Opini

Bola Liar Isu Penumpang Gelap Gerindra

Penulis: Nasrudin Joha, (*)

Akuratnews.com - Isu 'penumpang gelap' pertama kali dihembuskan Gerindra dalam sebuah diskusi di Jakarta. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad berkisah soal ada penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra.

Masih menurut Dasco, Prabowo kesal karena ulah para penumpang gelap itu.
Mantan Danjen Kopassus itu, kata Dasco, ingin membuat para penumpang gelap tersebut gigit jari.

Manuver pertama Prabowo, menurut Dasco adalah meminta para pendukungnya agar tak menggelar unjuk rasa saat sidang sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Langkah itu diakukan lantaran setelah sidang MK, masih ada sekelompok orang yang berusaha menghasut Prabowo. Ujar Dasco.

Andre menambahkan, penumpang gelap yang memanfaatkan Prabowo Subianto bertujuan membuat situasi Indonesia kacau. Penumpang gelap juga ingin presiden Joko Widodo disalahkan akibat kondisi itu.

PAN melalui Wakil Sekretaris Jenderal Partai Saleh Partaonan Daulay mengimbau partai Gerindra mengungkapkan siapa para penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang menyudutkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Gerindra diminta untuk membuka seluas-luasnya tentang keberadaan orang-orang tersebut (penumpang gelap).

PAN memandang Perlu diungkap siapa saja mereka, apa motifnya, siapa di belakangnya, dan bagaimana relasinya dengan Prabowo selama kampanye kemarin. Ini tidak boleh berhenti sampai pada isu saja. Saleh mengatakan, isu penumpang gelap yang disampaikan Waketum Gerindra Sufmi Dasco tak bisa dianggap remeh. Sebab, para penumpang gelap itu ingin membuat kekacauan di Indonesia.

Terpisah, PDI Perjuangan mengapresiasi sikap Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang kini menyingkirkan 'penumpang gelap' dalam pencapresannya di 2019. PDIP menilai Prabowo telah menjernihkan dan menempatkan Gerindra di posisi yang tepat pada saat yang tepat pula.

Sementara PPP bersyukur bahwa pascapilpres ini Pak Prabowo dan teman-teman Gerindra juga bersikap tegas terhadap mereka yang masih terus dengan agenda dan cara-cara mereka itu, yakni dengan meninggalkannnya. Mereka menjadi tidak memiliki patron politik pada level nasional yang seperti sosok Pak Prabowo tersebut, kata Sekjen PPP Arsul Sani.

Sejalan dengan PPP, PKB juga mengapresiasi sikap Prabowo yang sadar atas adanya penumpang gelap itu. Namun, baik PPP maupun PKB sepakat agar isu itu diusut tuntas agar tidak menjadi isu liar.

“Info awal ini harus ditindaklanjuti agar tidak sekadar isu, agar hal-hal yang mengancam keutuhan negara bisa diatasi dengan cepat dan baik. Harus ada penegakan hukum yang baik,” kata Wasekjen PKB Daniel Johan (11/8/2019).

Sampai disini, rupanya Gerindra baru sadar kesalahan Dasco dan Andre yang menggulirkan isu penumpang gelap sedang 'dimakan' oleh PAN, PPP dan PKB. Pernyataan penting dari PAN, PPP dan PKB, bukan pada apresiasi pada Gerindra atas kesadaran adanya penumpang gelap itu, tetapi poin utamanya adalah tantangan pada Gerindra untuk mengungkap siapa yang dimaksud penumpang gelap itu.

Gerindra sendiri sudah pasti tak akan berani mengungkap 'siapa penumpang gelap dimaksud' karena Gerindra sadar ini isu sensitif. Saat PA 212 mengkonfirmasi tidak merasa sebagai pihak yang dituduh 'penumpang gelap', Dasco buru-buru mengklarikasi penumpang gelap itu bukan dari elemen ulama tercinta.

Saat ini PAN, PPP dan PKB memiliki sensitifitas yang sama terhadap Gerindra, yakni dianggap menjadi rival politik untuk mendekati ke kubu rezim pasca pengumuman putusan MK. Jika cepat sadar, bukan mustahil Nasdem dan Golkar akan nimbrung menggoreng isu ini.

Tujuan Nasdem dan Golkar tentu saja bukan sekedar memukul Gerindra, tetapi memberi peringatan keras pada PDIP agar jangan mudah melupakan jasa partai yang tergabung dalam TKN Jokowi. Hubungan tak mesra antara PDIP - TKN Jokowi, memicu perseteruan baru dikubu TKN Jokowi.

Gerindra sendiri, hingga saat ini sedang menghitung dampak kerugian politik akibat statement tak perlu yang dikeluarkan Dasco dan Andre. Isu 'penumpang gelap ini' jika terus digoreng, akan menyudutkan Gerindra diantara kubu partai, juga dihadapan barisan umat.

Barisan umat sendiri, yang diwakili oleh Nasrudin Joha sejak awal telah menantang Gerindra untuk buka mulut, dan menjelaskan kepada publik siapa yang dimaksud sebagai 'penumpang gelap'. Bahkan, kubu umat yang diwakili Nasjo tegas terbuka menuding Prabowo-lah yang 'gelap' karena merunduk dan menyerah kepada rezim dengan meninggalkan pendukung dan barisan umat yang telah banyak berjuang dan berkorban.

Meskipun, sekali lagi perjuangan umat sejak awal bukan diakadkan untuk Prabowo. Kebetulan saja, Prabowo saat itu satu aspirasi atas misi memperjuangkan keadilan dan kemakmuran, menolak Pilpres curang.

Diinternal Gerindra sendiri, Iwan Sumule telah menyadari kesalahan fatal sejawatnya, Dasco dan Andre yang mengeluarkan statement tak perlu. Iwan, bahkan menyarankan Dasco untuk berkonsentrasi pada Pilkada Tangsel jika serius ingin menapaki jalan itu.

Semua berpulang kepada partai TKN Jokowi, apakah akan memanfaatkan isu 'penumpang gelap' ini untuk mendepak Gerindra agar menjauh dari PDIP dan memaksa PDIP kembali komitmen dengan TKN Jokowi. Tergantung pula, seberapa cerdas Gerindra mampu mengelola isu. Jika salah dan blunder, wajar saja jika kemudian publik menyebut pimpinan Gerindra sebagai 'Kucing Asia'. (*)

Penulis: ..
Editor: ...

Baca Juga