Wacana Pemindahan Ibukota

Bayar Dulu Tunggakan BPJS, Baru Pindahin Ibukota!

Jakarta, Akuratnews.com - Kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan Ibukota negara di luar DKI Jakarta dinilai sebagai sebuah keputusan yang irasional dan menciderai perasaan rakyat.

“Memang, wacana pemindahan ibukota sudah lama. Tapi, nasib Pak Jokowi aja belum jelas, kok sudah ambil keputusan strategis. Ini kan juga harus dibahas terbuka dengan DPR yang baru,” tegas ekonom senior, Rizal Ramli di Jakarta, Kamis (2/5).

Lagi pula, sambung Rizal, biaya pemindahan Ibukota negara ke luar DKI Jakarta hingga Rp460 triliun dirasa tak etis jika tetap dipaksakan di tengah kondisi perekonomian negara yang tidak bagus serta banyaknya persoalan pada pelayanan masyarakat.

“Untuk bayar BPJS aja nggak sanggup, kok memindahkan Ibukota. Pak Jokowi sing eling, bayar BPJS dulu, naikan dulu pertumbuhan ekonomi hingga di atas lima persen, naikkan gaji guru honorer dulu, baru bicara pemindahan Ibukota,” tukas mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB ini.

Rizal pun mengingatkan Jokowi agar belajar dari pengalaman Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad yang sukses dalam mengimplementasikan kebijakan pemindahan Ibukota Malaysia ke Putraja setelah perekonomian negeri jiran tersebut bagus dan pertumbuhan ekonominya juga tinggi.

“Pemindahan Ibukota merupakan hal yang biasa, Mahathir memindahkan Ibukota ke Putrajaya. Beliau bisa memindahkan Ibukota karena ekonominya memang bagus, infrastruktur sudah siap. Jadi, kalau Mas Jokowi mau memindahkan Ibukota negara, maka pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan menjadi 8 persen terlebih dahulu,” jelas Rizal.

Kalaupun Indonesia memiliki anggaran lebih, Rizal mengusulkan agar dana tersebut diprioritaskan melanjutkan pembangunan infrastruktur transportasi di Jakarta hingga tuntas.

“Kalau Indonesia ada anggaran Rp460 triliun, harusnya diprioritaskan untuk pembangunan public transport di Jakarta. Sekarang sudah benar nih, ada MRT dan LRT, jadi tinggal diselesaikan sampai tuntas,” tandas Rizal.

Penulis: Rianz
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga