Bursa Keuangan Masih Berawan, Investor Amankan Diri

Bursa saham masih akan tertekan dalam perdagangan hari ini, begitu juga rupiah. (Foto Istimewa)
Bursa saham masih akan tertekan dalam perdagangan hari ini, begitu juga rupiah. (Foto Istimewa)

Jakarta, Akuratnews.com – Bursa keuangan berduka pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,53% sementara nilai tukar rupiah melemah 0,07% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Jatuhnya IHSG dikala mayoritas bursa saham regional menguat. Indeks Nikkei 225 naik 0,37%, Shanghai naik 0,33%, dan Strait Times Singapura naik 0,02%. Rupiah sendiri melemah bersama dengan mata uang regional, seperti Yuan China  minus 0,02% dan yen Jepang minus 0,11%.

Sejak awal, perdagangan memang sudah diperkirakan akan tertekan. Pelaku pasar takut oleh potensi konflik AS - Arab Saudi terkait pembunuhan Jamal Khashoggi di Turki. Dimana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa pembunuhan Khashoggi merupakan sesuatu yang terencana dan keji. Setelah pidato Erdogan, Trump menyatakan bahwa Arab Saudi mencoba menutupi kasus Khasshogi dengan buruk.  Presiden AS Donald Trump pun sepertinya semakin menunjukkan kekecewaan dan kemarahan kepada Arab Saudi.

Seperti yang diperkirakan, rancangan anggaran Italia akhirnya ditolak oleh Uni Eropa. Brussel menilai defisit anggaran yang mencapai 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) terlalu besar. Namun Italia sepertinya malah menjadi semakin keras. Teranyar, dalam sebuah wawancara radio RTL 102,5, Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini berkeras anggaran ekspansif, yang meningkatkan defisit tahun depan menjadi 2,4% dari PDB (dari target 1,8% PDB), adalah cara untuk menurunkan utang publik.

Perkembangan ini lagi-lagi menciptakan ketidakpastian di pasar. Sebab, investor tentu tidak mau Italia kembali terjebak dalam krisis fiskal seperti pada 2009-2010. Apa yang dilakukan pemerintah Italia saat ini membuat memori investor kembali ke masa-masa gelap itu. Segala ketidakpastian global akhirnya mendorong pelaku pasar menanggalkan aset-aset berisiko seperti saham dan beralih memeluk dolar AS sebagai instrumen safe haven. Hal ini ditunjukkan oleh Indek Dolar yang naik sebesar 0,35% ke 96,298.

Dalam perdagangan hari ini, sejumlah hal perlu dicermati. Pertama hasil perdagangan Wall Street yang 'kebakaran'. Dikhawatirkan akan menjalar ke bursa saham Asia, termasuk Indonesia.

Kedua adalah hubungan AS-Arab Saudi yang semakin tegang. Ketegangan di Timur Tengah ini bisa membuat investor enggan mengambil risiko. Lebih baik bermain aman. Instrumen yang diuntungkan adalah dolar AS.

Trump mulai berani menyebut Pangeran Mohammed Bin Salman kemungkinan ikut terlibat pembunuhan Jamal Khashoggi. AS bahkan mencabut atau tidak mengizinkan pengesahan visa bagi 21 orang warga Arab Saudi.  Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan “Dunia harus tahu bahwa mereka yang terlibat, tidak hanya yang melakukan tetapi juga pihak-pihak yang terkait, harus bertanggung jawab. Sanksi ini bukan yang terakhir dari AS. Bapak Presiden maupun saya tidak senang dengan situasi ini," tegas Mike.

Sentimen ketiga adalah perkembangan di Eropa. Selain Italia, Prancis juga bermasalah dengan keuangannya. Uni Eropa mengirimkan surat kepada Prancis yang berisi peringatan untuk mengurangi utang pemerintah. Pada 2017, rasio utang pemerintah Prancis adalah 97% PDB. Naik dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 96,6%. Untuk menurunkan utang, pemerintah Prancis berkomitmen memangkas defisit 0,6% PDB setiap tahunnya. Namun untuk tahun ini, pemotongan defisit hanya 0,1% dan tahun depan adalah 0,3%. Situasi ini mengindikasikan bahwa tidak hanya Italia yang bermasalah namun juga Prancis, dan jika berlanjut bisa merembet ke negara Eropa lainnya. Risiko ini tentu menjadi perhatian investor.

Sentimen keempat adalah nilai tukar dolar AS yang masih perkasa. Indek Dolar AS naik 0,43%. Langkah investor yang menghindari resiko, dengan memilih Dolar AS akan membuat IHSG dan rupiah merana. Dolar masih menjadi aset safe haven yang dinantikan investor. Potensi kenaikan suku bunga diakhir tahun semakin menambah kilaunya. Loretta Mester, Presiden The Fed Cleveland, menegaskan AS masih jauh dari resesi. Bahkan menurut Mester, data-data ekonomi terkini menunjukkan bahwa ekonomi AS semakin kuat dan berkesinambungan. Oleh karena itu, Mester tidak mengubah pandangannya bahwa kenaikan suku bunga secara gradual tetap menjadi prioritas untuk menjaga ekspansi ekonomi AS yang berkelanjutan.

Apabila penguatan dolar AS pagi terus bertahan, maka akan menjadi kabar buruk buat rupiah dan IHSG. Arus modal yang terpusat ke dolar AS membuat rupiah dan IHSG kekurangan tenaga untuk menguat. Pelemahan rupiah membuat saham-saham perbankan banyak dilepas oleh pelaku pasar.

Saham-saham perbankan yang berguguran adalah BBTN (-5,65%), BBRI (-2,32%), BMRI (-1,56%), BBCA (-1,31%), dan BBNI (-1,05%). Saat saham sektor keuangan, utamanya perbankan, sudah dilepas maka IHSG tidak punya harapan.

Penulis:

Baca Juga