Berhasilkah Jokowi Tiru Strategi Jepang?

Akan tetapi, menurut Ryuji Koike – asisten direktur Tokyo Medical – kebijakan pemerintah sebenarnya bukanlah kunci yang menjawab mengapa tingkat penularan Covid-19 di Jepang menjadi rendah. Menurutnya, keberhasilan tersebut justru berasal dari habituasi atau budaya masyarakat Jepang yang pada dasarnya memang higienis dan tidak terbiasa dengan kontak secara langsung seperti berjabat tangan dan berpelukan.

Oleh karenanya, tidak mengherankan terdapat simpulan yang menyebutkan bahwa penyebab kasus Covid-19 tinggi di jepang pada awalnya karena pemerintah Jepang ragu untuk menutup jalur penerbangan. Artinya, lonjakan kasus Covid-19 di negeri Matahari Terbit sepertinya merupakan imported cases.

Atas respon pemerintah Jepang yang lambat mengatasi Covid-19, Jeff Kingston dalam tulisannya di The Diplomat sampai menyebutkan bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah gagal dalam tes kepemimpinan karena tidak mampu menelurkan kebijakan penanganan Covid-19 dengan baik dan cepat.

Kembali pada keberhasilan Jepang yang disebut menekan penularan Covid-19 karena budaya dari masyarakatnya. Lantas, jika Presiden Jokowi menerapkan kebijakan serupa, yakni tidak menerapkan lockdown – atau pengetatan PSBB – mungkinkah kesuksesan serupa akan diraih?

Budaya yang Berbeda

Sayangnya, jika benar kunci keberhasilan tersebut terletak pada budaya, sepertinya faktor tersebut yang menjadi kunci akan kegagalan Indonesia dalam menekan penularan Covid-19. Sebagaimana diketahui, berbeda dengan Jepang, budaya masyarakat Indonesia sangat kental dengan interaksi sosial jarak dekat. Merupakan pemandangan umum, bahkan telah menjadi sopan santun tersendiri bahwa berjabat tangan, berpelukan, hingga mengecup pipi merupakan bentuk keakraban yang telah lama membudaya.

Mengacu pada persoalan tersebut, mungkin banyak yang akan menjawab bahwa budaya atau kebiasaan dapat dirubah. Akan tetapi, jawaban tersebut sepertinya memiliki bantahan kerasnya tersendiri.

Terinspirasi dari konsep language game Ludwig Wittgenstein dalam bukunya Philosophical Investigations, filsuf neo-pragmatisme asal Amerika Serikat (AS) Richard Rorty kemudian menerapkannya dalam menjelaskan mengapa tidak terdapat budaya yang lebih superior dari budaya lainnya.

Menurut Rorty, budaya manusia merupakan konstruksi atau buah dari aktivitas berbahasanya. Aktivitas bahasa tersebut kemudian dapat menjadi budaya karena terbentuk kolektivitas dalam suatu komunitas untuk setuju dalam menerapkan budaya terkait – baik disetujui dalam bentuk tertulis maupun tidak. Dengan kata lain, budaya pada dasarnya hanya merupakan konstruksi bahasa yang diamini secara bersama di dalam suatu komunitas masyarakat.

Seperti halnya dalam konsep incommensurability filsuf sains asal AS Thomas Samuel Kuhn, setiap kelompok atau komunitas masyarakat pada dasarnya memiliki paradigma atau budaya yang tidak dapat diperbandingkan satu sama lainnya.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi

Baca Juga