada perdagangan hari ini, yield tenor 3 bulan berada di level 2,4403%, sementara untuk tenor 10 tahun berada di level 2,3805%; ada selisih sebesar 5,98 bps.

Fenomena yang disebut sebagai inversi ini merupakan konfirmasi dari potensi datangnya resesi di AS. Pasalnya dalam 3 resesi terkahir yang terjadi di AS (1990, 2001, dan 2007), selalu terjadi inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun yang sebelumnya didahului inversi pada tenor 3 dan 5 tahun. Berbicara mengenai inversi pada tenor 3 dan 5 tahun, hal ini sudah terjadi pada 3 Desember 2018 silam.

Untuk inversi tenor 3 bulan dan 10 tahun, hal ini pertama kali terjadi pada 22 Maret dengan nilai sebesar 0,7 bps.

Resesi di AS memang tak bisa dianggap sepele. Ekonomi Indonesia bisa mengalami perlambatan yang signifikan jika AS benar jatuh ke jurang resesi. Maklum saja, Indonesia banyak bergantung kepada AS sebagai pangsa pasar tujuan ekspor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor non-migas Indonesia ke AS sepanjang 2018 mencapai US$ 17,67 miliar. AS menduduki peringkat kedua sebagai pangsa pasar ekspor non-migas terbesar setelah China.

Saat AS mengalami resesi, maka permintaan atas produk-produk buatan Indonesia akan berkurang karena memang aktivitas ekonomi di sana lesu. Penurunan ekspor ke AS akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan yang pada akhirnya menekan laju pertumbuhan ekonomi.

Resesi di AS terakhir kali terjadi pada tahun 2007 hingga 2009. Pada tahun 2007, ekonomi AS hanya tumbuh sebesar 1,88%, jauh melambat dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,85%. Pada tahun 2008 dan 2009, perekonomian AS terkontraksi masing-masing sebesar -0,14% dan -2,54%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia melandai ke level 6,01% pada tahun 2008, dari yang sebelumnya 6,35% pada tahun 2007, sebelum kemudian melandai lagi ke level 4,63% pada tahun 2009. (HQM)

Penulis:

Baca Juga