Berhasilkah Jokowi Tiru Strategi Jepang?

Jakarta, Akuratnews.com - Jika terdapat pertanyaan mengenai mengapa manusia dapat mempelajari sesuatu, jawaban umum yang diberikan adalah pada kapabilitas manusia untuk melakukan imitasi atau meniru. Jawaban tersebut, bukan hanya semacam common sense atau pengetahuan umum, melainkan merupakan sifat inheren yang memungkinkan manusia untuk belajar dan beradaptasi.

Andrew N. Meltzoff dan Jean Decety dalam tulisannya What Imitation Tells Us about Social Cognition: A Rapprochement Between Developmental Psychology and Cognitive Neuroscience menyebutkan bahwa dalam temuan neurofisiologis, telah ditemukan bukti psikologis bahwa perilaku meniru telah terjadi sejak manusia baru lahir.

Temuan Meltzoff dan Decety tersebut boleh jadi adalah jawaban untuk menjawab asal muasal kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang justru akan menerapkan new normal pada 5 Juni nanti – yang oleh banyak pihak disebut sebagai pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya, baru-baru ini Jepang tengah disorot oleh banyak pihak karena dinilai berhasil melewati masa darurat virus Corona (Covid-19) tanpa menerapkan kebijakan lockdown ataupun tes masif.

Jika mengacu pada gelagat Presiden Jokowi yang memang menolak penerapan lockdown sejak awal, menyebut tidak ada negara yang berhasil menangani Covid-19 dengan lockdown, ataupun pidatonya pada 22 April lalu yang menyebut mendapatkan briefing setiap hari terkait langkah penanganan apa yang dilakukan oleh negara lain untuk mengatasi pandemi Covid-19, boleh jadi kebijakan new normal tersebut adalah imitasi Presiden Jokowi atas keberhasilan Jepang.

Bagaimanapun juga, dengan episentrum penularan yang terjadi di Jakarta yang notabene merupakan pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi, mengadaptasi kebijakan non-lockdown ala Jepang tentunya sangat masuk akal untuk menjawab persoalan ekonomi ataupun peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Di Podcast Deddy Corbuzier pada 7 Mei lalu, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali juga menyebutkan bahwa persoalan ekonomi memang yang menjadi halangan terbesar Presiden Jokowi untuk menerapkan lockdown. Tuturnya, mantan Wali Kota Solo tersebut sangat risau perihal nasib masyarakat yang mengandalkan penghasilan harian jika lockdown diberlakukan.

Lantas, katakanlah Presiden Jokowi memang benar terinspirasi atau meniru keberhasilan Jepang dalam mengatasi Covid-19 tanpa menerapkan kebijakan lockdown, mungkinkah kesuksesan serupa juga akan diraih?

Budaya adalah Kunci?

Dengan fakta Jepang tidak menerapkan protokol umum seperti lockdown ataupun tes masif, banyak sorotan kemudian berdatangan guna mempertanyakan rahasia apa di balik kesuksesan tersebut.

Kendati tidak menerapkan dua kebijakan umum tersebut, pemerintah Jepang sebenarnya menerapkan beberapa kebijakan dalam mengatasi Covid-19. Satu diantaranya dengan menerapakan tes berbasis klaster, yang mana tes ini lebih menyasar pada kontak yang dilakukan oleh pasien positif Covid-19. Selain itu, dikampanyekan pula Three Cs: confined and crowded spaces, and close human contact – yang mengkampanyekan untuk menghindari ruang terbatas dan penuh sesak, serta kontak jarak dekat.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi

Baca Juga