Benarkah Pemerintahan Jokowi Terkuat Sejak Reformasi?

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Jakarta, Akuratnews.com - Banyak dari kita mungkin tidak pernah membayangkan seorang Joko Widodo (Jokowi) yang sosoknya baru mendapatkan perhatian luas setelah isu mobil Esemka mencuat ke publik ini akan memenangkan kontestasi elektoral tertinggi negeri ini, bahkan memenangkannya dua kali berturut-turut.

Menimbang sosoknya yang merupakan outsider, yakni tidak berasal dari elite parpol ataupun sosok yang telah merasakan asam garam politik nasional, ini membuat Jokowi disebut harus bergantung pada sosok Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri selaku parpol utama yang mengusungnya.

Selain Mega, kedekatan Presiden Jokowi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan juga disebut begitu vital. Kanupriya Kapoor dalam tulisannya Indonesian President Treads Fine Line by Empowering Chief of Staff menyebutkan bahwa ditempatkan Luhut berperan sebagai “bumper” untuk mengelola situasi politik yang sulit karena banyaknya pihak berkepentingan di sekitar Presiden Jokowi.

Atas hal ini, analis politik dari Northwestern University, Jeffrey Winters, bahkan menyebut Jokowi sebagai presiden terlemah secara politik sejak masa Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Akan tetapi, di periode kepemimpinan keduanya, Presiden Jokowi justru menunjukkan kekuatan politik yang begitu besar. Dengan keberhasilannya membentuk koalisi raksasa, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio sampai menyebutkan pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan terkuat sejak reformasi.

Ini terlihat jelas dari mulusnya pengesahan Rancangan Undang-udang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (RUU Ciptaker) menjadi UU di parlemen baru-baru ini. Seperti yang diketahui, Omnibus Law adalah produk hukum yang diinisiasi oleh Presiden Jokowi saat pidato pelantikannya pada 20 Oktober 2019 lalu.

Dengan kemampuannya untuk mengonsolidasikan DPR, apa dampak politik yang mungkin terjadi?

Tidak Berfungsinya Trias Politika

Fareed Zakaria dalam tulisannya Biden Understands What Twitter Doesn’t: Democrats Need a Big Tent menyebutkan bahwa Joe Biden tengah melakukan pendekatan big tent atau tenda besar guna melawan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat (AS). Ini adalah strategi dengan menggandeng berbagai segmen guna menyerap dukungan sebesar mungkin.

Strategi Biden ini sama dengan yang diterapkan oleh Presiden Jokowi saat melawan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 lalu. Seperti yang diketahui, koalisi Jokowi-Ma’ruf benar-benar berbentuk koalisi raksasa. Apalagi, setelah terpilih sebagai pemenang, sang rival bahkan dirangkul masuk ke dalam pemerintahan.

Apalagi, dengan PAN dan Partai Demokrat menunjukkan sikap mendua, praktis hanya PKS yang benar-benar memosisikan diri sebagai oposisi. Namun belakangan, Demokrat tampaknya sudah memutuskan untuk menjadi oposisi pemerintahan.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi

Baca Juga