Opini

Boikot Produk dan Tinggalkan Sistem Demokrasi-Sekular

Nelly, M.Pd. Dosen dan Pemerhati Sosial Masyarakat
Nelly, M.Pd. Dosen dan Pemerhati Sosial Masyarakat

Akuratnews.com - Miris! pelecehan dan penghinaan terhadap Islam, ajarannya dan Rasulullah Muhammad saw kembali terjadi. Peristiwa berulang ini terjadi tepatnya dilakukan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dengan sengaja dan terang-terangan atas nama kebebasan menghina nabi Muhammad. Tentu saja kejadian ini membuat marah hampir seluruh negeri muslim di dunia. Hingga seruan dan aksi boikot produk Perancis datang dari seluruh dunia muslim.

Presiden Macron mengklarifikasi beberapa waktu lalu bahwa tindakkannya tersebut dipicu oleh pembunuhan terhadap seorang guru di luar Kota Paris yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad pada murid-muridnya di kelas. Menurut Macron aksi pembunuhan ini merupakan serangan terhadap kebebasan berbicara sehingga pihaknya menyebut akan melawan "separatisme Islam" yang ada.

Pernyataannya ini memicu reaksi negatif dari berbagai pihak di dunia, khususnya negara-negara yang dihuni oleh penduduk Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Kuwait, dan lain sebagainya. Seperti di dalam negeri sendiri pada laman berita KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan imbauan kepada umat Islam Indonesia untuk memboikot segala produk asal negara Perancis.

Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia. Seruan boikot MUI dilayangkan melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020 tertanggal 30 Oktober 2020. "MUI menyatakan sikap dan mengimbau kepada Ummat Islam Indonesia dan dunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Perancis," bunyi salah satu pernyataan dalam surat yang ditandatangani Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dan Sekjen MUI Anwar Abbas itu.

Pemboikotan ini sebagaimana yang telah diserukan oleh sejumlah negara lain, seperti Turki, Qatar Kuwait, Pakistan, dan Bangladesh. Boikot ini dilakukan setidaknya hingga Macron mencabut perkataannya dan meminta maaf pada Ummat Islam dunia yang disebut berjumlah 1,9 milyar jiwa di seluruh dunia. Meminta menarik dubes RI di Paris MUI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan cara menarik sementara Duta Besar Republik Indonesia yang ada di Paris.

Pelecehan terhadap nabi Muhammad ini bukanlah yang pertama ini oleh Majalah Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur Muhammad Saw dan didukung oleh presiden Perancis. Walaupun mendapatkan banyak kecaman dari berbagi negara, nyatanya pemerintah Perancis mendukung ulah Majalah tersebut.

Jika ditelaah dengan seksama adanya Islamofobia, yang kebanyakan terjadi di dunia Barat, disebabkan beberapa faktor. Pertama, dalam Alquran sendiri Allah SWT telah mempertegas bahwa sampai kapan pun kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida terhadap Islam dan umat Islam (lihat QS Albaqarah [2]:120).

kedua, yang menjadikan Barat membenci Islam adalah karena Islam merupakan tantangan ideologi yang bertentangan dengan prinsip kebebasan yang mereka emban. Naquib Al-Attas mengungkapkan dalam bukunya, Islam and Secularism, bahwa Islam bukan hanya tantangan bagi kekristenan Barat, tetapi juga tantangan bagi prinsip-prinsip aristotellianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Yunani dan Romawi.

Unsur-unsur itulah yang membentuk komponen dominan, mengintegrasikan elemen-elemen penting dalam berbagai dimensi pandangan hidup Barat. Islam pun dianggap tidak sejalan dengan pandangan hidup mereka. Dr Basim Khafaji mengatakan bahwa Barat melihat Muhammad telah mempersembahkan pemahaman yang mungkin bisa menghancurkan pemikiran Barat dari asasnya, yaitu sentralisasi Allah SWT dalam kehidupan manusia.

