Biadab, Siapa Otak Pembantaian di Wamena? Begini Kesaksian Korban

Seorang Wanita berjilbab yang mengaku sebagai Saksi dari ganasnya kerusuhan di Papua dan foto pembantaian warga pendatang di Papua. Kini kedua foto ini viral di Medisos terutama WhatsApp. (foto dok. Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Pembantaian warga Minang atau Padang dan Bugis serta suku lainnya termasuk pembantaian terhadap warga Papua di Wamena mendapat respon keras publik. Pembantaian yang mengarah pada genosida itu hingga saat ini belum ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab.

Kelompok separatis yang didukung Organisasi Papua Merdeka (OPM) diduga kuat adalah otak dan dalang pelaku pembantaian, namun begitu tidak ada pernyataan bertanggung jawab dari Kubu OPM dan Sekutunya.

Situasi panas dengan banyaknya kabar yang simpang siur memperdalam konstelasi perpecahan di tanah Papua, terutama setelah terkuaknya pembantaian di Wamena.

Dari berbagai informasi yang diperoleh Akuratnews.com diketahui, proses pembantaian terjadi saat kerusuhan demonstrasi pada tanggal 23 September 2019 pecah di Wamena. Massa demonstrasi meluas dengan membawa berbagai macam senjata seperti, Parang, tombak hingga panahan.

Demonstran itu tidak lagi menyuarakan aspirasi konstitusional politik, namun sudah mengarah pada pembantaian para perantau di Wamena. Sedikitnya 32 orang berbagai suku tewas dalam kerusuhan paling brutal di bumi Papua. Mereka menyandera para perantau dan juga warga Papua sendiri, membakar hidup-hidup beberapa orang, termasuk seorang dokter yang mobilnya dihadang kemudian sang dokter disiram bensin dan dibakar hidup-hidup.

Kekejaman tiada Tara itu tergambar dari beberapa foto yang diperoleh Redaksi dan kesaksian korban yang selamat dari pembantaian.

Kejadian ini menurut Saksi yang kisahnya beredar di Media Sosial, terjadi sewaktu Jaringan Internet di Papua di-"off" kan oleh pemerintah.

Selengkapnya kisah mengharukan korban kerusuhan di Papua.

Kesaksian Korban

Umat muslim dan Pendatang jadi Bulan2an, siapa yang tau itu ??? Tepat di belakang rumah warga OAP (Orang Asli Papua) yang letaknya tepat di belakang kampus... Kami bersembunyi. Semua pintu dikunci rapat... Bapak2 OAP itu (saya tak sempat menanyakan namanya) menyuruh kami ke bagian paling belakang rumahnya yg dibuat seperti honai. Sambil berfikir gemetar harus apa setelah ini.. "saat itu kampus sudah terbakar... Api sudah terasa panasnya... Tak sampai 200mtr jarak kami. Saat tempat ini ketahuan pasti dibakar..

Saat mereka (perusuh) datang akan dibinasakan entah di bacok parang, kapak, di aniaya atau dibakar hidup2... Sempat berfikir saya akan lebih duluan bunuh diri dari pada mati konyol terdzalimi mereka jika ketahuan" pasrah lemas.. akan mati di situ saat itu.

Ayat kursi, sholawat, tasbih tanpa henti saya ucapkan.. Karna saya sadar sudah tak ada yg bisa datang menolong di tempat yg sulit dijangkau itu... Hp di silent,, smua teman sy suruh merapat duduk di bawah agar tidak terlihat masa. Ada teman yg mengintip dr dalam untuk memantau masa sampai dimana..

Lalu smua membisu saat ada beberapa orang mengintai di sekitar tmpat sembunyi kami..

Bapak OAP (Warga Asli) itu membantu menyembunyikan kami mengalihkan perhatian masa ke tempat lain. Selama 1 jam-an, lalu bapak OAP tsb membuka pintu honai dan berkata ada aparat... Sontak saya berlari sekencang2nya keluar dr honai menuju keluar pagar melambaikan tangan dan berteriak "TOLONG PAK".

TNI mnjawab lari mbak cepat sambil berpakaian senjata lengkap. Berlari sekuat tenaga terengah-engah, menerobos pagar kawat, rawa, masuk selokan dengan berseragam rok panjang (saya angkat saja sdh tak peduli lagi) ...sepatu flat yg saya gunakan tertanam di rawa saya tidak lagi hiraukan.. Dengan kaki telanjang berlari menuju jalan besar untk dpt segera sampai di truck evakuasi. Mashaallah.... Saya masih hidup.

Foto yg saya posting saat naik diatas truck. Ternyata banyak siswa SD yg juga bersembunyi bersama gurunya. Mereka menangis sejadi2nya... Suara tembakan seperti pesta kembang api.... Kanan kiri api berkorbar tinggi asap hitam dimana mana.... Sakit sekali hati ini jika teringat perjuangan itu.... Kenapa beginiii????!!!!

Bahkan warga Papua yg muslim pun ttp jadi Korban, Wallohi, tdk ada yg tau hal ini, berapa Ratus nyawa melayang...??? Ribuan...??? Wahai umat muslim, bila kalian tdk mampu membela, doa kan ...doa kan...doa kan...wahai umat..dimana kalian...???

Demikian dikisahkan seorang korban yang tidak diketahui namanya ini, hingga berita dirilis, hanya kisah dan fotonya yang terpampang di media sosial, terutama grup Whatsapp, sementara nasibnya saat ini tidak diketahui.

Benny Wenda Disebut Otak Demonstrasi

Sementara itu, Kepolisian Republik Indonesia sendiri telah menyebut bahwa Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), Benny Wenda disebut sebagai otak demonstrasi yang berujung kericuhan yang terjadi di Kabupaten Wamena, Jayapura, Papua.

Pengamat militer dan intelijen Wawan H Purwanto menyebutkan bila Benny diduga menjadi sumber kegaduhan di Wamena pada Senin 23 September 2019 sepatutnya ada upaya yang dilakukan aparat untuk menegakan hukum.

"Kalau kita tetap kepada pidana KUHP. Terus dilakukan upaya-upaya pendekatan, maupun juga upaya penegakan hukum. Kalau memang terbukti ada pelanggaran, memang harus dilakukan penegakan hukum," kata Wawan lansir situs nasional.

Kalau dari sisi pidana, jika mereka melanggar langsung upayakan penegakan hukum. Namun, kata Wawan, perlu ada pertemuan terkait penegakan hukum terhadap Beny bila benar berperan mendesain dalam penyebaran berita bohong atau hoaks terkait rasialisme sehingga memancing mahasiswa yang baru kembali ke Papua melakukan aksi solidaritas. (*)

Penulis: Hugeng Widodo
Editor: Redaksi

Baca Juga