Terbanyak di Kabupaten Bogor

BNPB Perbarui Data Korban Meninggal Akibat Banjir Jabodetabek Capai 30 Orang

Rumah warga ambruk akibat banjir luapan air kali Ciliwung di RT 05 RW 05 Balekambang, Kramat Jati. Jakarta Kamis (2/1). foto Dany Krisnadhi ANCphoto

Jakarta, Akuratnews.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaharui data korban meninggal akibat banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Hasilnya, hingga Kamis (2/1) pukul 21.00 WIB, tercatat sebanyak 30 orang tewas.

"Data tersebut dikumpulkan oleh BNPB dari pusat krisis Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BPBD, TNI, Polri dan sumber lainnya," ujar Kapusdatinkom BNPB, Agus Wibowo melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (2/1/2020) malam.

Korban meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Bogor yakni 11 orang, kemudian Jakarta Timur 7 orang, Kota Bekasi dan Kota Depok masing-masing 3 orang.

Sementara di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor dan Kota Tangerang, masing-masing satu korban jiwa.

Dia pun merinci penyebab meninggalkan 30 orang tersebut, yakni sebanyak 17 orang meninggal dunia akibat terseret arus banjir, 5 tertimbun longsor, 5 orang tersengat listrik, dan 3 orang mengalami hipotermia.

Agus menambahkan, rapat koordinasi penanganan bencana banjir Jabodetabek mendorong semua pihak terkait berkoordinasi dan saling bersinergi, untuk memudahkan sinkronisasi dan validasi data korban bencana banjir.

Pihaknya mengimbau, warga yang rumahnya masih terendam banjir dan masih bertahan di rumah, agar segera mengevakuasi diri ke tempat lebih aman untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

"Utamakan keselamatan jiwa terlebih dahulu dibanding harta," katanya.

Untuk diketahui, banjir yang melanda wilayah Jabodetabek dipicu oleh hujan deras sejak Selasa (31/12) sore memaksa 31 ribu orang mengungsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa hujan lebat masih berpotensi mengguyur sebagian wilayah Indonesia dalam tiga hari ke depan.

Menurut BMKG, kondisi cuaca itu terjadi menyusul sirkulasi siklonik yang terpantau di Kalimantan Tengah, Samudera Hindia selatan Jawa Timur dan Laut Timor, serta utara Papua.

Kondisi cuaca itu juga dipengaruhi konvergensi atau gerakan angin dalam bentuk arus masuk horisontal ke suatu daerah yang memicu awan tebal penyebab hujan.

Penulis: Redaksi

Baca Juga