Buntut Polemik STT Ekumene, Dua Dosen Kritisnya Diberhentikan

AKURATNEWS -  Dua orang dosen tetap Sekolah Tinggi Teologi (STT) Ekumene Jakarta, Dr. Yohanes Parapat dan Dr. Madya Andreas Agus Wurjanto diberhentikan lantaran diduga melaporkan adanya dugaan pemalsuan nilai dan tanda tangan yang bertujuan meluluskan mahasiswa di sekolah tersebut.

Hal ini berawal pada 15 Desember 2021, Yohanes Parapat melaporkan dugaan pemalsuan nilai kepada lima mahasiswa untuk mata kuliah yang ia ajar ke Polda Metro Jaya.

Sebagai dosen ia merasa belum pernah memberikan nilai kepada kelima mahasiswa tersebut. Namun, kelima mahasiswa tersebut tidak saja sudah mengantongi nilai yang entah dari mana, malah sudah diwisuda.

Yohanes melaporkan kasus tersebut dan teregister dengan nomor STTLP/B/6294/XII/2021/SPKT/Polda Metro Jaya.

Dalam laporannya disebutkan, tindakan pemalsuan nilai tersebut telah melanggar Pasal 263 KUHP soal pemalsuan dokumen dan atau Pasal 28 ayat (6) dan (7) dan atau Pasal 42 ayat (4) juncto Pasal 93 UU Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pendidikan Tinggi.

Sementara, Andreas Agus melaporkan pihak STT Ekumene ke Polda Metro Jaya karena diduga memalsukan tanda tangannya untuk dilekatkan pada dokumen kelulusan para mahasiswa.

Laporan beregister nomor STTLP/B/1.195/III/2022/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 9 Maret 2022 terkait adanya pelanggaran terhadap Pasal 265 KUHP tentang Pemalsuan, Pasal 28, 42, dan 93 UU No. 12 Tajun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, serta pelanggaran terhadap Pasal 3 Permenristekdikti No. 59 Tahun 2018 tentang Ijazah, Sertifikat Kompetensi, Sertifikat Profesi, Gelar, dan Tata Cara Penulisan Gelar di Perguruan Tinggi.

Dalam proses penyelidikan, polisi menemui hambatan dalam memanggil saksi. Hal ini tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP).

Disebutkan, salah seorang saksi, Stephanie Erastus, putri Pendeta Erastus Sabdono, penanggungjawab STT Ekumene Jakarta, yang juga termasuk dalam lima mahasiswa yang bermasalah tersebut, tidak memenuhi panggilan penyidik dengan alasan tengah menjalani rawat jalan berdasarkan resume medik dari RS St. Carolus.

"Dari hasil penelusuran kami, ternyata Stephanie Erastus tengah pergi jalan-jalan ke Turki bersama orangtuanya. Yang namanya rawat jalan, maka pasien tengah menjalani observasi, diagnosis, dan pengobatan medik tanpa menginap di rumah sakit, bukan malah jalan-jalan ke luar negeri," ucap Vincent Suriadinata, kuasa hukum Yohanes Parapat dari Nobilis Partnership Law Office, dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (10/6/2022).

Vincent menduga surat medik yang diberikan kepada polisi hanya sebagai bentuk upaya menunda-nunda proses penyelidikan.

"Kok bisa lagi rawat jalan, tapi jalan-jalan ke Turki? Patut diduga Stephanie telah membohongi aparat kepolisian," tuturnya.

Kuasa hukum juga meminta agar polisi memeriksa Dr. Erastus Sabdono sebagai penanggung jawab STT Ekumene Jakarta dan Adithya R.H. Simanjuntak, salah seorang mahasiswa yang belum diberikan nilai oleh Yohanes Parapat tapi dapat mengikuti wisuda pada 25 November 2021.

Di sisi lain, Gilang Dhura kuasa hukum Andreas Agus mengatakan, pohaknya melaporkan pihak STT Ekumene karena telah memalsukan tanda tangannya.

"Penggunaan tanda tangan tersebut tanpa seizin dari saya. Dan, saya tidak pernah dimintai persetujuan dengan cara apapun oleh pihak STT Ekumene," ucap Andreas dalam jumpa pers tersebut.

Pada 28 Mei 2022, keluar surat dari Yayasan Jalan Kebenaran yang menaungi STT tersebut yang isinya memberhentikan kedua dosen tersebut dengan dalih efisiensi dan efektifitas, di mana dikatakan program studi di STT Ekumene Jakarta berkurang, sehingga dilakukan pengurangan tenaga dosen.

"Ini bentuk penzoliman dan menginjak-injak rasa keadilan. Ketika kami menyampaikan suara kebenaran dan coba meluruskan yang salah, malah kami diberhentikan," kata Yohanes dan Andreas.

Pemberhentian tersebut, kata mereka, dilakukan dengan cara sewenang-wenang, tidak berdasar hukum sama sekali.

"Pemberhentian saya dengan alasan efisiensi dan efektifitas hanya alasan yang dibuat-buat. Dugaan saya, diberhentikan karena telah membuat laporan polisi atas dugaan tindak pidana yang terjadi di tubuh STT Ekumene," ucap Yohanes.

Keduanya bersepakat, akan memasalahkan pemberhentian ini dengan segala akibat hukumnya. "Kami akan mempertahankan seluruh hak-hak kami yang dilanggar," tutur keduanya.

Sebelumnya, dalam klarifikasi yang disampaikan kuasa hukum STT Ekumene, Marlas Hutasoit dikatakan, pihaknya menilai laporan polisi yang dilayangkan Yohanes Parapat belum terlihat jelas apa objek laporan dugaan tindak pidana yang dilaporkan, siapa terduga, sebagai pelaku dari dugaan tindak pidana tersebut serta siapa korban dari dugaan tindak pidana tersebut.

"Pihak STT Ekumene selaku lembaga pendidikan yang sah dan memiliki legalitas tetap mendukung langkah pihak penyelidik untuk mengungkap laporan pelapor tersebut secara profesional dan komprehensif, demi mengungkap kebenaran dan keadilan laporan pelapor perlu didalami secara lengkap demi menghindarkan dari tuduhan yang unfair yang dilontarkan secara sepihak oleh pelapor," kata kuasa hukum STT Ekumene.

Kuasa hukum STT Ekumene, Marlas Hutasoit menyampaikan bahwa belum terlihat jelas apa objek dugaan tindak pidana yang dilaporkan, siapa terduga pelaku, hingga korban dari dugaan tindak pidana tersebut.

Marlas juga mengatakan penyidik telah mengundang pihak STT Ekumene untuk meminta klarifikasi terkait laporan tersebut.

"Sampai dengan saat ini status laporan pelapor masih tahap penyelidikan (klarifikasi), sehingga pengakuan pelapor pada beberapa media tentang pemalsuan dan melaporkan lima mahasiswa adalah sikap dan tuduhan yang tergesa-gesa dan mendahului hasil penyelidikan pihak Penyelidik Polda Metro Jaya," kata Marlas.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga