Bongkar Suap Rolls- Royce di PLN, KPK Diminta Transparan dan Tidak Tebang Pilih

Jakarta, Akuratnews.com - Perusahaan mesin raksasa dunia PT Rolls Royce diduga bukan hanya melakukan suap kepada Mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Dari hasil penyelidikan lembaga korupsi di Inggris, Serious Fraud Office ( SFO), Rolls Royce juga melakukan suap ke pejabat Perusahaan Listrik Negara ( PLN) pada 2007.

Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) juga telah mencium aroma korupsi tersebut berdasarkan laporan pengaduan dari masyarakat.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap laporan suap Rolls Royce ke pejabat PLN.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resource Indonesia (CERI) Yusri Usman, mengatakan, soal suap menyuap bukan hal yang aneh di republik ini, seperti sudah menjadi budaya yang sulit diberantas.

"Kalau KPK menyatakan ada data di PLN, harapan publik diproses hukum saja tanpa tebang pilih," kata Yusri kepada Akuratnews.com, Jumat (27/1/2017).

Yusri menilai, korupsi di sektor energi, faktanya bukan isapan jempol, " Dan terbukti banyak yang sudah menjadi terpidana, persolannya ada yang terungkap dan lebih banyak tidak terungkap," tegasnya.

Seperti diketahui, sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) pada Kamis (26/1/2017) memeriksa Direktur Utama PT PLN ( Persero) Sofyan Basyir untuk membahas proyek-proyek PLN yang menggunakan mesin Rolls Royce, Sofyan mengungkap adanya kejanggalan dengan kontrak Rolls- Royce.

Dia menjelaskan, PLN menggunakan Rolls - Royce dalam pengadaan proyek-proyek PLN pada 2003,2007 dan 2013.

"Pengadaan mesin dan pemeliharaan di Kalimantan, namun semua telah lama sekali," kata Sofyan di Gedung KPK, Kamis( 26/1/2017).

Sementara, kasus suap Rolls - Royce kepada pejabat PLN terungkap dalam putusan pengadilan Inggris atas penyeledikan Serious Fraud Office ( SFO).

Dari putusan pengadilan, perusahaan mobil tersebut terbukti menyuap pejabat PLN dan perusahaan lain yang akan mengikuti tender perawatan dua unit generator di Tanjung Batu, Kalimantan Timur 2007. (Agus)

Penulis:

Baca Juga