BPJS Sinjai Jamin Santunan Korban Kapal Tenggelam di NTT

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sinjai, Ghasali. /Ashari/AKURATNEWS.

AKURATNEWS - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan menjamin pemberian santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada nelayan Sinjai, korban kecelakaan laut di Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sinjai, Ghasali yang ditemui menjelaskan, pihaknya memastikan santunan tersebut diterima para keluarga korban secepatnya.

"Seluruh kelengkapan berkas administrasinya sudah ada dari keluarga korban, hanya saja saat ini kami masih menunggu surat keterangan dari Basarnas NTT," ungkapnya, Jumat (30/7/2021).

Dia juga mengaku bahwa upaya komunikasi yang dilakukan pihaknya, oleh Basarnas masih melakukan pencarian.

"Basarnas disana belum mengeluarkan keterangan, sebab masih melakukan pencarian. Keterangan itu sangat penting, karena jangan sampai klaim sudah kita cairkan, namun korban tiba-tiba ada dan masih hidup, bagaimana?," ucapnya.

Untuk itu, kata Ghasali, saat ini pihaknya masih menunggu dan belum bisa mencairkan klaim kepada ketiga ahli waris korban serta sudah menjelaskan ke mereka agar tetap bersabar menunggu.

Kendati demikian, BPJS Ketenagakerjaan memastikan pencairan klaim paling cepat dilakukan empat bulan berjalan setelah kecelakaan, dan dua tahun paling lama.

"Kami pastikan santunan ketiga korban akan diberikan sampai ke ahli waris, yang besarannya Rp80 jutaan tiap korban. Dua korban diantaranya yang memiliki anak berhak mendapatkan beasiswa pendidikan dari sekolah dasar hingga kuliah. Biaya kuliahnya ditanggung Rp12 juta pertahunnya," jelasnya.

Seperti diketahui, tiga nelayan asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mengalami kecelakaan laut di Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 5 April 2021 lalu.

Kapal mereka tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi tujuh meter atau badai siklus seroja.

Ketiga Anak Buah Kapal (ABK) KM Brasil 77 asal Desa Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur itu adalah Amiruddin, Saiful, dan Abd. Majid.

Saat kapal mereka tenggelam, ketiga ABK ini hilang dalam peristiwa itu.

Kendati sejumlah warga dan pemerintah setempat maupun nelayan, termasuk Kepala Desa Tongke-tongke Sirajuddin ikut berlayar ke lokasi kejadian, namun hingga menjelang pulang, ketiga nelayan asal Tongke-tongke itu tak ditemukan mayatnya.

Penulis: Ashari

Baca Juga