Opini

Berorientasi Industri, Pendidikan Negeri Minus Visi

Ilustrasi Hari Pertama Masuk Sekolah

Akuratnews.com - 'Perjodohan massal’ antara pihak Kampus dan industri yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, dilakukan guna ketercapaiannya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0.

Selain itu keseriusan pemerintah mendanai program ini bukanlah main-main, seperti dikutip dari Lensaindonesia.com, kementerian keuangan (Kemenkeu) menyatakan, “Hal (insentif) itu juga akan terus kami kembangkan untuk membuat para industri tertarik berpartisipasi dengan pihak kampus,” ujar Nadiem dalam video conference, peresmian pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) virtual Tahun 2020. Sabtu (4/7/2020).

Senada dengan itu, sebelumnya Presiden Joko Widodo ikut menanggapi hal ini, sebagaimana dilansir dari laman berita Lensaindonesia.com, beliau mengatakan, "Kerjasama dengan industri bukan hanya memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa, tetapi perguruan tinggi juga bisa bekerjasama untuk penelitian dan pengembangan teknologi, untuk R&D (research and development) di dunia industri sekaligus pengembangan ilmu murni,” ujar Presiden Jokowi. Sabtu (4/7/2020).

Menanggapi hal tersebut, jika kita telisik bersama pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja, bukankah akan melahirkan manusia-manusia pekerja (buruh)?. Sehingga pendidikan minus visi, miskin akan penciptaan lapangan kerja dan terpenting lagi pengutamaan kepribadian yang berkualitas akan jauh dari harap.

Manusia akan dijadikan mesin-mesin pencetak uang, bahkan akan terkalahkan dengan teknologi yang semakin maju, seperti di Cina yang lebih mempekerjakan mesin dibanding manusia. Inilah pendidikan sistem kapitalis, segala sesuatu diukur dengan materi, bahkan manusia dijadikan mesin agar dapat menghasilkan kapital.

Maka tak heran jika sistem kapitalisme-sekularisme akan terus berorientasi pada keuntungan para pemilik modal, tanpa perduli dengan penderitaan rakyat. Inilah salah satu dari minusnya visi.

Pendidikan dalam Kaca Mata Islam

Pendidikan dalam Islam adalah suatu keharusan, Allah mewajibkan setiap individu untuk menuntut ilmu, sehingga tak heran jika umat dituntut untuk pandai dan berakhlak Islami, memiliki gaya berfikir, berperasaan dan akhirnya berpkepribadian Islam, inilah visi yang paripurna. Mencetak generasi cerdas dan peduli adalah suatu keniscayaan hanya dengan sistem Islam.

Allah SWT akan memuliakan dan meninggikan derajat seorang hamba jika memiliki ilmu, sebagaimana firman Allah SWT Surat Al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ............
Artinya :”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”(QS.Al-Mujadalah:11)

Keseimbangan antara iman dan ilmu perlu dimiliki dalam pendidikan Islam, oleh karenanya tak heran, banyak sekali lahir para Imam besar, ulama dan ilmuan Islam yang terkenal dan berpengaruh bagi dunia, baik di bidang kesehatan, eksak dan bahasa.

Mencetak manusia yang visi ke depannya, tidak hanya dunia tapi juga akhirat dan ini hanya dapat dilakukan dengan sistem pendidikan Islam, seperti dalam hadis nabi Muhammad SAW yang artinya:

"Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu." (HR. Ahmad)

Visi besar inilah yang dibutuhkan bagi negeri, mencetak manusia-manusia cerdas beriman dan berkepribadian Islam sehingga mendedikasikan hidupnya tidak pada materi semata, tapi bagaimana dipergunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat dan Islam, serta untuk dunia dan akhiratnya. Inilah visi paripurna yang harusnya diambil oleh negara dunia sebagai mabda (idiologi), yang mengangkat derajat suatu negeri. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

*Penulis adalah seorang praktisi pendidikan

Baca Juga