oleh

Bumn Harus Pro Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, Akuratnews.com – MAPMI (Masyarakat Profesional Madani Indonesia) menggelar diskusi publik dengan mengangkat tema Tantangan Dan Peluang BUMN Dalam Hadapi Krisis GLOBAL di Jakarta, Selasa (25/09/2018).

Dalam acara ini nampak hadir antara lain Hendrajit (Global Future Institute), Putra Jaya (eks komisi VI DPR RI), Salamuddin Daeng (AEPI), Abra Lalattov (Indef) Perdana Wahyu (Dosen Univ Yarsi).

Hendrajit mengatakan, skema pergeseran ditingkat ‘global corporate the capitlism’ ada dibaris depan sedangkan pemerintah dibelakang madzhab China dimana siasat atau strategi yang pakai adalah dengan merevitalisasi BUMN menjadi alat ekonomi negara dengan cara dikembalikan sebagai mazhab sosialis Indonesia.

“BUMN harus lebih berpihak kepada masyarakat bawah, tidak mengedepankan kepentingan politik”, tegasnya.

Putra Jaya mantan anggota Komisi VI DPR RI menegaskan, BUMN harusnya kembali kepada peran utama yaitu mensejahterakan rakyat.

Saat ini yang terjadi adalah sektor yang penting diserahkan ke swasta sedangkan peran BUMN dikerdilkan, harus ada kebijakan atau keberanian dari BUMN untuk mengambil peran dalam pengelolaan SDA.

“Fungsi BUMN mengejar keuntungan tidak memperlihatkan keadaan rakyat, sehingga pelayananan kepada rakyat tidak dipertajam”, bebernya.

Sementara Dosen MM Universitas Yarsi, Perdana Wahyu mengatakan Krisis finansial Turki dan Australia akan mempunyai dampak terhadap pemerintah Indonesia, BUMN Perbankan masuk dalam resiko sistematik yang artinya berdampak signifikan terhadap ekonomi nasional.

Adanya perang dagang yang akan berimbas negative terhadap pemerintah Indonesia serta perang mata uang dolar AS dan China.

“Hutang BUMN hari ini lebih tinggi dari utang Negara/ pemerintah, ini akibat fenomena stronger global serta perang dagang yang akan berimbas negative terhadap pemerintah Indonesia”, tuturnya.

Abra Lalattov peneliti Indef menjelaskan, prediksi GP Morgan indikatornya dengan krisis 98 antisipasinya dengan menahan arus modal asing semua sektor yang rapuh.

Sektor real swasta akan melempem dikarenakan rupiah melemah dan pinjaman tinggi akan ada resiko PHK besar besaran dan situasi politik ke depan

Keadaan BUMN saat ini adalah dampak dari andil pemerintah di tahun 2014 bagaimana antisipasinya adalah kembali meluruskan kebijakan kebijakan fiskal, tidak jangka pendek, tidak di ranah populis.

“Di tengah risiko terjadinya krisis global seperti prediksi Bank of International Settlement dan JP Morgan, BUMN harus segera diselamatkan dari berbagai bentuk intervensi pemerintah yang turut menyebabkan tekanan keuangan BUMN”, pungkasnya. (Ysf)

Komentar

News Feed