Hal itu bertolak belakang dengan teori Barat yang dibangun di atas logika dan akal pemikiran manusia (Sohib Jasim, Akar-Akar Penghinaan Terhadap Islam dalam Pemikiran Barat, 2006). Kebangkitan ajaran Muhammad yaitu tegaknya kembali peradaban Islam yang agung adalah sebuah keniscayaan yang sangat ditakutkan Barat, hingga inilah juga salah satu pemicu Islamophobia yang diciptakan Barat.

Berbagai tuduhan dan serangan negatif terus mereka lontarkan, diantaranya dengan menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama teroris yang sengaja dihembuskan Barat kepada dunia. Inilah wujud kebencian yang nyata dari mereka. Barat sangat menyadari peradaban busuk yang mereka terus pertahankan perlahan akan mati ditelan kerusakannya sendiri.

Sebut saja paham kebebasan berekspresi yang menjadi dalih atas penghinaan Nabi adalah wujud inkonsistennya demokrasi yang begitu mereka agung-agungkan. Inkonsisten demokrasi sangat nyata, sebab pada saat yang sama, Perancis sedang merenggut hak muslim untuk bebas beragama. Dan menjadi hal yang wajar saat muslim melakukan pembelaan terhadap penghinaan tersebut. Sebab ini menurut keyakinan kaum muslim, pembelaan terhadap nabi adalah syariat yang harus dilakukan kaum muslim.

Artinya, sistem aturan kehidupan yang Barat buat dan ciptakan terbukti cacat dan tak layak untuk dipertahankan apalagi di emban oleh kaum Muslim. Selama sistem buatan barat yang berasal dari Perancis yaitu HAM, sekulerisme, demokrasi ini masih menguasai dunia. Maka penghinaan dan pelecehan terhadap Islam, Nabi dan ajarannya akan terus berlangsung.

Di sinilah sebenarnya tak cukup umat Muslim hanya melakukan boikot produk Perancis. Namun hal yang mendasar adalah seluruh umat Islam seluruh dunia bersatu untuk meninggalkan dan mencampakkan sistem aturan buatan Barat dan kembali pada sistem kepemimpinan Islam, sebagaimana Rasulullah Muhammad saw contohkan.

Sebab dengan kepemimpinan Islam yang menerapkan seluruh hukum aturan Islam dalam negara maka, tidak akan pernah didapatkan siapapun yang berani untuk menodai dan menghina Islam, Al-Quran, ajarannya dan Nabi. Sejarah mencatat kisah yang sangat mahsyur tatkala masa kepemimpinan ustmani yang pada saat itu dipimpin oleh khalifah Abdul Hamid II.

Khalifah tidak akan pernah membiarkan ada yang menghina, merendahkan, apalagi melecehkan ajaran Islam, Nabinya, kitabnya. Seperti yang disampaikan khalifah Abdul Hamid II bahwa membela agama itu adalah wujud keimanan dan itu adalah hal yang utama. Pada masa kepemimpinannya, pernah suatu waktu negara Perancis akan melakukan pentas pertunjukkan kartun Nabi Muhammad. Hal tersebut terdengar oleh khalifah, maka pada saat itulah beliau menunjukkan marahnya sebagai wujud kecintaan terhadap Nabi dan pembelaan saat Muhammad Rasulullah dihina sedemikian rupa.

Beliau langsung memanggil utusan negara Perancis, memberikan peringatan dan menyuruh untuk menghentikan pergelaran tersebut. Jika tetap dilaksanakan, maka beliau akan mengerahkan pasukan tempur untuk menghentikan acara tersebut. Melihat kekuatan dan besarnya kepemimpinan peradaban Islam saat itu, maka Perancis pun segera membatalkan acara tersebut.

Sepanjang sejarah peradaban Islam pun tak pernah didapatkan kekerasan, intoleransi, kepada agama lain. Malah keadilan, ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian tercipta dalam negara yang menerapkan sistem aturan Islam. Untuk kehidupan lebih baik dan menjadi umat terbaik tidak ada jalan lain selain hanya kembali pada aturan Ilahi.

Wallahu ‘lam bis shawab

Baca Juga