Bursa Saham

Bursa Anjlok Terdalam Selama 12 Sesi Perdagangan

Jakarta, Akuratnews.com - Mengawali perdagangan awal minggu terakhir bulan Maret ini, bursa saham dunia anjlok mencapai palung terdalam di 12-hari ini pada hari Senin (25/03). Pelaku pasar merasa khawatir akan pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini mengirim para investor untuk memilih ke aset safe-haven. Sayangnya, aksi jual ini kehilangan beberapa momentum setelah data yang lebih baik dari perkiraan muncul dari Jerman.

Indeks Iklim Bisnis yang dirilis oleh IFO Institute untuk bulan Maret secara tak terduga naik. Hasil ini memberikan sedikit ketenangan bagi para pelaku pasar setelah data manufaktur Jerman yang suram sebelumnya dirilis pada Jumat (22/03). Hal ini membantu memicu aksi jual global yang memukul pasar saham dan mendorong imbal hasil obligasi acuan utama di bawah nol.

Perhatian pasar lebih tertuju pada inversi kurva imbal hasil obligasi A.S. pada hari Jumat setelah memicu kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar dunia itu menuju resesi. Namun laporan Ifo itu memberikan sedikit semangat. Ini membantu saham Eropa naik dari posisi terendah awal. Paris diperdagangkan flat, FTSE London turun 0,2 %, dan Bursa Frankfurt naik tipis 0,14 % setelah data tersebut dirilis. Perbankan Eropa serta sektor-sektor industri barang & jasa turun 1 %, menutup kerugian perdagangan dalam posisi flat.

Tapi kegelisahan itu masih jauh dari selesai. Hasil perdagangan ditahun 2018 masih mencatatkan kengerian bagi sejumlah investor. Mereka memiliki alasan yang sangat baik untuk meringankan portofolio. Banyak investor telah menyadari sebagian besar dari pengembalian yang diharapkan bisa dilakukan untuk tahun ini. Hal ini menjadi pijakan mereka untuk mengambil keuntungan baru-baru ini demi mengurangi risiko.

Bursa saham di Eropa jatuh mengikuti hasil perdagangan di bursa saham Asia. Sebelumnya, Indek Nikkei Jepang telah jatuh mencapai posisi terendah dalam lima minggu ini. Jatuhnya Nikkei terjadi setelah menyelam 3,1 % selama satu hari, terbesar sejak akhir Desember. Indek Kospi Korea Selatan turun 1,7%. Indeks saham MSCI di seluruh dunia tergelincir 0,5 %.

Data Jerman juga membantu imbal hasil patokan utama, obligasi 10-tahun Jerman pindah kembali ke wilayah positif. Bentang jarak antara imbal hasil Obligasi AS untuk tenor tiga bulan dan 10 tahun berubah positif. Imbal hasil Obligasi tenor 10-tahun berada pada 2,7240 persen setelah imbal hasil terbalik untuk pertama kalinya sejak 2007 pada hari Jumat. Secara historis, kurva imbal hasil yang terbalik, dimana tingkat jangka panjang jatuh di bawah jangka pendek menandai akan hadirnya resesi.

Hasil perdagangan di pasar obligasi merupakan sirene yang sangat menggelegar bagi siapa pun yang mencoba bersikap optimis perkembangan bursa saham. Ini akan menjadi satu-satunya sentiment yang harus difokuskan ke depan, dan sulit untuk membayangkan segala jenis reli bisa terjadi sampai kepercayaan ekonomi stabil dan obligasi berbalik kembali.

Masalah-masalah politik juga menjadi fokus perhatian pasar baik di Amerika Serikat dan Inggris. Dalam perkembangan penyelidikan keterkaitan Rusia dalam Pilpres AS kemarin, penasihat khusus Donald Trump, Robert Mueller menyimpulkan setelah penyelidikan panjang bahwa tidak seorang pun yang terkait dengan kampanye Presiden Donald Trump berkonspirasi dengan Rusia selama pemilihan presiden 2016, menurut ringkasan yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung William Barr pada hari Minggu.

Gejolak politik di Inggris tentang keluarnya negara dari Uni Eropa juga tetap menjadi hambatan pada aset-aset yang berisiko. Perdana Menteri Theresa May mengadakan pembicaraan dengan rekan-rekan senior dan garis keras Brexiteers pada hari Minggu (24/03). Ia mencoba untuk menghidupkan kembali kesepakatan perceraiannya yang dua kali telah dikalahkan Eropa setelah muncul laporan bahwa kabinetnya berencana untuk menggulingkannya.

Melalui surat kabar “Sun”,  Rupert Murdoch mengatakan dalam editorial halaman depan bahwa Theresa May harus mengumumkan pada hari Senin (25/03) bahwa dia akan mundur segera setelah kesepakatan Brexit-nya disetujui.

Pada perdagangan mata uang, Poundsterling Inggris turun 0,2 % lebih rendah setelah tiga hari berturut-turut bergerak liar. Mata uang ini telah tergelincir 0,7 % pada minggu lalu. Yen Jepang sebagai mata uang safe haven, diperdagangkan 0,25 % lebih lembut pada 110,18 per dolar, turun dari posisi tertinggi dalam enam minggu sebelumnya.

Sementara dalam perdagangan bursa komoditi, harga minyak mentah AS turun 13 sen menjadi $ 58,91 per barel. Minyak mentah Brent dipasar berjangka turun 22 sen menjadi $ 66,81. (HQM)

Penulis: Lukman Haqeem

Baca Juga